3. RAHASIA

1588 Kata
"Reza." "Hey mas." "Kapan pulang?" "Baru kemarin, lho mau kemana bawa-bawa rantang?" Reza menanyakan hal yang paling klise, ia tahu deenngan jelas bahwa rantang ini milik ibunya. "Ini disuruh kembaliin rantang Gusti Ratu Jenar sama Ibu." "Ohhh, budhe apa kabar?" "Alhamdulillah baik." "Mas Gilang apa kabar?" "Alhamdulillah baik." "Jadi kapan nikah?" Sudah kuduga, setiap kemana pun kaki ini melangkah. Selalu akan ada pertanyaan. Kapan menikah? Seolah-olah jika Gilang Rajendra tidak menikah. Maka panggung persilatan akan runtuh, yang benar saja. "Hahahaha bercanda Mas." Bercanda kok kayanya niat banget. "Eh iya Mas. Yayi ada dirumah?" Aku mengerutkan kening,"Lho kamu emang belum tahu?" "Soal?" "Yayi kan kuliah di London." "Oh?" Ekspresi Reza penuh dengan maksud yang entah apa. Reza memang tipe laki-laki yang flamboyan. Banyak perempuan yang rela antri untuk dijodohkan dengannya. Siapa juga perempuan yang mau nolak nikah sama Pangeran penerus takhta keraton? "Iya, udah mau setahun. Kamu aja yang baru pulang, makanya baru tahu." "Hehehe, kukira masih di rumah," jawabnya sambil menggaruk kepala. "Emang kenapa? Tumben nanya Yayi." Penasaran juga, kenapa tiba-tiba anak ini menanyakan adikku. Waktu kecil saja jarang bermain bersama. "Eeh nganu Mas, aku ada sesuatu yang mau diomongin sama Yayi." Aku mengerutkan kening curiga. Setahuku, Reza dan Yayi tidak dekat satu sama lain. Mereka hanya bertemu jika memang ada acara keluarga besar saja. Tapi untuk ketenaran adikku yang satu itu. Jangan sampai ada yang meragukannya. Tidak ada satu orang pun di dalam keraton yang tidak tahu soal Yayi. Si pembuat onar, anak dari pasangan Retno dan Aryo. "Ooo ada sesuatu yang aku belum tahu iki, mesti." "Mboten enten Kakang." "Tidak ada kakak (laki-laki)." "Hahaha yawis, ini aku titipin ke kamu aja ya rantangnya." Aku menyerahkan ramtang merah jambu itu kepada Reza. Tapi jika dipandang dari mana pun Reza tetap karismatik. Bahkan walau sedang menenteng rantang merah jambu. "Iya, Mas." "Sesama pangeran kita harus saling membantu," ucapku sambil menepuk-nepuk pundaknya. "Kalau Yayi pulang, kabari aku ya, Mas." "Sip. Kamu jadiin isteri juga boleh." "Hahaha." Aku akhirnya berpamitan langsung saja dengan penurus takhta dinasti di tahun berikutnya itu. Reza Jaya Putra, Pangeran termuda yang dimiliki keraton sekarang. Anak laki satu-satunya dari Ngarso Dalem. Jika harus diceritakan dan diurutkan bagaimana posisi di antara para penerus takhta maka bisa aku pastikan bang Toyip pasti sudah pulang duluan bahkan saat ceritanya belum selesai. Tapi setiap kelahiran di keluarga kami yang sekarang terpecah-pecah. Selalu dilukis dan dicatat dalam pohon keluarga yang di pajang dibeberapa bangunan keraton. Selain memang untuk pengetahuan wisatawan. Hal tersebut juga termasuk tradisi kami. Sebenarnya begitu banyak rahasia di sini. Sejak kecil bahkan aku diajarkan oleh Ibu untuk menutup mulutku ketika sesuatu terjadi, apalagi jika itu menyangkut Ngarso Dalem dan keluarga. Seperti kejadian beberapa tahun silam saat aku melihat bagaimana ibunya Ratih memohon bantuan pada Ngarso Dalem untuk bisa bercerai dengan suaminya yang notabennya sepupu dekat dengan Ngarso Dalem. Perceraian adalah hal yang dianggap tabu di sini. Ketika menikah, maka seumur hidup harus dipertahankan. Jika memang harus berpisah. Maka hanya kematian sendirilah yang berwenang atas itu. Di dalam keraton, Ngarso Dalem yang paling berkuasa atas segala sesuatu yang terjadi. Memutuskan masalah dan juga perkara yang menganggu ketentraman Jogja atau keluarganya sendiri. Ayah dan ibu Ratih memang kurang harmonis. Pernikahan mereka sudah di atur oleh keluarga besar. Semacam perjodohan yang gagal. Jika sampai ada yang mengatakan bahwa perjodohan adalah hal yang basi. Bagiku dan adik-adikku atau seluruh anak-anak yang memiliki darah biru yang masih tinggal dalam lingkup keraton adalah suratan takdir. Itulah kenapa ibuku sangat perhatian dengan Ratih. Bahkan mungkin, Ratih sudah dianggap nya anak sendiri dan bagiku yang notabennya cucu dari anak lelaki tertua dari trah Ngarso Dalem terdahulu. Mengemban banyak sekali tugas untuk menjaga adik-adikku yang sekandung atau pun tidak. "Mas Gilaaaang." Aku menengok ke sumber suara yang kutahui dari siapa. Ratih berlari ke arahku dengan wajah panik dan air mata yang menetes. Beberapa kali ia menghapusnya dan tangan kirinya mengangkat jarik yang dikenakan. "Mas tolong aku." Reza yang memang belum masuk ke kediamannya juga melihat Ratih yang tampak begitu berantakan. Ia segera mendekati kami. "Ono opo Ratih?" "Ada apa Ratih?" Mata Ratih yang digenangi air melirik ke arah Reza lalu memberikan hormat dengan menangkup kedua tangannya dan sedikit menunduk. "Nganu Mas, Ibu dan Bapak." "Kenapa?" tanyaku. "Bapak mukulin Ibu," lanjut Ratih dengan suara dan tangisannya yang pecah. Aku secara responsif langsung menarik tangan Ratih yang terlihat gemetar. Lalu berusaha menenangkannya untuk bisa mendengar cerita yang lebih jelas lagi. Aku bahkan tidak punya kuasa jika itu memang benar terjadi. "Pak le mukul ibumu, Tih?" Ratih mengangguk mendengar pertanyaan Reza. Aku melihat Reza mulai merasa kesal dengan perlakuan Pak le nya, bukan sekali dua kali ia mendengar laporan seperti ini. Tetapi terlalu sering, hingga Ngarso Dalem sendiri bahkan tidak bisa berbuat apa-apa dan Ratih, bagaimana dengan nasibnya? "Ayo pulang, kita harus hentikan bapakmu," ucap Reza. Kami bertiga akhirnya bergegas menuju wilayah timur dari keraton utama kediaman Ngarso Dalem. Disanalah Ratih tinggal dengan keluarganya. Bahkan aku bisa melihat beberapa abdi dalem juga memasang raut wajah yang sama seperti Ratih. Khawatir dan takut tapi tidak berdaya melakukan apapun. "Ampun Mas." "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan dibelakangku?" Dengan suara lantang bapak Ratih menanyakan hal yang entah apa itu kepada isterinya. Ratih yang mendengar suara keributan dari dalam rumah masih saja menangis dan kemudian, aku melihat ibuku sudah hadir disini. "Ibu." "Iki wis ndak bener." "Ini sudah gak benar." Seperti tidak menghiraukan panggilanku. Ibu berusaha melangkah ke dalam rumah. "Bu jangan masuk," cegahku. "Terus kamu mau lihat ada pertumpahan darah disini?" Ibu sepertinya menanyakan hal itu bukan padaku, tapi pada Reza yang memang memiliki posisi tertinggi setelah Ngarso Dalem. "Biar saya saja Budhe yang masuk." Tentu aku tidak membiarkan Reza masuk sendiri. Ketika orang sedang emosi, semua hal bisa dilakukan dan jika Reza sampai terluka. Tentu Ratih akan dipersalahkan dalam hal ini. Sedangkan si kucrut itu bahkan terlalu kecil untuk tahu permasalahan yang sebenarnya. "Pak le, hentikan. Ini sudah keterlaluan." Teriakkan Reza menghentikan gerakan bapak Ratih yang sudah mengangkat tangan ingin memukul isterinya. Saat perhatiannya terpecah ke Reza, aku segera menghampiri ibunya Ratih dan mengajaknya untuk bangun dari lantai. Aku bisa melihat beberapa lebam pada wajahnya. Air mata, rambut dan baju yang terkoyak sudah menjelaskan bagaimana pertengkaran ini terjadi, yang jelas. Tidak ada sejarah dalam keluarga kami seperti ini. Jika Ngarso Dalem tahu sampai ada kekerasan fisik. Aku yakin seratus persen, ia akan mengusir adik sepupunya itu dari keraton. "Apa urusanmu Reza?" "Apa pak le ndak takut sama Ngarso Dalem? Apa Pak le ndak takut diusir dari keraton? Aku bisa pastikan Pak le keluar dari keraton jika terus melakukan hal tidak baik seperti ini." "Kamu pikir suaramu itu akan membuatku takut? Kamu bahkan belum diangkat menjadi seorang Pangeran dan posisiku jauh lebih tinggi dari kamu. Jadi jangan coba-coba mengancam aku." Aku menghela nafas, pada saat seperti ini saja. Posisi dan gelar masih dipakai sebagai tameng atas semua perilaku yang salah. Dengan jelas aku bisa mengetahui ending cerita kali ini. "Pak le, hukum negara ini tidak melindungi orang-orang yang salah walau pun memiliki gelar ningrat sekali pun," ujarku. "Nak Reza, saya dan Ratih saja yang keluar dari keraton. Saya mohon Pangeran mau mengabulkan permohonan saya." Ibu Ratih kembali bersimpuh di lantai menghadap Reza. Dalam tradisi keraton, posisi seperti itu adalah posisi yang paling menghormati seseorang yang kedudukannya jauh di atas dirinya. Dan saat melihat ibunya bersimpuh dengan tangan tertelungkup di depan muka. Ratih berlari dan memeluk ibunya. Hatiku sedikit nyeri melihat adegan seperti ini. Meski aku tidak begitu menyukai Ratih, tapi melihatnya menangis dan tidak berdaya membuat insting melindungiku terusik. "Bu wis toh bu, jangan seperti ini." Suara Ratih pecah karena tangisan. Matanya bahkan telah bengkak. "Kamu ndak ngerti Ratih." "Mas Reza, aku mohon suruh Ibu berdiri," Ratih mengatakannya dengan sesegukan. "Bu le." "Ndak, aku gak akan berdiri sebelum Ngarso Dalem mengijinkan kami keluar dari keraton." "Bagus Narsih, aku jadi tidak repot-repot mengusirmu lagi," balas Pak le Ganu dengan arogan. "Begini ya kelakuanmu Ganu. Main tangan seenake. Sudah Narsih, bangun sekarang. Kamu ikut saya ke rumah dan kamu Reza dan Gilang. Bawa orang itu ke kantor polisi," perintah Ibu dengan suara yang menggelegar. "Apa-apaan ini, aku tidak bersalah. Aku ini suaminya. Aku berhak melakukan apa saja." Tidak, jika terus seperti ini. Semua akan tambah runyam. Aku melihat Reza yang memiliki keraguan. Bukan tanpa alasan mengapa ia tak mengambil keputusan. Aku juga tahu bagaimana rasanya berada di posisi Reza sekarang. "Bu, jangan seperti itu. Jika masalah ini sampai keluar keraton. Ngarso Dalem pasti akan terganggu." Ibu sedikit tenang saat aku mengatakan hal tersebut. Jelas, apapun keputusan berkaitan dengan keluarga dan keraton. Selalu ditangani sendiri oleh Ngarso Dalem. Suara perempuan di dalam keraton tidak akan banyak pengaruhnya. Tapi aku yakin, kali ini Ngarso Dalem tidak akan membiarkan adik sepupunya itu lepas dari tanggung jawab. "Narsih dan Ratih, bawa semua pakaian kalian. Kalian tinggal sama Budhe mulai hari ini, sampai Ngarso Dalem dan Ratu Jenar pulang dari Bandung. Nurut ya sama Budhe, ini cara satu-satunya untuk melindungimu dari dia." "Duh Mbakyu," ucap Narsih dengan nelangsa. Ratih yang masih menangis, kini sibuk berusaha menenangkan ibunya. Aku dan Reza tak berbuat apapun untuk bisa meciduk Pak le kami yang dengan jelas berbuat tindak kekerasan dalam rumah tangga. Aib akan terus dijaga menjadi rahasia keluarga. Tak banyak yang tahu selain abdi dalem yang memang telah mengabdi berpuluh-puluh tahun, pasti memilih menjahit mulut mereka sampai mati demi menjaga rahasia keluarga keraton. Dan aku, aku pangeran yang biasa-biasa saja. Hanya akan melihat bagaimana perkembangan masalah ini selesai. Reza, Pangeran muda kita akan berperan banyak dalam hal ini. Posisinya sebagai penerus takhta akan segera diuji atau mungkin dipertanyakan kepantasannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN