65. Rainbow

2006 Kata

Kai menyeret kakinya menuju tangga darurat bangunan apartemen tersebut. Setidaknya, di sana ia bisa berpikir jernih sejenak. Menjauh dari keramaian di mana tak seorang pun mendapatinya merenung. Tidak setiap orang berminat menaiki tangga saking pemalasnya kebanyakan makhluk bernama manusia di negara enam dua ini bergerak. Bayangkan saja. Untuk sekadar membeli rokok ke warung yang hanya berjarak dua puluh meter, mereka lebih memilih mengendarai motor. Apalagi menaiki tangga darurat? Siapa yang sudi? Tubuhnya masih terasa di awang-awang. Ia terduduk di salah satu sudut dengan menekuk lututnya dan punggung menyandar ke dinding. Benaknya berkecamuk. Tangannya menggigil memegang sehelai kertas hasil tes DNA dengan logo rumah sakit ternama.  Jujur saja. Pernyataan sang kakak yang baru mengaku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN