Bab 7 Panggilan dadakan

1336 Kata
Shafia hanya diam saja ketika melihat papanya berpelukan dengan Rizfan seolah mereka sangat dekat satu sama lain, dan di saat pelukan itu selesai dengan sopan Shafia mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan papanya memberikan senyum yang hanya bisa dimengerti oleh merek berdua. “Kamu apa kabar selama ini? Om tidak menyangka kamu sudah sangat dewasa sekarang, tampan pula.” Shafia menaikkan alisnya, entah apa maksud ucapan papanya. “Saya baik, Om. Om sama keluarga gimana kabarnya?” “Baik, tapi sekarang rumah om sepi, anak-anak om udah mulai ninggalin rumah, paling kalau pulang nunggu kabar om sakit dulu atau kalau mama mereka udah ngomel-ngomel.” Meski papanya hanya bercerita entah mengapa Shafia merasa kalau papanya sedang menyindir dirinya. “Jadi, kamu ada perlu apa temuin om, Fan?” Shafia tak lagi mendngarkan percakapan mereka, tidak ada yang membuatnya tertarik sehingga diam adalah pilihan yang tepat saat ini. “Sepertinya sekretaris kamu mengantuk, Fan.” Mendengar sindiran papanya, Shafia menghela napas kesal, lagian dari tadi keberadaannya juga tidak dibutuhkan. “Maaf, Pak tapi saya bukan sekretaris pak Rizfan,” sela Shafia sesopan mungkin dengan tidak memutr bola matanya. “Oh bukan? Lalu kalau begitu kamu bekerja di bagian apa?” “Dia staf keuangan yang nganggur, Om makanya saya bawa ke sini.” Shafia tersedak mendengar penuturan ngaur dari Rizfan, jelas-jelas ia sudah menolak ajakan laki-laki itu karena ia masih memiliki pekerjaan lain. “Saya memiliki pekerjaan yah, Pak anda saja yang kurang kerjaan menarik saya ke sini.” Rizfan mengangkat bahunya, seolah pembelaannya bukan sesuatu yang berarti, dan sepertinya kedua laki-laki itu tidak terlalu mempermasalahkan ucapan Shafia barusan, bahkan keduanya kembali melanjutkan perbincangan mengenai “Yaya apa kabar, Om? Sudah berapa puluh tahun tidak bertemu dengannya, pasti gadis itu semakin cerewet.” Pertanyaan tersebut sukses membuat mata Shafia melotot tak percaya, Yaya yang dimaksud laki-laki itu dirinya kan? Tapi kenapa ia tidak ingat kalau pernah mengenal laki-laki itu? “Ah, yah. Dia baik, kamu benar dia semakin cerewet, dan juga tumbuh jadi perempuan yang sangat cantik.” Shafia memalingkan wajahnya ketika papanya seolah berkata padanya. “Lain kali saja, Om, sekarang Rizfan harus menyelesaikan target dari papa terlebih dahulu.” Shafia mengode papanya untuk diam seolah mereka tidak pernah berkenalan sebelumnya. “Terima kasih om, sedikit banyak nya Rizfan sudah memiliki gambaran harus seperti apa kedepannya, lain kali Rizfan mampir ke rumah bersama papa.” Setelah hampir satu jam mereka berbincang mulai dari candaan, serius, sampai dengan membahas hal random, akhirnuya Rizfan memutuskan untuk segera pulang. “Rizfan.” “Iya, Om?” “Kamu tidak berniat minta nomor Yaya mungkin?” Shafia melebarkan bola matanya ke arah papanya, apa-apaan papanya itu? “Tidak perlu, Om, nanti saja aku sendiri yang meminta langsung padanya.” Kali ini pandangan Shafia tertuju pada Rizfan yang tersenyum aneh pada papanya. “Baiklah, kalau begitu.” “Mari pak.” Shafia menundukkan kepalanya cukup rendah pada papanya sebelum akhirnya menyusul langkah Rizfan yang sudah berjalan lebih dulu. *** Selama perjalanan pulang menuju kantor, Shafia hanya memilih diam dan tidak berniat memulai pembicaraan apapun karena perasaannya kini berkecamuk oleh banyak hal termasuk laki-laki yang ada di sampingnya kini, hingga tanpa terasa mereka sudah tiba di halaman kantor. “Shafia,” Panggilan itu menghentikan gerakan Shafia yang hendak membuka pintu mobil “ Yah, Pak? Ada apa, Pak?” “Kamu tidak merasa punya hutang penjelasan pada saya?” Shafia mengernyitkan keningnya tidak mengerti maksud dari kalimat laki-laki itu. “Maksudnya pak? Hutang apa yang anda maksud? Saya rasa tidak ada.” Shafia mengerjabkan matanya beberapa kali mencoba mencerna apa maksud dari ucapan Rizfan padanya. “Tidak ada, lupakan saja turunlah saya masih harus ke tempat lain terlebih dahulu. “Shafia?” “Eh? iya pak? Ada yang bisa saya bantu?” Tidak jadi, turunlah, kekasih kamu udah nunggu tuh.” Pandangan Shafia teralihkan pada sosok Radhi yang sedang berdiri di depan gedung kantor. Shafia mengangguk pelan, kalau gitu saya permisi dulu, Pak.” Tanpa memperdulikan jawaban laki-laki di sebelahnya, Shafia segera membuka pintu mobil dan tersenyum lebar ke arah Radhi, meski tidak ada gestur yang senormal rekan kerja. *** Aca tak menyangka dengan kehadiran Radi di depan apartemennya. Entah kapan laki-laki itu berdiri di sana lengkap dengan stelan kantornya tadi pagi. “Rad?” panggil Shafia pelan menyentuh pundak kekasihnya. Tampaknya laki-laki itu tertidur sembari menunggunya. “Oh hai, Sayang, aku ketiduran yah?” tanya Radi dengan mata yang masih memerah. Shafia mengulurkan tangannya membantu merapikan rambut Radi yang berantakan. “Udah nunggu dari tadi, hmm? Masuk yuk.” Radhi mengangguk pelan mengulurkan tangannya, yang langsung disambut oleh Shafia. “Aku mandi bentar yah, kamu kalau mau lanjut istirahat bisa di kamar.” Radi menggeleng pelan merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. “Aku di sini saja, bangun kan aku setelah kamu selesai.” Shafia mengangguk pelan tak lupa dengan senyum manis andalannya. “Baik lah kalau gitu aku mandi bentar,” pamit Shafia melepas tas dan ponselnya sebelum ke kamarnya. Shafia tersenyum simpul mendapati Radhi terlelap dengan tangan kanan di atas kepala, menutupi kedua matanya dan tangan kirinya di atas perut penuh otot yang selalu membuat Shafia salah fokus. Seletah membetulkan letak kaki Radhi yang mengantung, Shafia memilih berjalan ke dapur, entah kemana perginya lelah yang sedari tadi Shafia gaungkan. Kini justru berganti menjadi semangat memasak. Shafia tersentak ketika merasakan seseorang memeluknya dari belakang yang tidak lain adalah Radhi. “Kenapa tidak membangunkan aku?” Shafia merasakan bahu kanannya terasa berat karena laki-laki itu menumpukan kepalanya di sana, namun Shafia tidak protes sama sekali. “Kamu tidurnya lelap banget, sekarang lepas dulu, mandi sana biar segar, setelahnya kita makan malam, masakan ku hampir selesai.” Radhi menggeleng pelan membuat Shafia kegelian, namun berusaha menahannya. “Aku mau pelukin kamu.” “Nanti bisa Rad, aku mau fokus masak dulu perutku sudah lapar.” “Baiklah aku mandi.” Lagi-lagi Shafia hanya bisa mengangguk pelan dan menyelesaikan masakannya untuk makan malam mereka berdua. *** Tak ada yang memulai pembicaraan usai makan malam beberapa menit lalu, Shafia langsung membuka laptopnya menyelsaikan tugas yang seharusnya ia selesaikan tadi siang, dan harus tertundah karena Rizfan menariknya ke kentor papa Bayu, begitu pun Radhi, laki-laki itu tampak sibuk dengan ponselnya. “Sayang.” “Hmm?” tanya Aca sembari fokus dengan emailnya. “Kamu lagi ngerjain apaan sih?” mendengar nada tak suka dari kekasihnya, Shafia hanya tersenyum kecil. “Kerjaan aku belum selesai, bentar lagi yah.” Shafia mengulurkan tangannya ke wajah Radhi, namun fokusnya tetap pada kerjaannya. “Sayang.” “Iya?” “Menurut kamu, pak Rizfan ganteng?” Mendengar itu Shafia mengernyitkan keningnya. “Kenapa kamu nanya gitu?” “Jujur aku enggak suka lihat kamu dekat-dekat sama beliau.” “Aku enggak ada niat mau dekat sama beliau, dan enggak pernah sama sekali.” “Bagus kalau gitu.” “Rad, kerjaan aku belum selesai!” protes Shafia ketika Radhi menarik laptopnya. “Aku kangen kamu, pacar kamu lagi datang itu mau mesra-mesraan sama kamu, kerjaannya lanjut besok aja, oke?” Shafia mendengus pelan, meski begitu ia tidak menolak sama sekali, ia membiarkan Radhi melakukan apapun yang diinginkan laki-laki itu. Bahkan Shafia tidak menolak sama seklai ketika Radi mulai merebahkan tubuhnya di atas sofa, dengan mulut yang saling mencecap. Mererka saling mendamba satu sama lain, bahkan Shafia tidak mempedulikan tangan Radi yang sudah menelusup dalam piyama satinnya, membiarkan laki-laki itu mengeksplor punggungnya dengan mulut yang masih bertaut. Seolah melupakan posisi mereka saat ini, baik Shafia maupun Radi sama-sama terbakar dengan permainan yang mereka ciptakan sendiri. Tangan Shafia tak tinggal diam meremas kuat ketika Radi mulai memberikan sensasi berbeda pada area lehernya bahkan ia melenguh pelan ketika Radi menghisap kulit lehernya. “Rad sebentar,” pinta Shafia ketika mendengar ponselnya berdering sedari tadi. Tapi seolah tidak memperdulikan ucapannya, Radhi justru semakin gencar membungkam mulut Shafia dan mengabsen rongga mulut Shafia menggunakan lidahnya. “Radi stop, ku mohon.” Pinta Shafia di sela napasnya yang memburu. Buru-buru Shafia melihat ponselnya dan sudah ada lebih 5 panggilan tak terjawab dari Rizfan. “Hallo pak?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN