Andre POV 2
Sakit di punggungku tidak ada artinya dibanding harus kehilangan kamu Gea, semua orang yang ku tanyai tidak memberikan jawaban, aku ingin kamu Gea. Tiba-tiba drap langkah terdengar dan seseorang menyibakan tirai penghalang bangsalku di IGD ini. Aku terkesiap dan matakku tak berkedip, ini mimpikah? Ini nyatakan? Geaku dia baik-baik saja dan ada di hadapanku sekarang. Tanpa basa-basi Geaku memelukku, aku sedikit meringis karena lukaku, dia menangis di pelukanku.
"Haiii..." Aku memeberanikan diri bersuara menyaki kan dia benar-benar Geaku.
"Honey" suaranya tercekat, di selingi air mata. Aku mengecupnya. Gadis imut ini ingin sekali aku mengantonginya kemana pun aku pergi.
"Tidak apa-apa" Ucapku terbata karena tidak terbiasa menggunakan bahasa negara Gadisku. Dia tersenyum dan mengamatiku lekat-lekat, dia mengacak-ngacak rambutku seperti itu lah cara dia mengekspresikan kekesalannya atau pun emosi-emosinya yang lain, selalu random. Aku meringis karena lukaku tersenggol olehnya.
"Maafkan aku" Ucapnya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku lontarkan namun untuk saat ini aku ingin memeluknya meredakan kekhawatiranku untuknya. Menengkan hatiku yang sakit membayangkan aku harus kehilangan gadisku ini.
Gea POV.
Aku sepertinya mulai mencintai Andrew, jika memang bukan karena Ibuku, awalnya aku tidak ingin terlibat dengan orang aneh ini, dia terlihat dingin dan setiap katanya menyebalkan apalagi dia selalu di buntuti adik manjanya kemana pun dia pergi, astaga kenapa Edric bisa berurusan dengan keluarga aneh itu? Pikirku pada awalnya, Andrew adalah anak dari keluarga Lucas. Salah! dia hanya anak tiri tuan Lucas. Lalu Cathy? Cathy hanya anak pungut tuan Lucas. Ayah Andrew? Yah, ayah Andrew adalah laki-laki yang sama-sama meregang nyawa bersama tanteku, Mery.
Lalu kenapa Andrew tidak diakui? Jangan salahkan keluarga Hugo, keluarga Hugo sama sekali tidak mengetahui anaknya mempunyai kekasih yang sedang mengandung, karena memang tidak pernah sekali pun pangeran kedua keluarga Hugo itu membawa kekasihnya kepada keliarga besarnya, alasannya? Entahlah. Mungkin para pria demikian hanya mau enaknya tidak mau bertanggung jawab.
Ibuku mengetahui rencana jahat Andrew dari penyelidikannya terhadap orang-orang yang berada di sekitar Edric, dengan kata lain ibuku menjaga Edric dengan caranya, bukan dengan cara merebut hak asuh dan tektek bengek lainnya, namun dengan cara memperhatikan dari jauh. Edric kompeten menurut ibuku, namun dia ceroboh sama seperti ayahnya. Yah, kecerobohan itu di wariskan dari ayahnya karena tante Mery tidak mungkin ceroboh, bahkan di saat kecelakaan dia meninggalkan bukti untuk kecelakaannya melalui pesan kepada adiknya yaitu Ibuku. Ibuku langsung mengetahui jika itu sabotase, namun ibuku terlambat bertindak hingga tanteku meninggal. Namun, Ibuku tahu beberapa bukti lain di tinggalkan tante Mery dengan teliti lewat beberapa hal, bahkan dibanding ibuku tante Mery lebih perpectsonis. Walau pun tidak pernah ia tunjukan di hadapan keluarga Hugo, karena ia ingin mengetahui sejauh apa keluarga Hugo akan bertindak dan menutupi kekejiannya.
Tante Mery sama sepertiku, dia mencintai musuhnya sendiri. Yah, seperti aku m3ncintai Andrew. Aku jadi faham suatu hal, mungkin dulu tante Mery juga berharap sepertiku, berharao bisa mengubah keputusan Andrew, merubah oemikiran Andrew, meluruskan kepada Andrew sebenarnya apa yang terjadi. Bedanya tante Mery gagal karena yang ia lakukan hanya merubah ayah Edric saja tidak dengan keluarganya.
Yah, sudahlah itu akan jadi perjuanganku sekarang. Aku fikir Ibuku tidak akan bertindak sejauh itu aku pikir dia akan mebiarkan Andrew menghancurkan seisi istana keluarga Hugo dan hanya menyelamatkan Edric namun itu tidak terjadi, Ibuku malah menyiapkan istana yang hampir mirip dengan bangunan keluarga Hugo sebelumnya dan mengefakuasi keluarga Hugo, bahkan sampai mencarikan mayat-mayat yang mirip dengan penghuni rumah keluarga Hugo, kecuali nenek dan Ayab Edric. Aku kira karena dendamnya akan kematian adiknya ia akan mendukung Andrew meluluh lantahkan keluarga Hugo. Entahlah ada apa dengan ibuku mungkin dia punya pertimbangan lain.
Aku tak menyangka Andrew benar-benar melakukan itu? Terlebih dia sangat mengkhawatirkanku hingga membiarkan dirinya terluka, apakah dia juga mulai mencintaiku? Sejak kapan? Bukannya dia menjadikanku kekasih hanya untuk tameng di depan keluarganya yang terus mengira ia tidak normal? Jika benar dia mencintaiku mengapa dia tidak pernah sekali pun menyentuhku? Dia hanya mengecup keningku saja selama beberapa waktu ini apakah benar dia tidak normal? apa aku bukan type nya? ah jangan tanya making love, ci***n saja tidak pernah. Ada apa dengan dia?
Jujur aku sangat khawatir saat seseorang mungkin dari tim penyelamat berbicara di telpon tentang Andrew yang terluka. Namun, aku harus menyembunyikan kekhawatiranku di depan Edric dan juga ibuku. Aku takut ibuku bisa menerka perasaanku, karena sedari awal aku berjanji pada ibuku untuk tidak jatuh cinta, walau pun ibuku tidaka akan mempermasalahkan siapa pun laki-laki yang aku cintai, dia memberikan kebebasan kepadaku sepenuhnya, seperti cintanya terhadapku yang sebenarnya mereka berdua datang dari dunia yang jauh berbeda namun hal tersebut tidak membuat mereka menjadikan jurang pemisah, malah memberikan warna tersendiri bagi keliarga kecil kami. Setidaknya, aku berharap keluargaku kelak minimal seharmonis keluargaku, dan mauku lebih dari itu.
Aku mencari informasi tentang Andrew di resepsonis dan mendengar seorang perawat bergunjing mengeluhkan seorang pasien yang mereka anggao harus di rujuk ke RSJ
"Laki-laki itu mulai menggila, mencari nama wanita yang tidak pernah terdaftar dalam pasien kecelakaan ataubkebakaran itu." sahut seorang perawat.
"Tadi bajuku di tarik olehnya, dia bertanya hal yang sama." Ucap seorang perawat kembali. Mereka tercengang saat aku menyela percakapan mereka dan menanyakan pasien tersebut, aku yakin pasien yang menggila itu adalah Andrew, benar saja terdengar dari kejauhan dia terus menanyai orang yang berada di dekatnya dia cenderung mengganggu, dia menanyakan prihal keberadaanku kepada orang-orang yang mungkin tidak akan mempedulikanku. Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca lalu aku memeluknya, ia mematung seolah tak percaya hingga aku dengan tidak sengaja menyenggol lukannya, entah kenapa aku hanya ingin terus memeluknya untuk saat ini yah, aku merasa nyaman. Walau pun pelukan ini adalah hal yang pertama kali aku lakukan dengannya tepatnya dengan pria selain ayahku.
Hingga aku mati gaya dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku mengacak-ngacak rambutnya mengungkapkan kekesalanku, rasa maluku yang memeluknya tiba-tiba dengan berurai air mata dan yah dia mengecup keningku, hanya itu kebiasaanya. yah hanya itu.
"Maafkan aku" yah, kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku permintaan maaf yang tulus, karena sudah menjebaknya, namun dari sana aku jadi mengetahui seberapa besar rasa tidak ingin kehilangannya terhadapku. Namun, aku masih sangli apakah dia tidak ingin kehilangan tamengnya atau dia benar-benar mencintaiku sebagai pria normal menginginkanku sebagai wanita? Entahlah yang aku rasakan saat ini hanya ingin bersamanya sudah cukup, dan entah esok hari atau lusa nanti.