1. KELAHIRAN
Seperti yang sering orang pikirkan tentang keluarga ningrat. Mereka memiliki banyak uang, kekuasaan, terpandang dan yang pasti melegenda.
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Keluargaku keturunan ningrat, Ibu dan Rama menganut faham-faham jawa yang kental. Kami dibesarkan oleh karakter Ibu yang keras dan sedikit otoriter. Ramaku justru sebaliknya, beliau lebih kalem dan menjadi pelindung bagi setiap anak-anak ketika istrinya murka.
Dalam banyak hal, setidaknya perempuan dalam keluarga kami selalu menganggap bahwa menjadi lelaki memiliki keunggulan. Dibanding kedua saudaraku, jelas memang aku selalu menjadi yang paling bebas. Meski begitu bukan berarti hidupku dalam ketenangan yang nyata.
Ibu dan Rama selalu menutut untuk menjaga kedua adikku. Belum lagi Ibu yang selalu meminta aku segera menikah.
Tapi setelah negara api menyerang. Semua berubah.
***
Dalam setiap kelahiran, di dalam suatu keluarga akan menjadi sumber kebahagiaan bagi kedua orangtua nya. Bayi-bayi itu terlahir tanpa dosa juga mengemban banyak takdir yang ada di pundak mereka.
Dan para orangtua sedikit banyak berpikir bahwa takdir anak mereka ditentukan dari setiap keputusan mereka sendiri. Mulai dari makanan, sekolah, pekerjaan bahkan sampai jodoh. Orangtua memiliki rasa tanggung jawab untuk memilihkan hal tersebut untuk anak mereka.
Dalam situasi tertentu, mungkin ini akan menjadi dogma yang salah. Tapi bagi seorang Retno, yaitu ibuku sendiri. Setiap anak di dalam keluarga kami diharuskan mengikuti semua peraturan yang dibuatnya juga sejuta peraturan lainnya yang mengikat strata kami.
Sebenarnya, dalam era yang lebih modern. Kami hidup lebih bebas. Tidak lagi terikat dengan banyak aturan adat. Walau pun dalam beberapa hal tetap tidak bisa lepas dari aturan itu. Tapi setidaknya, keturunan sekarang akan jauh lebih merasakan adanya pilihan yang bisa mereka buat sendiri.
Jika bagi orang awam. Kehidupan di dalam keraton adalah sesuatu yang "wah". Tapi bagi adik bontotku yaitu Yayi. Dinding keraton adalah sel penjara baginya. Ironis memang, aku harus sekandung dengan adik semacam itu. Tapi jangan salah, aku akan menjadi orang pertama yang melindungi dia jika ada sesuatu yang mengancamnya.
Dibanding Yayi, Roro lebih manut dan kalem. Menurun sekali sifat Rama pada dirinya. Sedangkan Yayi, lebih banyak mirip Ibu. Kalau aku? Hahaha aku perpaduan di antara mereka.
Kelahiran dan kelahiran. Sampai umurku setua ini aku belum memiliki arti dalam hidupku sendiri. Hampir separuh hidup, aku habiskan di kota Jogja. Sebagian yang lain di Singapura saat aku kuliah dan berakhir lagi di kota gudeg.
Aku memutuskan pulang ketika aku mengetahui Ibu sering sakit-sakitan setelah ditinggal Yayi pergi kuliah ke London. Belum lagi, hanya ada Roro yang merawat kedua orangtuaku yang entah bagaimana selalu mampu membuat anak-anaknya merasa bersalah jika tidak menuruti perintah mereka.
Padahal, ada banyak pekerjaan yang bagus di negeri dengan icon singa itu. Tapi anak tetaplah anak. Aku tidak mungkin menambah beban Ibu. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Senyaman-nyamannya negeri orang. Lebih nyaman rumah sendiri. Bagiku berkorban bukan sesuatu yang baru. Mengorbankan kebahagiaan sudah aku pelajari seumur hidup. Karena lelaki sejati ialah yang rela berkorban.
"Mas," panggil Roro.
"Hmmm."
"Ngopo toh? Meneng wae?"
"Kenapa sih? Diam saja?"
"Yayi iku lhooo, piye?"
"Yayi itu lhooo, gimana?"
"Ya gimana? Rama sudah ngijinin pergi ke London. Lagian ini kan sudah masuk tahun pertama Mas. Sayangkan, kalau dia disuruh pulang lagi ke Jogja."
"Apa kamu gak kasian sama Ibu?"
"Ya kasian Mas, tapi kan seperti yang kamu tahu. Alasan Yayi pergi."
Kalimat Roro menggantung, benar juga. Alasan mengapa ia pergi, semua orang juga tahu. Meski lahir di dalam keraton. Kehidupan di sini sama sekali tidak cocok baginya. Bukan cuma itu saja, tapi juga ada hal lain yang disembunyikan Yayi yang kuketahui dengan jelas.
"Lagian aku gak habis pikir. Kenapa si Galih masih berusaha deketin Yayi?"
"Mereka udah gak berhubungan lagi lho, Mas."
"Moso?"
"Masa?"
"Ho'oh, emang kamu pikir aku gak memperhatikan?"
Pertanyaan Roro tidak perlu aku jawab. Kami berdua seperti mata-mata bagi semua aktifitas yang dilakukan Yayi. Bahkan setelah ia pergi, jangan harap anak cilik itu bisa kabur dari pengawasan kami. Siapa lagi kalau bukan kami tambang emas sementara ia kuliah di London jikalau bukan kami?
"Yayi cerita sama kamu?"
"Gak sih, tapi aku kenal temennya Galih. Jadi ya banyak informasi yang aku dapat."
"Hmmm."
"Jadi udahlah biarin Yayi sekolah yang bener. Toh, jiwanya dia memang gak bisa dikekang. Sama kaya kamu."
"Lhoooo kok aku?"
Aku mengajukan protes atas persamaan yang diutarakan Roro. Tolong, aku adalah orang yang paling banyak mengalah demi mereka. Kenapa juga mesti aku yang masih dipersamakan denga karakter Yayi yang pemberontak.
"Hahahaha udah ah, aku mau masuk dulu. Jangan kelamaan dipendopo, ihhh nanti ada yang nemenin lho. Biasanya mereka suka sama bujang lapuk kaya kamu, Mas."
"Woooooo semprul."
"Hahahahahaha."
Obrolan singkat itu terasa seperti obat tersendiri bagi kerisauanku. Meski kini formasi kami tidak lengkap. Tidak akan ada yang berubah dari ikatan persaudaraan yang dibangun dari awal kehidupan sampai setua ini.
Menjadi Kakak akan memiliki tanggung jawab yang besar. Apalagi menjadi lelaki. Bersabarlah hanya itu kuncinya.