"Kenapa ragu, Niel?" tanyaku. "Hmm.... Gue rasa, Lo udah mengerti apa jawabannya. Gue nggak perlu memberi tahu Lo," jawabnya. "Cih," decakku. Pasalnya, seorang Daniel Mahendra adalah satu-satunya orang yang ucapannya selalu menggantung hingga selalu juga membuatku merasa penasaran. "Maaf, gue belum bisa menjadi seperti orang yang Lo inginkan. Gue benar-benar tidak mengerti caranya bagaimana menjalani hubungan yang disebut dengan pacaran," ucap Daniel. Aku diam. Beberapa saat kemudian aku mengembangkan senyumanku. Semanis inikah permintaan maaf dari Daniel? Aku tak pernah merasa dia mempunyai salah kepadaku, akan tetapi dia dengan begitu mudahnya meminta maaf kepadaku. Jika dia menyebutku cewek aneh, maka aku juga boleh menyebutnya cowok aneh, karena sikapnya itu benar-benar sangat aneh

