"Nanti aja," katanya. "Jangan nanti-nanti! Karena sesuatu yang Lo sebut nanti, saat waktunya sudah tiba, itu juga akan berubah menjadi saat ini. Dan setelah itu, Lo akan bilang 'nanti' lagi. Begitu seterusnya sampai apa yang Lo tunda itu tak jadi Lo kerjakan," ucapku. Daniel diam. "Ternyata Lo pintar juga berkata-kata," ucap Daniel. "Mama gue penyuka sastra. Wajar saja kalau anaknya juga bisa sedikit-sedikit tentang sastra," ucapku. Daniel tersenyum. "Ya sudah. Silahkan cerita," ucapku lagi. Daniel memakan cilok terakhir yang tersisa. Sampah plastiknya masih ia pegang. Ia tentu tak akan membuang sampah secara sembarangan. Setelah itu, dirinya menatapku dengan sungguh-sungguh dan mulailah ia berbicara. "Bukan karena gue tidak mau berteman dengan mereka, tapi jujur saja, gue benci sama

