Baru saja Tama duduk di balik meja kerjanya, ponselnya sudah mencari perhatian. Sayangnya, ia tidak bisa mengangkat panggilan itu karena Tama menyimpannya disaku jas dengan mode dibisukan. Sekitar sepuluh kali panggilan tak terjawab dari nomor sang kakak, Sena. Beberapa saat Tama masih termenung dan masih ingin membuncahkan kemarahannya pada Nadia. Bahkna sejak ia menerima telepon dari Bu Vania. Hanya karena saat itu Nadia masih dalam perjalanan, ia menahan dan mengatur emosinya untuk diluapkan pada waktu yang tepat. Tama memang selalu bisa menguasai emosi. Saat Nadia datang pun, Tama masih menahan dan tidak langsung memburunya. Namun, hari ini saat ditengah jam kerja, Tama sudah tidak bisa menahannya lagi. Sebab itulah saat jam istirahat ia langsung meluncur ke rumah untuk membuka bah

