62. Bloodline

2080 Kata

Untuk pertama kalinya setelah dua puluh tujuh tahun, Lio terbangun dalam pelukan sang ibu. Rasanya masih tak percaya. Perlahan-lahan luka dan lelahnya mulai terbayarkan. Selain sang ibu telah kembali, ia juga punya kekasih dan saudara-saudara baru yang memperlakukannya layaknya keluarga. Lio perlahan mengelus kening ibunya. Ia menyusuri garis wajah yang telah dimakan usia dengan tatapan matanya. Senyumannya tak berhenti merekah. Rasa haru di dadanya membuncah tumpah ruah. Ia bangkit pelan-pelan agar Karina tidak ikut terbangun lalu bergegas menunaikan kewajibannya. Setelah itu, menyiapkan tiga cangkir teh untuk dirinya dan ibunya serta Alfaraz yang biasanya ikut sarapan bersama. Pria itu tipe pemakan apa saja, tidak mempermasalahkan apakah itu kopi atau teh yang dihidangkan. Menjelang p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN