"Maksud gue, kok Daniel mau ya pacaran sama Lo? Lo kan orangnya penuh dengan kekurangan. Ada sih kelebihannya, tapi kan cuma sedikit," kata Icha. "Sialan Lo! Mulutnya gak bisa direm sedikit." "Hahaha." Icha tertawa. Selepas itu, bel tanda masuk pun berbunyi. Bersamaan dengan itu pula teman-teman yang lain pun satu persatu mulai masuk kelas dan duduk di bangku mereka masing-masing. Meski begitu, suara bel masuk itu tak bisa menghentikan kedua manusia menyebalkan di pojokan sana dari permainan catur mereka. Sepertinya, hanya gempa bumi lah yang bisa menghentikan kegiatan mereka. "Nanti gue akan nanya-nanya lagi," kata Icha. "Nanya apa pula?" tanyaku. "Tentang Lo dan juga Daniel," jawab Icha. "Hufff." Aku menghembuskan napas pelan. Ada yang aneh dengan Icha. Dirinya mendadak menjadi m

