3. Kapan Menikah? [Bag. 3]

1688 Kata
            "Aku minta jangan jemput aku lagi, please. Aku pulangnya sama Mahesa. So, kamu gak perlu repot-repot dateng ke sini segala, ya. Dah.. aku ada urusan." Ku matikan langsung sambungan telepon antara aku dan Bagas. Aku harus bersikap tegas lagi sama dia. Gak bisa aku kalau harus lari-lari terus supaya bisa menghindar darinya. Aku yang bakal capek sendiri nantinya. Mahesa sudah menungguku di parkiran, di mobilnya. Aku pun segera menemuinya. Aku yakin sekali jika nantinya Bagas bakal mengadu sama mamah tapi terserahlah. Aku sudah terbiasa jika harus berdebat sama mamah walau aku tahu ujungnya juga aku yang bakalan kalah. "Udah?" tanya Mahesa ketika melihat kemunculanku. Aku tersenyum singkat. Kemudian masuk ke dalam mobilnya dan segera menuju ke rumahnya. Tidak ada percakapan yang banyak saat di perjalanan tadi. Sesampai di rumahnya, maminya ternyata udah menunggu Mahesa di teras depan rumah. Aku bertemu dengan maminya. Sangat disambut baik oleh beliau. Padahal aku jarang main ke rumahnya. Maminya langsung memelukku setelah aku mencium punggung tangannya. Beliau melepas pelukan kami, ia memegang kedua bahuku dan berbicara, "Lunaaaaa... kamu apa kabar, sayang? Udah lama kamu gak main ke rumah Tante, lho. Terakhir dulu waktu SMA itu ya kalau nggak salah, kan, ya, Sa." Sambil matanya memandang anak semata wayangnya tengah berdiri di sampingku. "Habis itu kamu ngilang gitu aja, udah jarang main ke sini," sambungnya lagi. "Biasa Mi, orang sombong, mah, gitu," celetuknya menelengkan kepalanya ke arahku dan menatap datar tatapanku yang sudah melotot ke dia.  "Nggak gitu Tan, kan, aku selama kerja di rumah sakit yang sama juga pernah beberapa waktu yang lalu main ke sini mau ketemu Tante tapi Tante, kan, nggak lagi di Bandar Lampung." Maminya Mahesa pun tertawa karena penjelasanku yang kelewat serius itu. Iya iyalah aku, kan, jadi gak enak kalo sampe dianggap sombong. "Hahaha... Tante cuma bercanda sayang... yang penting sekarang kita akhirnya udah ketemu," katanya. Mahesa sendiri pun kemudian masuk begitu saja. Aku pengen banget kayaknya nimpuk tasku ke kepalanya itu gara-gara perkataannya sebelumnya. Maminya sendiri hanya tertawa saja. "Aduh, kalian ini dari dulu nggak pernah yang namanya akur." "Kayaknya aku nggak akan pernah akur sama dia, deh. Yang ada kita deket itu bakal jadi saingan terus," balasku seraya mengernyitkan dahiku. Kepalanya tiba-tiba nongol dari balik pintu. "Tetep aja masih pinteran gue dari pada Lo," sahutnya lalu kemudian kepalanya hilang di balik pintu. "Lo!!!" Dia tertawa di sana. Anak j*****m memang. "Haduh! Sudah-sudah. Ayuk, masuk, yuk Lun," ajak maminya. Aku mengekor dari belakang maminya Mahesa. "Om mana, Nte?" tanyaku yang sejak tadi mencari keberadaan om Idham. Aku memilih duduk di kursi makan sambil mencomot buah jeruk. Tante Soraya lagi mengambil piring-piring untuk kita makan bersama. "Om lagi ditugasin di Sulawesi, Lun," katanya. "Waw! Berarti Tante LDR-an dong," balasku sedikit kaget. "Hihi, iya, nih, udah mau nyaris satu tahun. Yah, lagi jalan bulan ke tujuh kita LDR. Ntah, kapan pulang. Tante belum tau kabarnya," ujarnya. Mahesa sendiri nggak pernah cerita ke aku. Ngomong-ngomong, papinya Mahesa ini, dari yang pernah Mahesa ceritakan kepadaku sewaktu SMA dulu. Papinya adalah seorang polisi yang kini menjabat sebagai Komjenpol atau Komisaris Jendral Polisi. Dulu, yang aku tahu ya hanya berprofesi sebagai polisi saja tapi rupanya, lama sudah tak bertemu. Papinya sudah naik jabatan di tingkatan yang tinggi lagi. Waw! Sudah jelas keluarga Mahesa itu bagus banget. Keluarga yang terpandang. Papinya aja jendral kepolisian dan anaknya dokter spesialis jantung. Tampan lagi kedua lelaki yang menjadi malaikat tante Soraya. Siapa yang tidak mau dengan Mahesa coba. Kaya, keturunan yang bagus, ganteng, ramah lagi, tidak sombong dan yang paling penting bibit bebet bobot ya sudah jelas banget, deh. Apalagi Mahesa anak tunggal. Kekayaan, harta waris ya pasti jatuh di tangan dia. Udah terjamin banget yang namanya masa depan kalau hidup bareng sama dia. Cuma, ya, yang mau sama dia itu harus kuat-kuat sabar. Ya, namanya juga dokter spesialis jantung yang pastinya waktunya bakal sangat sibuk banget di rumah sakit. "Eh, ngomong-ngomong kamu gimana sekarang? Lagi deket sama siapa?" Ditanya begitu aku mendadak jadi gugup sendiri mau menjawabnya. Lagian kenapa tiba-tiba jadi aku yang dibahas? Gini, nih, kalo belum punya pasangan hidup di usia yang seharusnya sudah matang untuk menikah. "Ah, nggak Tan, masih sendiri aku," jawabku sedikit meringis. "Masa kamu masih sendiri, sih, Lun. Cantik, lho, kamu itu. Selain cantik, kan, kamu juga pinter, lembut, baik lagi. Masa iya nggak ada yang mau sama kamu," ujarnya tidak yakin dengan jawabanku tadi. Hahhhh... aku menghela napas berat. Sudah sering aku mendengar kalimat seperti tadi. Memang sepertinya identik banget, ya, disematkan pada wanita yang berkarir. Kebanyakan wanita yang karirnya bagus memang masih ada saja yang kurang kalau belum memiliki pasangan. Padahal aku sendiri ya sebetulnya santai saja menjalani kehidupan. Tapi, ini yang aku maksudkan, lama-lama karena ucapan orang lain tentang diriku itu rasanya membuat aku jadi kepikiran. "Tante..." Aku jadi malu sendiri dipuji begitu sama wanita yang sebenarnya lebih cantik dan mempesona.  "Akunya yang masih betah sendiri, Tan." "Lho?" Tante terlihat kaget. "Kenapa? Umur udah dua puluh delapan itu, kan, udah waktunya seseorang mencari pasangan. Bukan masalah mencarinya, sih, tapi rata-rata seusia kamu udah berumah tangga harusnya. Tapi, kamu kok malah masih betah sendiri, sih? Emangnya... Kamu gak mau apa bangun rumah tangga? Hm?" Tante mendekatkan telapak tangannya dekat mulutnya, gesturnya seolah berbisik denganku. "Jangan kayak Mahesa, masih doyan main-main anak itu. Disuruh nikah susah bener." "Ekhem! Ekhem!" Tante Diana langsung berubah sikap ketika Mahesa datang sambil berdeham keras. Dia memasang wajah yang dipaksa datar. Duduk kemudian di sampingku. "Kuping berasa panas amat ini. Berasa kayak ada yang ngomong in," sindir pemuda itu seraya meneguk air putih. "Kegeeran banget, sih, kamu Sa. Sapa juga yang ngomong in kamu." Tante Soraya mengambil piring punyaku. Ia menyiapkan segala makan malam ku di atas piring ku. "Mi, Luna masih betah sendiri itu karena dia belum bisa move on dari mantan pacar pertamanya itu," seloroh Mahesa yang kurespons cubitan pedas di pinggangnya. Dia meringis kesakitan sambil mengusap-usap bekas cubitan ku. "Heh! Parah Lo. Perih tau," omelnya padaku. Aku bersikap tak peduli. "Salah sapa asal nyeletuk aja," balasku sinis. "Lha? Emang iya, kan," balas Mahesa lagi, tidak mau kalah. "Heh! Sudah-sudah. Kalian udah pada gede, udah pada dewasa masih aja betah berantem. Nggak bagus adu mulut di depan makanan. Hargai rezeki, ya." Tante Soraya ini orang yang kalem, lembut, bijaksana dan pembawaannya tenang sekali. Sementara suaminya tegas dan berwibawa terus agak dingin lagi. Lah, kok anaknya... Ku lirik dia yang juga melirikku sambil makan paha ayam dengan cara makan yang menjijikkan dengan wajah yang sok dipasang gahar dan menyeramkan. Nggak yakin aku dia anak dari tante Soraya dan om Idham. Pasti dia anak pungut. Yakin aku. Bukan anak kandung mereka ini anak. "Mantan itu udah gak perlu diinget-inget lagi Lun, mending juga sama anak Tante, sudah jelas, sudah kenal deket. Tante percaya sama kamu kalo kamu bisa jadi pasangan yang terbaik buat anak Tante." Hah? Nggak salah, nih? Iya kali masa sama sahabat sendiri. Aku lirikkan mataku lagi. Dia tidak membantah. Tapi malah tersenyum bangga. Menaikkan turunkan kedua alisnya dengan kedua tangan dilipat di atas meja seperti anak SD yang bersikap rapi bersiap untuk pulang sekolah. Ia mendekatkan mulutnya di telingaku. "Tuh, apa kata gue, mending juga sama gue," bisiknya. Tante cuma tersenyum mesem-mesem saja. Seusai makan malam, aku menunggu Mahesa selesai shalat isya dulu untuk mengantarkan aku pulang. Aku sendiri tidak shalat karena sedang berhalangan pun dengan Tante Soraya juga. Jadi, aku dengan beliau jadi lebih banyak ngobrolnya. Di sofa panjang ini, kita duduk berdua dengan paha masing-masing ditaruh dengan bantal di atasnya. "Omongan Tante yang tadi itu jangan kamu ambil hati, ya. Tante nggak mau jadi orang yang toxic buat kamu, kok," katanya. Iya, aku tau soal itu. Harusnya ucapan yang Tante Soraya katakan bisa saja membuat seseorang tersinggung atau malah marah. Tapi, untuk diriku sendiri ya tidak begitu karena aku memang sudah tahu maksud dari Tante bicara begitu hanya mau memanasi emosiku saja. Seperti memancing diriku. Iya, ada maksud pada akhirnya untuk menjodohkan aku dengan Mahesa. Tante Soraya itu sudah kukatakan bijaksana orangnya dengan pikirannya yang terbuka. Dia tidak serta-merta langsung menghakimi seseorang karena keputusan yang diambil oleh orang itu terhadap kehidupannya sendiri. Seperti aku yang belum menikah saat ini, banyak orang yang menggunjingku sebetulnya. Dan yang Tante Soraya katakan tadi itu hanya sekedar-sekedar saja. Tidak seserius itu. Karena itu, aku tidak marah kepadanya. "Aku tau kok, Tante nggak akan mungkin buat aku down. Aku sendiri juga ingin membangun rumah tangga. Pasti dong, ya. Cuma... ya, gimana, ya? Namanya aku belum nemu seseorang yang cocok untuk aku." "Tante nggak memaksakan kamu sebenarnya Lun tapi memang Tante kepengen banget kamu jadi calon menantu Tante. Kamu Perempuan yang baik, yang pastinya bisa menyayangi Mahesa. Dibalik sifat kamu yang perfectionist, tegas dan kelihatannya kaku tapi kamu sebenarnya Perempuan yang penuh perhatian dan kasih sayang. Mahesa butuh Perempuan seperti kamu, sayang," terangnya kepadaku. Aku masih termenung. Bingung mau bilang apa kepadanya. Beliau kemudian duduk lebih dekat ke arahku. Gemercik gerimis hujan di luar sana menemani suasana obrolan kami pada malam hari ini. "Memangnya... Mahesa belum masuk kriteria kamu, ya, Lun?" tanya ia. Mulutku sudah terbuka tapi terkatup kembali. Pikiranku nggak fokus. Tidak selaras dengan hatiku ini. Aku bingung untuk menjawabnya. "Ehm... Sebenarnya Tante..." "Lun," panggil Mahesa. "Yuk, gue udah selesai." Mahesa tiba-tiba saja muncul. Muka Tante Soraya langsung berubah jadi bete sewaktu Mahesa datang. Iya, jelas saja. Orang Tante Soraya tengah menunggu jawabanku sejak lama aku terdiam tadi. "Mamah kenapa?" tanya Mahesa yang baru menyadari raut wajah mamahnya jadi cemberut gitu. "Mahesa ganggu, kah?" "Iya!" cetus maminya galak. Mahesa cengengesan yang kemudian duduk di hadapan kami berdua.  "Emangnya obrolannya serius banget, ya?" tanya Mahesa memancing. Ingin tahu apa yang sebetulnya dibicarakan oleh kami berdua. "Kenapa? Mau tau?" sahutku gak kalah judes sama maminya. "Ya... Kalo boleh, sih, gue pengen tau. Ngobrolin apaan, sih? Ngobrolin orang ganteng, ya?" "Kayak siapa?" "Kayak gue." Langsung kulempari dia dengan bantal yang kubekap sejak tadi. Memang langsung kena wajahnya tapi ia seperti mengendus-endus bantalnya itu. "Lun, gila. Bantal rumah gue langsung anget dibekap di dua gunung Lo." "MAHESAAAAAAAA!!!!!" teriakku saat itu juga. Suasana rumah kian menegang kala aku berdiri dari dudukku. Dan Tante Soraya sudah langsung ketakutan dengan bantal menutup setengah wajahnya dan Mahesa sendiri... Sudah kabur duluan. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN