Bab 6 Keceplosan

1465 Kata
“Sebenarnya kamu kerja di perusahaan mana, Ya? kamu nggak bohong kan sama papa kalau kamu bilang kamu kerja di perusahaan?” “Iya, Pa, Yaya nggak bohong kok, malahan papa kenal sama foundernya,” ujar Shafia mengunyah sarapannya. “Siapa?” “Om Wira,” tukas Shafia santai. Praktis Bayu terbatuk akibat keselek makananya sendiri. Tidak menyangka putrinya bekerja untuk Wira, sahabat sekaligus rivalnya dari dulu, Bayu tahu kalau laki-laki itu memiliki perusahaan alat berat dan bisnis lainnya. “Pelan-pelan makannya, Mas,” ujar sang istri berdiri di belakang suaminya membantu agar berhenti terbatuk. “Terima kasih, Sayang.” Shafia melengos pelan melihat papa dan mamanya. “Kamu bilang Wira? Tapi kenapa laki-laki itu tidak bicara apapun sama papa?” “Yah Nggak tahu pa, lagi pula Yaya mulai semuanya benar-benar dari masukkan lamaran, nggak pakai koneksi apapun dan kayanya om Wira emang nggak tahu kalau Yaya kerja untuk dia, Yaya juga baru sadaranya udah dua bulan kerja di sana.” Bayu mengangguk saja melanjutkan sarapan mereka, ia paham betul dengan alasan putrinya tersebut. “Kenapa kakak nggak ngantor di kantor papa aja?” kali ini pandangan Shafia teralihkan pada adik laki-lakinya, Eril. “Malas, kalau kerja di kantor orang lain aku nggak perlu jadi siapa-siapa cukup jadi diri sendiri, kalau salah nggak perlu merasa terintimidasi dan kalau berprestasi nggak bakal ada yang julid,” jelas Shafia mengingat pengalamannya ketika magang dulu. “Yah nggak usah didengar kak, lagian kita juga nggak bisa milih juga kan mau terlahir dari keluarga kaya gimana.” Shafia tidak membalas ucapan adiknya, toh mereka memliki karakter yang jauh berbeda yang tidak akan pernah ketemu ujungnya. “Kenyangnya, terima kasih sayang untuk sarapan kamu. Selalu nikmat apapun yang kamu buat.” Bayu tersenyum simpul meraih kepala istrinya mengecupnya penuh cinta tanpa memperdulikan dua anaknya yang sudah menatap horror pada orang tua mereka. “ “Geli pah! Sadar umur udah nggak cocok mesra-mesraan, lagian nggak malu apa ada aku sama kak ?” protes Eril ikut menyudahi sarapanya, tiba-tiba perutnya terasa penuh melihat tingkah orang tuanya yang bermesraan tidak tahu tempat. “Hmm Aku sudah kebal melihat papa dan mama seperti itu.” “Kamu yang jomlo, jadi jangan sirik sama yang punya pasangan,” timpa Bayu semakin memanasi kedua anaknya yang betah jomlo dengan mencium istrinya. “Siapa yang jomlo? Enak aja,” sela Shafia tak terima. “Hmm jadi begitu?” “Iya, anak papa ini juga punya pasangan kali pa.” Bayu mengangguk paham kembali duduk di kursinya dan menatap serius putrinya. “Kalau begitu segera bawa laki-laki itu ke sini dan perkenalkan pada papa dan juga mama.” Saat itu juga Shafia terdiam, sepertinya ia salah ucap, belum lagi nada bicara papanya yang mendadak serius, tak hanya papanya, Eril bahkan tampak lebih menyeramkan seolah sedang mengamatinya dalam diam. “Eh, dianya masih sibuk, tapi lain kali bakalan aku kenalin.” “Papa tenang aja, semua bisa Eril atur.” Bayu menggeleng tak terima dengan usulan putranya, sementara Shafia hanya diam tak ingin berkomentar apapun, hanya bisa berharap adiknya tidak serius dengan ucapannya. “Tidak perlu, kakak kamu sudah dewasa dan mereka berdua yang harus mempertanggungjawabkan hubungan tersebut di hadapan kita semua, dan biar kita bisa mengetahui sejauh apa keberanian laki-laki yang sedang terikat hubungan dengan putri papa, apa dia layak untuk kamu atau tidak.” Shafia kehilangan kata-kata, ia merutuki tindakan inpulsifnya tadi. “Jadi kapan laki-laki itu berani menemui papa?” *** Shafia terharu ketika pak Anton menyebut namanya sebagai salah satu orang yang akan ia kenang dalam hidupnya, beliau adalah mentornya ketika awal-awal ia bekerja sebagai staf muda di divisi keuangan. Saat ia mendapat kabar kalau pak Anton akan keluar dan hari ini adalah hari terkahir beliau di kantor, Shafia langsung berangkat ke kantor dan untungnya ia tidak terlambat menghadiri rapat terakhir bersama beliau. “Bapak.” Shafia tidak kuat menahan air matanya ketika melihat senyum yang selalu membuatnya tenang ketika ia harus menghadapi masalah selama di kantor. “Tidak perlu menangis, nanti saya jadi berat hati ninggalin kantor.” “Bapak sehat-sehat yah, kapan-kapan saya mampir main sama adik-adik.” “Rumah saya selalu terbuka untuk kamu dan yang lainnya, anak-anak dan istri saya juga sudah sangat akrab sama kalian semua.” Pak Anton menatap kami semua satu persatu. “Selain itu kalian semua akan mendapat pengganti baru.” Meski masih sedih Shafia membuka lebar-lebar pendengarannya siapa yang bakalan menjadi pengganti beliau, selain itu Shafia melirik kecil ke arah Radhi dari semua orang yang ada di sana tentu laki-laki itulah yang berhak mengisi kursi yang sebentar lagi akan ditinggalkan. “Beliau orangnya.” “Hai semuanya.” Shafia membuka bibirnya sejenak sebelum kembali mengatupkan bibirnya ketika melihat sosok Rizfan yang sedang berjalan ke arah mereka semua. “Sepertinya saya tidak perlu mengenalakn diri kembali bukan? Senang bisa satu tim dengan rekan-rekan semua.” Shafia melirik Radhi, ia tahu laki-laki itu sedikit kecewa dengan keputusan tersebut, namun mereka semua tidak bisa berkata apa-apa. “Untuk sementara waktu saya akan menggantikan posisi pak Anton, saya minta kerja samanya, karena saya juga akan mengisi posisi yang lain.” Disaat semua orang tampak antusias atau mungkin puara-pura antusias, diam-diam Shafia menghampiri Radhi dan memberi semangat pada laki-laki itu tanpa ada satupun orang yang tahu. *** “Shafia, kamu tidak ada kerjaan kan? Setengah jam lagi temui saya di parkiran, saya ada urusan di perusahaan Yudistira corporation kamu dampingi saya ke sana.” Baru saja Shafia berniat meluruskan pinggangnya, ia sudah harus kembali berdiri tegak, hari ini adalah hari pertama laki-laki itu memimpin mereka, dan sudah dihadapkan dengan kerjaan segudang dari laki-laki itu. “Saya, Pak? Tidak salah, Pak? Maaf tapi saya tidak mengerti apapun mengenai pertemuan itu, saya takut justru mempermalukan bapak nantinya,” tolak Aca berusaha sesopan mungkin, sembari sesekali menoleh pada Radhi. “Kamu cukup temani saya saja, ini hanya pertemuan biasa.” “Saya juga memiliki tugas penting lainnya bapak.” Tentu saja pernyataan tersebut hanya bertahan di hatinya saja, tidak mungkin ia mengatakan hal tersebut secara langsung meski ia ingin. “Apa tidak bisa dengan yang lain saja pak?” tanya Shafia mencoba bernegosiasi, setelah melihat sosok Radhi meninggalkan ruangan rapat. “Kamu menolak ajakan saya?” Praktis Shafia terkesiap mendengarnya, dengan terbata Shafia akhirnya mengangguk pelan. “Maaf pak, baik lah saya akan menemani anda.” Meski jengkel, pada akhirnya Shafia hanya bisa mengangguk pasrah. “Baiklah kita akan berangkat setelah jam makan siang, kamu bisa menyelesaikan tugas kamu yang lain terlebih dahulu.” Lagi-lagi Shafia hanya bisa mengangguk pelan berusaha tersenyum ramah, meski dalam hati ia memberontak tak terima. *** “Apa yang kamu lakukan dengan berdiri di depan pintu seperti ini? Saya sudah terlambat lima menit.” Shafia memandang ragu ke dalam gedung yang entah kapan terakhir kali Shafia menginjakkan kakinya di sana, Yudistira Corporation. “Ah iya maaf, Pak,” tukas Shafia menyusul langkah Rizfan yang sudah berjalan lebih dulu, dan Shafia sedikit merutuki kaki laki-laki itu yang jauh lebih panjang dari kakinya. “Pak, jangan buru-buru bisa nggak?” tanya Shafia dengan napas tersenggal. “Atur napas kamu baru berbicara.” Shafia mengangguk paham menetralkan napasnya yang memang memburu. “Pak, sebenarnya apa tujuan kita ke kantor ini?” “Kamu tahu kalau perusahaan ingin mengembangkan sayapnya ke bidang properti?” Shafia mengangguk pelan, ia memang mendengar rumor tersebut. “Itu target yang diberikan papa buat saya, dan saya ingin sedikit bertukar pikiran dengan pemilik perusahaan ini, agar saya bisa menentukan langkah yang tepat.” “Kenapa tidak dengan pak Wira saja, Pak? Saya yakin beliau bakalan memberikan ide yang luar biasa.” “Kamu dengar apa yang saya ucapkan barusan bukan? Ini target dari papa dan saya menganggapnya ini adalah tantangan, kalau saya minta pendapat papa berarti saya kalah sebelum berperang.” Shafia diam saja terlebih pintu lift sudah terbuka dan lagi-lagi Shafia harus tertinggal oleh laki-laki itu. Tidak tahukah dia kalau Shafia memakai rok yang cukup ketat sehingga langkahnya tidak secepat laki-laki itu. “Kakak.” Seketika langkah Shafia terhenti mendengar namanya dipanggil, dan ternyata Rizfan pun menoleh pada sumber suara ternyata itu adalah Eril, entah apa yang dilakukan adiknya itu di sana. “Kakak ngapain ke kantor?” “Ah ini dek, aku lagi ada kerjaan dengan atasan, beliau mau bertemu dengan ‘Pak Bayu’.” Shafia sengaja memberi kode pada adiknya dengan menekan kata pak Bayu, berharap adiknya memahami maksudnya. “Beliau ada di ruangannya, tadi beliau memang mengatakan sedang menunggu tamu penting ruangannya ada di sebelah sana.” “Terima kasih kalau begitu.” “Mari kak, pak.” Shafia mengangguk pelan menatap kepergian adiknya. “Ayo pak, ruangannya ada di sebelah sana.” Shafia mengulurkan tangannya memberikan Rizfan jalan lebih dulu. “Shafia.” “Iya pak?” “Seingat saya, saya belum mengucapkan nama orang yang akan saya temui.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN