Harapan

1412 Kata

Langkah Lubna bergerak ragu, begitu turun dari taksi daring yang mengantarkan ke rumah orang tuanya. Para tetangga yang rumahnya di sekitar pondok, menatap dengan beragam reaksi. “Nembe uih, Neng?” tanya seorang wanita seusia almarhum umminya, begitu keduanya saling berpapasan. “Muhun, Bu. Mangga,” jawabnya ramah, kembali lanjutkan langkah. Semenjak kepergian sang ibu, ini adalah kali pertama Lubna pulang. Perasaan berkecamuk di dalam rongga d**a; rasa takut itu pun menghantui. Langkahnya terhenti di depan gerbang utama yang menjulang setinggi 2 m. Pandangan Lubna kemudian beredar, mencari seorang yang biasa bertugas di depan. Tidak lama dari itu seseorang mulai terlihat setengah berlari. “Teh Lubna ... antosan sakedap, Teh.” Apip, salah satu pengurus pondok memintanya menunggu. Pria

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN