Sosok berwajah pucat itu menunggu dengan tak sabar. Walau masih mmepertahankan sikap aristokratnya, terlihat kesabarannya semakin menipis. Dia mendecak kesal. “Mengapa dia lama tak muncul? Dia takut?” Tak ada yang menyahutinya, karena di sekitarnya hanya ada beberapa tubuh bergelimpangan di tanah dengan bersimbah darah. Mata merah orang itu berkilat menatap begitu banyak darah terhidang di depannya, bibirnya sedikit terkuak, menunjukkan gigi taringnya yang berkilau. Makhluk haus darah itu menahan hasratnya. Tidak dulu, dia harus membereskan urusannya dulu dengan bocah sialan itu! “Takut? Tak ada istilah itu dalam hidup saya!” Melangkah mendekatinya, Johny yang penampilannya begitu suram dan misrterius. Hilang sudah kesan konyol

