5. Kapan Menikah? [Bag. 5]

3286 Kata
             Aku sudah bersiap ingin tidur. Namun, mataku tidak bisa terpejam. Biasanya kalau sudah kena insomnia begini, nih, aku lebih baik membaca buku saja. Ku ambil kacamataku yang masih tertinggal di dalam tasku kemudian mengambil novel Tere Liye. Novel yang masih menjadi favoritku adalah Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin. Menurut ku, kisah Tania yang menjadi tokoh utamanya, ia harus mencintai seseorang diam-diam. Mencintai seseorang yang umurnya jauh di atasnya. Cinta dalam diam. Terlalu puitis sebenarnya. Aku tidak terlalu suka. Tapi, aku tidak bisa menampik bila ternyata aku pun pernah berada di posisi seperti Tania yang harus menahan perasaannya untuk tidak ia utarakan. Menahan cemburu dan bersikap seolah tidak ada apa-apa supaya tidak ketahuan. Walau rasa sakit tidak bisa ditahan. Aku menangkap sebuah kisah seperti ini di cerita novel karangan Eryna. Penjara untuk Perempuan. Novel ini bisa kukatakan, Iyah menceritakan perjuangan dari kelima perempuan yang menjadi fokus utamanya dan ini bagian menarik dari kisah-kisah mereka yang sering dialami oleh perempuan-perempuan yang hidup dalam budaya patriarki dan stigma-stigma negatif yang mudah melekat. Aku sangat menyukai novel penjara untuk perempuan di mana aku merasa aku bisa berkaca pada kisah dari beberapa tokoh yang ada di dalam cerita ini. Persis seperti apa yang aku rasakan. Ada kisah dari Leonna yang sudah berumur tiga puluh tahun dengan karir yang bagus menjadi chef dan dosen hukum tapi ia belum menikah. Cara menyikapinya dalam menghadapi pertanyaan-pertanyaan atau suruhan orang yang memintanya segera menikah selalu ia tanggapi dengan cuek dan tidak mau terlalu pusing. Leonna beranggapan nikah tidak perlu harus terburu-buru karena dikejar-kejar oleh umur atau mengikuti teman-teman lainnya yang sudah menikah. Orang-orang pun ada yang sudah menikah muda tapi berujung pada perceraian dan banyak sekali dari teman-temanku pun harus mengalami perceraian. Aku tidak ingin rumah tanggaku harus berantakan seperti itu. Aku tidak mau. Semua orang juga tidak mau, kan? Itu kenapa perlu banget bagiku persiapan yang benar-benar matang. Dan salah satu dari lima tokoh perempuan itu ada yang bernama Zahira yang juga mencintai seseorang diam-diam dan ternyata lelaki yang ia cintai pun memiliki perasaan yang sama namun sayangnya kisah cinta mereka tidak bisa lama hidup di dunia. Lelaki yang Zahira cintai itu harus meninggal karena penyakit kanker otak yang dideritanya. Cinta dalam diam yang kurasakan tidak sama dengan satu tokoh utama yang kubilang tadi. Aku terjebak friendzone kala aku masih duduk di bangku SMA. Klise memang. Sebuah pertemanan antara lelaki dan perempuan yang pada akhirnya salah satunya harus terjebak pada sebuah perasaan. Cinta yang tidak bisa dikatakan. Rasa sayang yang ingin dicurahkan lewat friendly gesture. Tersiksa memang, apalagi melihat seorang yang kita sayang dekat dengan yang lain. Ada rasa tidak terima. Aku membuka laptopku. Aku suka menulis di blog. Sudah lama rasanya tidak membuka tulisan-tulisanku yang ku pikir sudah berdebu. Di sini aku akan menceritakan tentang masa laluku. Dan di luar dari tulisanku, lihatlah bagaimana aku berjalan di masa depanku. * * * * Dia Mahesa. Sahabatku ketika di masa-masa putih abu-abu yang diwarnai banyak kisah manis pahitnya asmara. Aku itu cupu banget, deh, dulu. Kuper alias kurang pergaulan. Aku anaknya tipe anak yang introvert. Aku malu banget buat bersosialisasi, lebih nyaman saja sama duniaku sendiri. Karena aku pribadi yang tertutup, aku ya nggak nge-hits tentunya. Nggak asik. Nggak famous. Kayaknya nggak cocok aja semisal masuk ke grup yang diisi anak-anak yang emang secara tampilan modis banget. Apalagi aku ini juga anaknya nggak tau banyak soal fashion. Terus teman-temannya juga yang punya banyak tongkrongan. Jangankan satu bagiku, main saja aku jarang diizinkan. Itu karena mamahku yang membiasakan aku di rumah. Selalu melarangku. Aku mana bisa buat main sana sini sampai pulang sore. Nggak bisa. Mamah takut aku masuk ke pergaulan yang tidak benar. Pergaulan yang menjerumuskan diriku pada masalah yang besar dan pada akhirnya merugikan diriku sendiri nantinya. Mamah pasti bakal memerhatikan teman-teman ku yang aku ajak main ke rumah. Mamah akan menilai orang-orang seperti apa yang harus aku jauhi supaya aku tidak terpengaruh dengan gaya atau lingkungan mereka. Mamah cukup melihat dari luarnya saja, dia langsung menilai dan suka punya firasat buruk tentang orang-orang yang ada di lingkungan pertemanan ku. Aku anak kelas IPA. Tahu sendiri, kan anak IPA itu gimana berbeda dengan anak-anak kelas IPS. Iya, tidak kujabarkan sepertinya orang-orang tahu apa perbedaannya terlebih dari karakter anak-anaknya dari IPA terkenal jaimnya, pendiamnya dan lebih mengedepankan kekerenan mereka dan gaya high dalam bersosial seperti berteman dengan anak-anak yang memang bisa membuat nama kita sendiri terkenal. Ini spesifiknya kita lihat dari luar pelajarannya. Di samping itu ada anak IPS yang terkenal siswa-siswinya pada barbar. Lebih asik juga lebih solidaritas juga. Rame banget kayak pasar, deh. Iya, walau gayanya dilihat lebih okean anak IPA tapi tiap jurusan, pasti ada plus minus untuk memandang anak-anak IPA dan IPS.  Oh, ya, anak kelas ku ini jarang banget yang bisa main futsal. Jadi, susah mereka untuk berbaur dengan anak kelas IPS. Apalagi beberapa kelas dari IPA 1, 2 atau 3 dicap sombong abis. Iya, emang, sih, keliatan banget mereka jarang bersosialisasi. Gak salah dan wajar anak IPS enggan untuk berteman dengan anak-anak kelas IPA yang kusebutkan tadi. Anak kelasku lebih ke olahraga basket. Kebanyakan emang anak basket itu jadi idola-idola nya kaum hawa. Ah, apa, sih? Aku enek sendiri, deh. Apalagi aku tahu anak kelasku yang cowok dan kelas lain itu, anak cowoknya pada sok keren. Ke kantin saja bergerombol. Iya, ngegeng banget, deh. Apalagi yah salah satunya ada yang mencolok dengan ke mana-mana harus make jaket. Hellow!! Kalau hujan, dingin, sih, ya fine-fine aja, ya tapi ini itu panas hawanya. Matahari tuh bertengger di atas kepala dan kamu pake jaket ke kantin doang? C'mon, caper banget, sih. Nggak penting tau gak. Keliatan banget jadi norak jatohnya. Aduh, sumpah.. sumpah... sumpahhhhhhhhhh!!!!! Parah banget, sih. Mau bergaya berkelas dengan menunjukkan outfit kamu itu nggak buat diri kamu sendiri bisa se-WAW itu di mata semua orang. Apalagi dengan persepsi yang ada untuk orang-orang yang bijaksana dalam melihat fenomena cowok-cowok yang sok cool. Anak IPS itu aku lihat lebih apa adanya walaupun terkesan banyak yang badboy dengan gaya yang urakan. Iyah, terlepas dari semua itu. Nggak semua anak IPA dan IPS ya seperti itu, sih. Itu pengalaman aku aja selama aku jadi anak IPA. Aku orang yang memang tertutup tapi aku memerhatikan lingkungan sekitarku selama aku sekolah. Sehabis olahraga aku duduk istirahat di depan kelas. Di dalam kelas rame banget, berisik. Kelasku itu bisa dibilang ada tiga kubu lagi. Ini untuk yang cewek ya. Pertama ada anak-anak yang memang pintar, rajin, dan ucapan mereka terjaga. Apalagi aku punya teman dekat dari kampung. Bicara itu selalu sopan bahasanya. Terus ada lagi kubu kedua. Mereka ini bisa dibilang orang-orang yang nge-hits. Gayanya nge-high sekali. Duh, harus siap-siap kena kanker nih alias kantong kering kalau udah sekalinya main sama mereka. Dan terakhir kubu yang sebelas dua belas seperti anak IPS. Paling rame, paling heboh, paling nggak ada duanya kalo udah urusan adu mulut. Cowoknya? Ah, mereka terlalu banyak diamnya. Kelasku, mah, anak ceweknya yang pada drama. Sekali saja nggak ribut ya mana enak. Pas sekali, di depan sana ada Mahesa di lapangan lagi main basket sama temannya, anak kelas sebelah. Aku tidak tahu namanya siapa. Aku juga tidak mau tahu, sih. Aku meletakkan botol air setelah meminumnya. Aku sebenarnya belum salin, sih, nanti sajalah. Kamar mandi juga pasti rame yang ganti baju. Ah, aku menikmati me time sajalah. Satu buah roti di tangan kananku dan tanganku yang kiri memegang novel. Telingaku terpasang headset. Biar aku nggak mendengar kebisingan lainnya selain hanya musik dengan irama yang lembut dan lirik yang indah. Untunglah aku tidak memakai kacamata. Seandainya aku make, mungkin aku sudah dibilang cewek cupu dengan penampilan ku yang mereka lihat. Itu kalau aku berandai. Hahhh! Lebih insecure lagi aku. Udah punya teman-teman gaulnya setengah mati. Saat itu aku lagi asik dengan duniaku. Tetiba tangan laknat seseorang menarik headsetku begitu saja dan memasangkannya di telinganya. Ia melirikku. Lebih tepatnya ke roti yang kupegang. Berdosanya dia itu main ambil rotiku tanpa seijinku. "Kebiasaan ya tangan anda main comot-comot roti sobek saya," protesku sebal. Dia cuma mengaduh kesakitan perut, sok-sok masang muka dramatis. "Laper gue Lun... laper. Lo, sih, kagak beliin gue makanan sekalian. Kan, capek gue abis berolahraga," keluhnya yang dibuat-buat. "Atau temenin gue kek makan," ucapnya secara tidak langsung mengajakku. Aku memutar bola mataku, malas. "Yaudah, ayok. Gue temenin Lo makan," ajakku. "Tapi gue mau salin dulu," lanjutku lagi. Dia melihat arlojinya yang melingkar di tangannya yang berbulu. "Keburu emang? Ntar disuruh keluar lagi." Setelah ini kita ada jam bahasa Indonesia yang gurunya terkenal sekali akan kedisiplinan. Sepuluh menit lagi. Lima menit dia makan kayaknya cukup. "Udah keburu, kok, pasti. Asal makannya aja gak Lo hayatin," sinisku seraya menarik jauh diriku dari yang duduk di sebelahku ini. "Lo mau ke mana?" tanyanya yang aku sendiri dibuat tak habis pikir dengan pertanyaannya. Baru saja aku bilang mau salin masa dia bertanya lagi. Emang suka nggak nyambung ini anak. "Ya menurut Lo aja ke mana?" "Ikut gue." Dia pun ikut berdiri menghadap ku. Aku mengernyitkan dahi ku bingung. Ambigu sekali ucapannya tadi. "Nyalin bareng yaaaaa." Nah, ini namanya minta digetok pake sepatuku. Untungnya dia kabur setelah aku berniat mau melepaskan sepatu taliku. Sesudah sama-sama salin baju tapi di kamar mandi yang berbeda, ya, tentunya. Kita langsung bergegas ke kantin. Di jalan tadi aku sempat bertanya sama dia. "Kenapa Lo ngajak gue? Kenapa nggak sama yang lain?" Dia bilang katanya, "pengen aja sama Lo. Yang lain berisik. Sama Lo, kan, lebih kalem gitu, ye, kan." Iyah, aku itu malas saja ngomong. Nggak sependiem itu juga, sih. Aslinya aku lumayan cerewet, aku periang, aku juga bisa berisik. Aku akan menunjukkan karakterku yang berkebalikan dari karakterku yang orang lain lihat seperti pendiam, kalem, dingin dan cuek, pada orang-orang yang hanya dekat denganku saja. Dan pada orang yang kusuka. Maksudku, di mana aku merasa aku nyaman untuk menunjukkannya. Sama Mahesa aku juga kadang banyak bicara karena dia cowok satu-satunya yang bisa membuat aku merasa nyaman di dekatnya. Memang, sih, dia pandai membuat cewek merasa nyaman jika bersamanya karena keramahtamahannya dan juga orangnya tidak petakilan. Pembawaan dia cukup tenang dan aku senang dengan cowok yang seperti itu. Tapi, tetap dia ada humorisnya. Aku sama Mahesa berteman baik dan dekat. Namun, ada banyak perbedaan di antara kami berdua. Dia lebih gaul anaknya, lebih famous dan banyak yang menyukainya juga tipe orang yang mudah berbaur. Sering banget dia itu suka meledek aku karena aku jadi cewek terlalu cuek dan terlalu tertutup pada dunia, pada orang-orang. Datar dan tidak terlalu bereskpresi. "Lo itu terlalu asik sama dunia Lo sendiri. Coba kalo Lo lebih agak humoris dan nggak dingin-dingin amat pasti banyak ntu cowok yang suka sama Lo, eh, tapi nggak deng Lo, kan, gendut." "Ngaca! Lo juga gendut pendek lagi. Masih juga tinggian gue." "Hihihi!!! Mana Yee? Kurusan gue." Aku memalingkan wajahku saja. Mahesa itu suka begitu kalau sama aku. Orangnya suka bener ngatain aku jelek lah, gendut lah, inilah itulah ya walau tidak ada maksud serius dan hanya sekedar bercanda saja. "Hehe bercanda kok tapi Lo sebenarnya aslinya emang cantik, Lun." Ku tatap ia saat mengatakannya dengan mimik wajah yang sangat serius dan meyakinkan. Dia memang selalu saja ngatain aku dengan nada bercanda, katanya aku enak dijadiin bahan bercandaan buat dia karena seru aja mancing emosi aku tapi abis itu dia akan bilang maaf kalau semisal aku sudah sensi. Aku dekat sama dia sudah dari kelas sepuluh. Ya lama-lama sudah terbiasa saja bercandaan sama dia. Tidak ku bawa serius karena aku pun juga suka juga mengejek dia pendek kalau berjalan itu suka berjinjit biar kelihatan tinggi. Ya itu jadi bahanku untuk ngeledekin dia. Namun, sejujurnya aku sendiri merasa tidak semenarik itu untuk terlalu disukai oleh banyak lelaki. Iya, dari kata-kata seperti ini dan pemikiran yang memenuhi isi kepalaku bisa dibilang aku memang anak yang mudah insecure dan pesimis. Aku terlalu malu dan tidak percaya diri. Aku merasa tidaklah cantik seperti perempuan remaja yang lainnya. Mahesa duduk di depanku tengah mengunyah mie ayam yang ia pesan tadi. Aku termenung menatapnya datar dengan mulutku masih setia menyedot es teh yang sebenarnya tidak terlalu kepengen. Cuman aku menggigiti ujung pipetnya saja. Mendengarkan seksama tentang pendapatnya soal diriku ini. Mungkin ia menyadari akan sesuatu mengenai ku. Soal... "Gue nggak pernah, tuh, liat Lo jalan sama cowok." Setelah ia selesai meneguk minumannya. Pembicaraan ini dimulai karena aku sempat bertanya tadi lalu dia langsung bilang, 'pasti cowok pertama yang makan bareng sama lo itu gue.' "Males," jawabku singkat. Lebih kepada kayak nggak pede aja, sih, aku buat jalan sama cowok dan karena mamah juga yang pastinya melarang aku dekat dengan cowok. Iya, untuk lebih hati-hati katanya. Membatasi diri dari hal yang tidak diinginkan. "Males atau emang Lo nya aja yang nggak laku?" ejeknya sambil menunjuk-nunjuk diriku. "Gigi Lo, tuh, banyak cabenya!" balikku mengejek dia dengan nada cetus. Tapi kenyataannya emang cabe nyempil di sela-sela giginya. Dia tanpa izin mengambil hpku yang ada di dalam saku seragamku. Aku refleks langsung menyilang kan tangan di depan d**a. "Heh! Kurang ajar Lo!" tukasku tak terima dengan sikap semena-mena nya tadi. Dia dengan tak acuhnya masih ngurusin giginya, berkaca pake layar hp ku. Aku sendiri masih shock dengan perbuatannya yang berdosa tadi. Bayangin tangannya yang menajiskan mengenai payudaraku. Oh, tidak!!! Aku dilecehkan kalau itu sampai terjadi. Kan aku adukan dia ke guru BK biar dia tahu rasa! Dia mendesis. Menaruh hpku tadi. "Sorry, yang penting nggak kena, kan? Hehe." Aku menurunkan tanganku untuk mengambil hp dan satu tanganku lagi menunjuk mukanya yang pengen banget aku benturkan ke aspal. "Gila Lo ya! Kalo sampe kena udah abis Lo sama gue." "Ya, janganlah gile. Diremes aja belum, tunggu gue remes dulu baru Lo aduin. Ketoel doang, mah, nanggung. Hahahaha!!!!!" Dia ketawa terbahak-bahak. Ku ambil wadah sendok dan garpu. Sudah kuangkat ke udara hendak ingin melemparnya namun ia secepat kilat lari tanpa aba-aba. Meninggalkanku di kantin yang masih ad beberapa siswa-siswi yang lagi makan. "MAHESAAAAAAAA!!!!!!" Uh, gak pake urat malu lagi. Bodo amat! Aku teriak marah-marah gak jelas sebelum akhirnya kukejar ia menuju kelas. Setiba di sana aku melihat Mahesa di depan pintu kelas tengah dimarahi sama ibu Agustin yang terkenal seentero sekolah killernya yang tiada ampun dengan siswa yang berani terlambat masuk di jam kelasnya. Tahu begini aku di UKS saja pura-pura sakit. Batinku. Ibu Agustina melihatku berjalan ke arah mereka. Mahesa menolehkan kepalanya ke aku. "Kamu juga telat!?" selorohnya langsung membentakku. Anak-anak di dalam kelas memerhatikan kami berdua. "Kalian ini pacaran, ya?" tanyanya telak saat aku berdiri di samping Mahesa. Kita berdua kaget diberi pertanyaan seperti itu. Secara spontan aku menggelengkan kepalaku. Menolak tegas tuduhannya yang sembarangan. "Kita berdua nggak pacaran Ibu." "Ya terus kenapa masuknya telat. Mahesa bilang dia baru dari kantin. Makan. Terus kamu?" "Dia nemenin saya makan Bu," jawab Mahesa. Padahal yang ditanya itu aku. Aku melotot. Jelas saja. Aku sudah mau mengatakan alasan lainnya dia malah mengatakan yang sejujurnya. Semua orang di dalam kelas tentu dong langsung berteriak, "CIEEEEEEEEE!!!!!!" Aku mendesah pelan. Aku tidak suka diledek begitu. Ibu Agustina menggedor pintu dengan tangannya. Membuat suasana yang gaduh tadi jadi tegang sewaktu ibu Agustina membuat tanda peringatan. "Sekarang kalian lari lapangan lima kali. Sudah selesai masuk ke dalam kelas," titahnya. "Dan... satu lagi." Telunjuk nya di hadapkan di depan kami. "Jangan coba-coba kabur atau saya alfakan nama kalian berdua," ancamnya. Bu Agustina masuk ke dalam kelas lalu menutup pintu dengan sangat keras. Segitunya dia orang yang galak namun sangatlah tegas. Mahesa pun mengajakku berlari. Aku sudah mencak-mencak kesal sama dia. Panas-panas lari muterin lapangan. Padahal aku sudah olahraga dan salin baju. Ya, aku capek dong. Aku gak mau drama pake pingsan di tengah hukumanku. Aku nggak mau begitu. Tapi, aku tidak tahu apakah aku sanggup menyelesaikan hukumanku atau tidak. "Ini semua gara-gara Lo," tandasku emosi. Kita berdua berlari beriringan. Mataku menyipit tak tahan dengan sinar matahari yang menusuk kulit, memanaskan kepalaku hingga membuat tubuhku berkeringat lagi. Mahesa berlari pelan. Kenyataannya dia jago berlari dan bisa sangat cepat. Aku saja tidak bisa menandinginya. "Iyaudah gue minta maaf. Gue gak bakal lari cepet-cepet. Kasian gue sama Lo." "Terserah kalo mau ninggalin gue juga," pasrahku dengan nada marah. Aku tidak peduli sama apa yang ia lakukan. Mahesa memandangku terus-menerus. Aku bisa merasakan akan hal itu. Aku cuma melirik tajam lalu menatap lagi ke depan. Fokus dan terus fokus. Secara tiba-tiba, dia menarik tanganku. Kita keluar dari lapangan. Aku kaget sekaligus kebingungan. "Esa! Apaan, sih!" risihku. Dia mengajakku ke gedung kelas dua belas. Di lantai dua. Mau gak mau deh aku harus capek lagi naik tangga. Di tengah tangga itulah aku menarik tanganku dan menghentikannya. Ku tatap ia dengan keseriusanku dan kemarahannya yang tidak main-main. "Lo mau ajak gue bolos? Lo mau buat hukuman gue jadi bertambah?" "Muka Lo itu udah kusut, pucet, merah, ntar kalo pingsan gue lagi yang repot." "Hih!" Aku tau itu cuma dalihnya aja aslinya mah dia mau ngajak aku ngebolos. "Udah, ah, gue mau balik. Males ngikutin orang yang sesat." Aku sudah membalikkan badan berniat turun tangga. Namun dia langsung menahan kedua bahuku. "Ett!! Ett! Eeeetttt!!!" Untung saja aku berpegangan pada tembok kalau tidak sudah jatuh aku karena tubuhku yang tak seimbang ketika berdiri gara-gara Mahesa. "Bentaran dulu kenapa, sih, Lo ini. Terlalu banget rajinnya. Sini biar Lo nggak jadi kutu buku, gue mau ngajakin Lo ke suatu tempat." "Apaan, sih, gue nggak mau, ah!" tolakku mentah-mentah. "Luna Linara, Lo mau belajar gimana juga masih pinteran gue njir. Hihihihi!" tawanya dengan ciri khas suara kuntilanak. "Udah gak usah sok-sok mau ngebalap nilai gue." "Eh! Ngaca, ya! Lo sama gue nilainya juga gedean punya gue. Sok iya banget, sih, Lo." "Bodo amat! Intinya masih pinteran gue dari pada Lo." Dia menarik kuncir rambutku sampai rambutku tergerai. Lalu dia lari mengambil kunciranku. "Ih! Ngeselin banget, ya, Lo!" Aku kejar dia sampai ke lantai dua. Aku lihat dia. "Cepet kejer gue! Haha! Gak bisa, yaaaa!! Lo, sih, kebanyakan makan." Ish! Dia itu ngeselin banget, sih! Mentang-mentang aku gendut seenaknya ngatain aku. Awas aja kalau aku sudah kurus yaaa! Untuk seukuran anak SMA aku akui aku itu punya postur tubuh tinggi besar dan iya terlihat gendut apalagi pakai seragam sekolah. Berat badanku itu hampir menyentuh angka tujuh puluh kg. Meskipun ada yang lebih besar dariku namun tetap saja tubuhku itu tinggi. Bisa menyentuh angka 167 cm dan aku terlihat sangatlah besar. Aku suka gak percaya diri. Ya, karena tubuhku ini. Suka banget dikatain sama anak kelas gendut lah, bongsorlah, ah macam-macam ya wajar di kelas aku, kan cuma aku yang punya postur tubuh tak sebagus mereka yang ideal. Aku saja sampai muak mendengar orang-orang yang membicarakan fisikku tapi aku cuma bisa telan doang mentah-mentah. Belum lagi aku yang agak pendiam. Aku yang kurang berekspresi. Aku yang tidak bisa membela diriku sendiri atas hak-hakku pada fisikku. Aku sendiri terlalu pasrah. Hanya bisa diam. Hanya bisa memendam. Tidak berani bersuara karena aku sendiri tidak percaya diri dengan tubuhku. Aku seolah membenarkan perkataan mereka ya pada ujungnya pun aku juga yang sakit hati dan mentalku kadang suka down. Mahesa berhenti berlari di depan kelas. Aku di belakangnya menepuk bahunya keras. Dia termenung. Ku ambil saja kuncir rambutku saat dia lengah. Ia hanya memandangku sekilas. "Lo liat cewek yang duduk di barisan kedua dari ujung sana, kan, paling depan." Aku sudah menguncir rambutku. Ku lihat seorang perempuan yang Mahesa katakan tadi. "Cantik gak menurut Lo?" tanya ia. Aku tersenyum singkat.  "Cantik," jawabku. Dan aku merasa insecure melihat kecantikan perempuan lainnya. Sering kali aku berandai-andai, apakah aku bisa secantik mereka? Kenapa, sih, aku tidak cantik? Kalau ini pertanyaan untuk diriku sendiri. "Gue suka dia Lun. Doain, ya, biar gue bisa cepet jadian sama dia." Percayalah. Aku mendengar nya saja seolah-olah hatiku ini tidak menerimanya. Ku pikir, itu hanya sekedar karena aku yang merasa tidak beruntung bisa disukai sama lelaki juga di usiaku yang masih remaja ini. Aku juga ingin merasakan bumbu-bumbu percintaan di masa-masa putih abu-abu ku. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN