“Ini pesanan Mbak Lubna dan ini punya Mas Arka.” “Terima kasih, Mas Parjo,” ucap Arka dan Lubna kompak. “Sama-sama, Mbak ... Mas, tapi sebentar ... iki ada yang aneh,” ujarnya dengan logat Jawa yang kental. Arka dan Lubna kompak saling memandang satu sama lain. Aneh? Apanya yang aneh? Mereka kebingungan. “Apanya yang aneh, Mas? Penampilan kita ada yang aneh?” tanya Arka. “Enggak, Mas. Bukan itu. Iki, lho ... biasanya ‘kan Mbak sama Mas kalau mampir gak pernah berdua. Mbak Sonia endak ikut? Sudah lama enggak pernah datang. Lagi sibuk, ya?” Sepasang insan itu seketika saling diam. Kini giliran Mas Parjo yang tampak kebingungan. Pria itu sampai menggaruk kepala. “Ya, sudah ... selamat menikmati, Mbak dan Masnya.” Lubna mendadak tidak banyak bicara. Arka juga. Perempuan itu kehilangan

