4. Kapan Menikah? [Bag. 4]

1951 Kata
Cowok nggak m***m itu nggak normal. Begitulah yang Mahesa katakan kepadaku. Tapi dia bangornya itu yang buat aku pengen uh! uh! Kesel, loh. Bikin aku malu. Secara terang-terangan lagi. Emang dia itu cowok sange. Udah jelas sewaktu SMA juga dia suka dibilang sama teman-teman gengnya itu cowok sange yang harus dijauhi. Tapi, sebetulnya untuk kepada perempuan, dia tidak sejauh itu nakalnya. Hanya gurauan saja tapi ya dekat sama cowok kayak dia juga harus tetap waspada, sih. Di dalam mobil yang aku tumpangi itu senyap. Hanya ada suara klakson kendaraan yang berlalu lalang di luar sana. Jendela mobil sudah basah dengan bulir-bulir hujan yang terus turun entah kapan berhentinya. Sama halnya dengan pesan singkat dari adikku yang terus bermunculan di layar hpku. Menanyakan keberadaanku. Mamah sudah marah. Aku sudah memberitahukannya tapi tetap saja aku tidak didengarkan. Bagas pasti telah mengadu yang tidak-tidak. Aku yakin sekali dengan hal itu. "Bilang in ke mamah, teteh udah lagi di jalan dianterin sama Mahesa. Jangan terlalu khawatir. Teteh udah besar, bisa jaga diri." Lena bilang ke mamah kalau Mahesa itu cowok yang nggak benar. Mahesa memang jarang sekali ketemu sama orang tuaku karena memang aku sendiri yang nggak pernah bawa cowok ke rumah. Iya, gimana? Mamah aku itu protektif banget sama anaknya sampai aku nggak bisa berteman dengan orang yang aku mau. Aku hampir kayak nggak punya teman. Aku tahu itu semua untuk kebaikanku karena mamahku ingin menjaga diriku dari pergaulan yang tidak benar tapi setidaknya orang tua bisa sedikit mengerti tentang perasaan anak-anaknya sendiri tentang apa yang dan siapa yang mereka inginkan dalam kehidupannya sekalipun akan adanya hal pahit tapi bisa jadi untuk pembelajaran asalkan bisa untuk tidak melebihi batasan. Kepercayaanlah yang anak butuhkan dari orang tuanya. Dan itu yang aku inginkan sejak dahulu. Mahesa menoleh ke arahku di mana ketika aku sudah mematikan hpku kemudian ku genggam saja di atas pahaku. "Lo udah ditanyain terus, ya, sama nyokap Lo?" tanya ia. Aku mengangguk sambil berdeham. Mahesa tiba-tiba batuk tapi hanya sebentar. Aku menoleh kepadanya. Aku tadinya mau memberikan air minum yang ada di dalam mobilnya tapi dia mengisyaratkan lewat tangannya jika itu tidak diperlukan. Kemudian ia tiba-tiba bertanya lagi kepadaku. "Ngomong-ngomong mami gue tadi bilang apa, Lun?" Aku menghela napas pelan. Tidak ada yang perlu harus aku tutup-tutupi darinya. "Soal kita," jawabku kepadanya. Sesekali ia menoleh kepadaku lalu ke arah jalanan di depan sana. "Terus ... Jawaban Lo ... Gimana?" Mahesa bertanya dengan sangat hati-hati. Itulah yang aku rasakan. Aku sendiri sebetulnya takut untuk menjawabnya. Bingung juga iya untuk mengatakannya. Nggak enak pun iya setelah aku mengatakan yang sejujurnya. "Masih nggak bisa, ya?" tanya ia lagi. Aku cuma bisa menunduk. Aku merasa memang Mahesa menatapku serius. Nggak ada lagi kekonyolannya yang tadi. Rasanya aneh sekali. Ku rasakan suasana yang canggung di antara kami. Tidak. Aku tidak tahu kalau soal Mahesa tapi untuk diriku jelas iya. Aku merasa canggung sekali. "Kenapa, sih, Lun? Apa karena kita sahabatan gitu? Bukannya dulu juga Lo ...." "Dulu sama sekarang, kan, beda Sa. Udah nggak sama." "Gue ada yang kurang, ya, buat jadi pasangan hidup Lo? apa soal materi? Gue udah mapan kok Lun. Apa, sih, yang masih kurang?" tanya ia seperti sedang mendesak diriku. "Ini bukan soal harta, Sa," sangkalku. "Ya terus apa?" seloroh ia mulai jutek kepadaku. "Ini soal hati," kataku pelan. Aku tidak menatapnya sama sekali. Fokusku hanya pada hal-hal di luar mobil yang kami lewati tiap tempat-tempat yang berada di pinggiran jalanan. "Hati mana bisa dipaksa-paksa, Sa. Kalo rasanya udah mentok sampe situ aja, kalo gue merasa kita cukup jadi sahabat aja, ya, mau gimana lagi?" kataku kepadanya. Aku tahu dia pasti sangat kecewa dengan ucapanku barusan. Orang pasti berpikir kalau aku adalah cewek bodoh yang menolak seorang Mahesa Singgih Swasono. Tapi, memang aku tidak dapat memiliki rasa kepadanya. Ada sesuatu yang tidak bisa aku temukan dari dalam dirinya. Dan aku tidak bisa menjelaskan hal itu. Aku merasa, memang aku sama Mahesa cukup sudah batasnya hanya sebagai sahabat. Walau orang bilang, sering kali cewek dan cowok yang menjalani hubungan persahabatan pastinya akan berjodoh. Tapi, aku tidak bisa untuk mencintainya. "Gue bingung, sih, sama jalan pikiran Lo, Lun. Cobalah Lo kasih gue satu kesempatan. Kita baru menjalin hubungan persahabatan, siapa tahu bisa lebih, kan?" Mahesa terus membujuk diriku dan aku tetap enggan untuk harus mengatakan hal lebih yang kutakuti akan semakin mengecewakan dirinya. * * * * Aku pulang ke rumah diantar sama Mahesa sampai depan rumah di mana mamah sudah berdiri di teras rumah. Bau-baunya sih sepertinya marah kepadaku. Mahesa saliman sama mamah. Aku sendiri berdiri kaku di sampingnya. Entah apa yang akan mamah pikirkan tentang aku dan Mahesa yang baru pulang di malam hari ya meskipun jamnya masih jamnya wajar orang yang lagi pacaran pergi malam mingguan. "Mah, ini temen aku Mahesa," kataku memperkenalkan Mahesa pada mamah. Mahesa memang baru kali ini saja datang ke rumahku karena jujur, aku nggak pernah yang namanya ngajak cowok datang ke rumah. Ya, mamah itu suka posesif banget sama aku kalau udah urusan cowok. Jadi, aku itu bawaannya kayak malas saja. "Malam Tan, saya Mahesa. Temen kerja Luna di rumah sakit," katanya dengan sopan. "Kamu dokter?" Mamah bertanya soal pekerjaan Mahesa. "Iya, spesialis jantung," jelas Mahesa. "Oh, tadi Bagas bilang sama Mamah katanya kamu gak mau dijemput sama dia." Tuh, kan, pembahasannya sudah langsung ke Bagas saja. Pastilah Bagas itu memang sudah mengadu. "Mah, aku bisa pulang sendiri." "Kalo kamu bisa pulang sendiri, kenapa kamu pulangnya sama teman kerja kamu? Kenapa kamu nggak langsung pulang ke rumah? Perempuan itu jangan kebiasaan pulang malem-malem. Nggak enak diliatnya juga," pungkasnya seolah-olah Mahesa nggak ada di sini. Mamah ini apaan, sih? Batinku mulai jengkel.   "Iya, itu karena aku diundang makan malam sama tante Soraya, maminya Mahesa. Nggak mungkin dong aku menolak. Mahesa ini teman deket aku, loh, waktu SMA. Mamah nggak tau, kan?" ujarku pada akhir kalimat memang terdengar agak sinis karena ya dulu aku jarang banget buat menceritakan siapa saja teman dekatku karena ada hal lain yang membuat aku jadi enggan untuk terbuka kepada orang tuaku sendiri dan ketika aku sudah sedewasa ini, aku mengatakan hal yang memang seharusnya mamah ketahui.  "Oh, ya, satu lagi. Coba Mamah ijinin aku bawa motor atau mobil, ya, aku, udah gak mau ngerepotin orang lagi," pintaku. "Jadi, Bagas gak usah repot-repot buat jemput aku. Aku gak butuh itu," cetusku. "Gak bisa Luna," tolaknya mentah-mentah. "Mamah cuma gak mau kamu kenapa-napa Luna. Waktu kamu pernah kecelakaan sampe patah tulang itu Mamah khawatir, makanya Mamah melarang kamu bawa kendaraan. Bagas itu udah mau nyempetin waktunya buat jemput kamu. Harusnya jangan kamu tolak." Aku memutar bola mataku malas. Menghembuskan napas ku begitu berat. Ada dua opsi yang kudapatkan, entah pure karena memang khawatir akan keadaanku atau ingin aku bisa lebih dekat dengan Bagas. Ya, Tuhan. "Udah, ah, aku mau masuk kamar. Bebersih. Capek," selaku lebih baik menyudahi perdebatan aku dengan mamah. "Sa," aku menepuk bahu Mahesa pelan. "Thanks, ya, udah mau anterin gue pulang. Gue masuk dulu." Aku tidak tahu apa yang mamah sama Mahesa bicarakan di luar sana tapi sepertinya mereka berbincang tidak terlalu lama. Aku lihat dari jendela kamarku di lantai dua. Di bawa sana Mahesa sudah masuk ke dalam mobilnya. Aku menutup gorden. Duduk sebentar dan memijat bahuku yang lumayan pegal kemudian duduk sebentar di ranjang. Beberapa saat kemudian mamah masuk tanpa mengetuk pintu. Dia berdiri di hadapanku saat ini juga. "Kamu ini keterlaluan Lun. Nggak enak kita sama Bagas. Dia pemuda yang baik-baik. Mestinya kamu itu jangan bersikap acuh gitu sama dia," seloroh mamah dengan marah-marah. Aku sudah dipuncak emosi untuk harus kembali mendengar nama cowok satu itu. Tanpa sadar aku meninggikan nada bicaraku saat aku ikut bersuara. "Bagas! Bagas! Bagas terus!" Aku berdiri di hadapan mamah dengan spontanitas. "Gak bosen apa Mamah nyebut-nyebut nama dia terus?" cetusku. "Heh! Ngelawan aja kamu ini sama orang tua." Mata mamah sudah melotot. Dari nada bicaranya, terdengar lebih tinggi daripada diriku. Nyaliku menciut saat ia membentakku. Aku memang takut dibentak, dan tidak suka juga jika dibentak. Aku itu akan membantah dengan apa yang menurut aku itu tidak sejalan dengan pikiranku. Mungkin awalnya aku tahan, aku memilih diam saja tapi jika diriku sudah tertekan, aku bakal angkat bicara. Luna yang sekarang bukanlah Luna yang dulu. Seperti saat di mana aku kembali menanggapi ucapan mamah yang sebelumnya. "Luna gak ada maksud buat ngelawan Mamah tapi Mamah yang selalu buat Luna kesel. Mamah itu selalu jodoh-jodohin Luna sama Bagas. Mamah, kan, sudah tau Luna nggak suka sama dia." Papah muncul mendengar keributanku dengan mamah. "Tiap hari ribut aja, gak capek kalian berdua itu," tegur papah di ambang pintu.  "Kamu kasih tau itu anak kamu. Kelamaan milih jodoh yang ada perawan tua dia," tukas mamah yang langsung ngena di hati aku. Nusuk gitu. Kayak deg. Sesingkat dan sesimple itu tapi rasanya perih sekali jika beliau sudah bicara. Apa mamah tidak memikirkan perasaanku? Psikis aku yang terus ditekan untuk segera menikah dan apa mamah tidak memikirkan keinginanku sama sekali? Siapa dan seseorang seperti apa yang aku inginkan untuk dijadikan suami. Aku tidak mencintai Bagas jadi mau dipaksa bagaimana juga aku tidak akan bisa menyatu hatinya dengan lelaki itu. Mamah pergi melewati papah yang masih berdiri di tempatnya. Ia pun menghampiriku. "Luna kamu jangan ngejawab terus omongan mamah itu." Aku tahu papah itu mau menjadi penengah di antara kami. "Pah! Aku ngejawab itu gak ada maksud buat ngelawan. Cuman, kan, mamah itu selalu memaksakan keinginannya yang gak sesuai sama apa yang aku mau. Aku juga punya jalan hidupku sendiri, Pah. Ngertiin lah," balasku.  "Kamu ini benar apa kata mamah kamu, mau nunggu sampe kapan coba? Nggak nikah-nikah. Pendidikan sudah selesai, sudah sampai S2 di usia yang muda. Karir juga udah bagus. Kamu udah bisa kerja di rumah sakit. Terus apa lagi sekarang yang kamu cari? Tinggal lelaki. Mamah Papah, kan, udah tua. Kepengen kita ini sebagai orang tua mau menikahkan anak perempuannya yang paling tua." Aku emosi. Harusnya papah itu bisa ngebela aku. Bukannya malah menambah memojokkanku begini. Tapi, ya, aku berpikir seperti ini karena dalam diriku tertutupi oleh energi negatif yang sebetulnya aku sadar kok dengan tujuan mereka itu sebetulnya baik untukku. Di mana mereka ingin aku menikah. Hanya saja caranya mereka yang tidak aku sukai. "Tapi, kan gak bisa diburu-buru gitu, Pah. Namanya aku belum siap, belum nemu yang cocok di aku, masa harus aku paksain cuma demi keinginan mamah Papah. Kan, yang jalanin pernikahan nanti itu aku bukan mamah atau Papah," kataku. "Ya Allah, kamu ini susah bener kalo dikasih tau. Mau kamu yang dibilang mamah kamu jadi perawan tua nanti? Nggak nikah-nikah. Jadi omongan orang, omongan tetangga, omongan keluarga besar," katanya. Tuh, itu Papah sudah cariin kamu jodoh, Nak, tapi kamu tolak semuanya. Terima aja, sih, kalau orang tua kasih tau itu. Cinta urusan belakangan yang penting kamu menikah dulu." "Ah! Udah lah. Ngomong sama Papah ini bukannya bikin suasana hati aku nambah baik malah jadi tambah buruk. Mending aku mandi!" Aku tinggalkan Papah yang berdecak panjang melihat tingkah laku anak perempuannya yang selalu dikata melawan, melawan dan melawan terus. Nanti, giliran aku diam saja, disangka tidak menghargai orang tua bicara. Tapi giliran aku bicara, giliran aku menyampaikan pendapatku, malah dibilang 'ngejawab terus sama orang tua. Mau jadi anak durhaka kamu. Lahir dari mana kamu itu.' Mereka tidak akan mungkin mau mendengarkanku jika setiap saat aku selalu dipojokkin. Aku capek ah selalu salah saja di mata mereka. Sekali saja mendengar keinginanku, suaraku, apa mau hatiku, apakah tidak bisa? Haruskah selama aku hidup, aku harus menjalani apa yang orang tua aku inginkan? Aku juga punya jalan dan keinginanku sendiri. Aku punya keyakinan ku sendiri. Pasangan hidup itu akan bersamaku bukan sehari dua hari tapi sampai akhir hayat. Bukan main-main. Aku tidak mau urusan jodoh, harus pakai campur tangan orang tua seperti dijodohkan. Aku yang hanya ingin menentukannya sendiri. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN