"Hufff.... Soal itu, gue sudah menduganya sejak lama," ucapnya. "Menduga? Maksudnya?" tanyaku tak paham. "Iya. Memang dari dulu gue udah curiga kalau Ryan lah yang ibaratnya menjadi pemimpin mereka," katanya. Kutatap dirinya dengan tatapan tak suka. Bukan karena aku marah ke dia. Hanya saja aku kesal ketika mendengar pernyataannya itu. Dia sudah tahu sejak lama kalau Ryan yang menjadi dalang di balik semua itu, tapi selama itu juga dia malah berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. "Kalau Lo sudah curiga sejak lama, kenapa selama ini Lo cuma diam saja, Niel? Kenapa Lo malah seolah-olah memposisikan diri Lo dalam posisi yang serendah-rendahnya? Kenapa juga Lo lebih memilih untuk selalu dibully? Kenapa, Niel? Lo seharusnya bisa menyelesaikannya ketika Lo sudah tahu siapa otak di balik para

