Seorang gadis berusia lewat dua puluhan menangis tersedu-sedu di atas sebuah makam. Matanya bengkak. Cuping hidungnya memerah. Pipinya belepotan tanah bercampur dengan airmata. Tanah makam itu masih basah, tanda baru hitungan jam tempat itu terbentuk. Taburan bunga ala kadarnya berserakan di atasnya. Sebuah nisan yang terbuat dari batu, menancap di bagian kepala. “Kenapa aku ditinggal sendirian, Bu?!” ratapnya mempertanyakan takdirnya. “Aku nggak sanggup kalau nggak ada Ibu! Aku nggak punya siapa-siapa lagi!” Ia terus meraung, seolah tidak rela hidup sang cinta pertama direnggut secepat ini. Para tetangga dan pelayat sudah pulang karena hari sudah menjelang malam. Bayangan akan menjalani hidup sendirian, membuatnya meratap pilu. Pada siapa lagi ia harus mengadu. Satu-satunya keluarga ya

