"Kalau Lo kerja di sana, Lo juga tidak perlu bekerja seharian full. Jadi Lo masih ada waktu buat bermain, beristirahat ataupun belajar," tambahku. Daniel menghadapkan wajahnya ke aku. "Bagaimana, Niel?" Papa bertanya. Daniel pasti sedang berpikir tentang apakah ia harus menerima tawaran itu atau tidak. Ini bukanlah perkara yang sudah ia sangka sebelumnya. Ia kira, ia hanya disuruh datang ke sini, tapi ternyata ia malah ditawari pekerjaan. "Maaf, Om, bukannya saya menolak kebaikan Om. Saya sebenarnya mau menerimanya. Cuma, saya tidak mungkin meninggalkan pekerjaan yang sudah membuat saya dan keluarga bisa bertahan hidup sampai sejauh ini. Sekali lagi, maaf Om. Saya belum bisa menerima tawaran itu. Dan terimakasih atas kebaikannya," ucap Daniel panjang lebar. "Daniel...," ucapku lirih. M

