"Gilaaaaang."
"Nggih Bu?"
"Ya Bu?"
"Tolongin Ibu ya. Anterin rantang ini ke Gusti Ratu Jenar."
"Bu, bukannya Gusti Ratu lagi ke Bandung?"
"Iya emang. Kan ada Mbok pasti yang bisa dititipin. Gak enak lho ini udah lama gak dikembalikan."
"Ya ya oke deh cintaku."
Aku mencium pipi Ibu cepat. Meski sudah setua ini, aku tetap anak Ibu. Jangan bilang aku tidak tahu malu. Tidak ingat umur, jangan. Soal umur, aku hafal sangat. Tapi siapa sih yang bisa lepas dari pelukkan hangat seorang Ibu?
"Mesti kalau ada maunya langsung nurut."
"Lho aku salah mulu perasaan. Padahal yaaa, aku anak yang paling nurut lho. Kurang apalagi Bu?"
"Kurang isteri."
"Hahahahaha," tawa Roro meledak.
Aku langsung beringsut ke sudut ruangan. Seperti tersisihkan atas sindiran to the point yang Ibu berikan. Untung dia ibuku.
"Udah buruan sana anterin. Nih sekalian, kalau ketemu Ratih titip coklat ya. Kemarin Ibu sengaja beli buat dia."
"Yah Ibu tuh, kalau Ratih dikasih coklat terus nanti giginya ompong."
Ratih, nanti akan aku perkenalkan siapa dia. Atau kalian bisa menilai sendiri seperti apa anak itu. Yang kehadirannya mampu membuat rumah ini menjadi hangat kembali setelah kepergian Yayi.
"Ah yawis, buruan sana."
"Hmmm."
"Mas, jangan-jangan jodohmu Ratih lho hahaha."
"Ngawur, masa aku nikah sama anak SMP."
Menikah dengan anak kecil? Gila saja, sama yang sudah matang saja aku malas. Apalagi harus memadu kasih dengan anak kecil. Bisa-bisa aku dianggap p*****l.
"Cocok itu Mas, lagi jamannya om-om emang nikah sama abg."
"Ibuuuuu," rajukku.
"Duh gusti, mangkat o. Selak aku serangan jantung iki," ucap Ibu dengan nada kesal.
"Duh tuhan, berangkat gak. Keburu aku serangan jantung ini."
Ya beginilah aku jika berada di rumah. Selalu menjadi pembantu bagi Ibu. Meski ada 500 orang lebih abdi dalem yang ada di dalam keraton. Rama dan Ibu tidak pernah mengajarkan kami untuk tergantung kepada mereka.
Tidak ada sistem tuan dan pembantu disini. Abdi dalem yang bertugas, sudah seperti keluarga kami. Secara turun temurun merawat dinasti. Menjaga harta benda dan menjadi saksi dimana dari kakekku pencipta dinasti ini hidup sampai sekarang.
Tidak banyak yang berubah memang. Peraturan tetap peraturan. Meski zaman dan orang telah berlalu. Dinasti keraton selalu diselimuti dengan hal-hal yang tak terbayangkan. Mau tahu contohnya?
Coba bayangkan, mana ada pangeran bawa rantang bermotif bunga merah jambu?
"Mas Gilaaaaang."
Deg, ah sial. Si Ratih bahkan muncul ketika aku belum benar-benar keluar dari pagar rumah. Sedangkan sosoknya sudah mengintai di sudut mataku.
"Mas Gilang mau kemana?"
"Ketempat Gusti Ratu Jenar, dek."
Pandangan Ratih menurun. Persis ke arah rantang yang kubawa,"Kembaliin rantang?"
"Gak, mau nikah sama Gusti Ratu Jenar."
"Iiihhh, Mas ngomongnya. Kalau ketahuan Rama bisa disunatin lagi kamu."
"Ya lagian kamu masih nanya toh."
Dari pada terus menerus meladeni anak ini. Aku lebih memilih untuk melangkah pergi. Tapi justru Ratih mencegat jalanku.
"Judes banget sih Mas sama aku?"
"Ya aku harus gimana?" ucapku sedikit kesal.
"Ya gimana kek."
"Lha?"
Aku mengelus dadaku sendiri. Jelas, Ratih adalah mahluk abg yang dengan setia selalu ngintilin aku kemana pun. Setelah Yayi, dia adalah mahluk yang spesiesnya bahkan tidak aku ketahui.
Ratih sebenarnya cantik untuk anak seumurannya. Rambutnya hitam panjang, kulitnya sawo matang dan bibirnya tipis. Mungkin ini salah satu alasannya kenapa dia cerewet.
Oh ya satu lagi, mungkin karena lagi puber. Ada jerawat mengumpul di dahi dan selalu ada rona merah ketika ia pulang sekolah. Efek panas-panasan karena terpaksa pulang jalan kaki.
"Mas, aku ikut ya?"
"Gak ah, kamu ganti baju aja belum. Tuh itu rambutmu aja masih bau matahari," ucapku sambil menunjuk rambut dan memencet hidungku sendiri.
Aku menyusuri penampilannya yang sekarang masih menggunakan rok biru dan juga jaket tipis yang menutupi sebagian tubuh atasnya. Hari ini ia juga menguncir rambut panjangnya. Kalau dia bisa saja diam sedikit. Pasti keliatan lebih cantik.
"Ya namanya baru pulang sekolah. Kaya gak pernah muda aja. Susah sih kalau udah om-om."
"Nah itu tahu dek, pulang dulu sana. Salam sama ibumu."
"Budhe gak nitip apa gitu sama Mas buat aku?"
"Oh iya, ini coklat."
"Naaah. Makasih ya mas Gilang yang ganteng."
Aku sedikit berdeham ketika Ratih memujiku seperti itu. Bukan karena senang, tapi karena ada tiga orang abdi dalem yang sedang lewat yang dengan pasti aku tahu mereka mendengar apa yang dikatakan oleh si kucrut Ratih.
Aku kan tidak mau dianggap sebagai p*******a. Karena memiliki hubungan dengan anak dibawah umur. Walau itu wajar terjadi di dinasti kami dan meski jarak umur kami hanya berbeda lima belas tahun. Iya aku tahu, itu perbedaan umur yang jauh.
"Yaudah sana pulang."
"Siap."
Ratih mengucapkannya dengan tangan berada di depan dahi. Sikap hormat selayaknya pada bendera. Aku hanya menggeleng, kenapa mesti memiliki saudara seperti dia. Punya adik seperti Yayi saja, mungkin belum cukup bagi Tuhan untuk menyiksaku. Itu makanya kenapa ditambah dengan saudara jauh seperti Ratih itu.
Aku jadi berpikir, mungkin aku punya karma dikehidupan lalu sampai harus terus berurusan dengan orang-orang semacam mereka. Mungkin.
Sejurus kemudian, aku menengok ke arah Ratih yang kini berjalan membelakangiku. Jika seperti ini, aku jadi sedikit rindu dengan Yayi. Anak itu selalu menggoda kakaknya dengan sebutan "ganteng" kalau sudah ada maunya.
Aku dan Roro memang selalu mengalah soal apapun untuk Yayi. Bagi kami berdua, setan kecil yang memang memiliki ciri khas untuk bisa mengikat setiap anggota keluarga dalam kebahagiaan atau kesedihan.
Seperti keputusannya kuliah di London. Membuatku sedikit terkejut, tidak banyak anak perempuan yang diperbolehkan kuliah sejauh itu. Belum lagi jika ditelisik dari banyaknya masalah yang sering dibuat Yayi. Bagaimana ia bisa hidup di negeri orang jika seperti itu latar belakangnya?
Semua orang dalam keluargaku tahu alasan sesungguhnya kenapa Yayi memilih pergi. Gadis itu memang harus menyembuhkan lukanya sendiri dan aku sebagai kakaknya hanya bisa mendoakan yang terbaik, meski sekarang tidak ada lagi teman bertengkar sepanjang waktu di rumah. Tetapi dengan mengurung dia di dalam keraton juga tidak baik.
Aku melihat langit yang berwarna jingga dan menghela nafas. Burung selalu terbang kemana pun dia mau. Tapi pada akhirnya ia akan kembali lagi pada sarangnya.
Begitu pun Yayi, bagaimana pun ia mencoba menjauh. Aku yakin akan ada waktunya ia kembali pulang. Karena ini adalah rumahnya, dimana ia dibesarkan dan dimana seluruh cinta menunggunya.