7. MALAM SATU SURA

1170 Kata
Setelah acara labuhan. Ritual tidak berhenti sampai disitu. Seisi keraton disibukan dengan banyak sekali persiapan. Aroma menyan dan bunga bercampur jadi satu. Para abdi dalem bekerja berkelompok. Ada yang khusus membuat makanan untuk sesaji. Ada yang sibuk merangkai bunga dan menaruhnya disetiap sudut ruang keraton. Ada yang sibuk wara wiri hanya untuk terlihat bekerja dan itu adalah aku. Aku melihat Ratih baru pulang dari arah pendopo bangsal Sri Menganti. Mukanya terlihat sangat lelah, kain jariknya telah berantakan. Ia menghampiriku yang tengah duduk di bawah pohon depan rumah. Lalu memilih duduk bersamaku di bawah pohon yang memiliki tempat duduk yang terbuat dari besi bercat krem, gaya eropa. Kami akhirnya saling menikmati udara senja. Melepas penat dan lelah seharian. Langit sore yang temaram dan burung-burung gereja yang berterbangan tak beraturan. Ratih tiba-tiba menyandarkan kepalanya ke bahuku. Aku langsung menegang, tidak siap mendapati perlakuan seperti ini. Sebenarnya hanya bersandar saja tidak masalah, tapi kenapa aku yang jadi gelagapan sendiri? "Mas." "Hmm." "Aku minta maaf ya, kemarin bikin Mas Gilang malu." "Hmm, tapi senengkan?" tanyaku. Ratih merubah posisinya sekarang. Ia tidak lagi bersandar pada pundakku. Tapi justru menatapku seolah-olah ingin mengetahui sesuatu. "Kamu kenapa liatin aku begitu?" "Mas udah gendong perempuan mana aja?" "Kok kesannya aku playboy banget ya." "Aku cuma nanya," jelasnya. "Gak ada, selain kamu. Kamu suka ya sama aku Tih?" tanyaku dengan nada menggoda. Ratih terpaku beberapa saat sebelum ia menjawab pertanyaanku. Pandangannya tidak bisa kumengerti. Segurat tampak sedih, namun ada rasa yang jelas disana. Seperti rasa mengharapkan sesuatu. Atau aku hanya terlalu percaya diri menanyakan hal sesensitif itu sebagai bahan lelucon? Tangan Ratih kemudian membelai rambutku. Suasana disekitar kami menjadi lebih hening. Angin juga tidak berhembus kencang. Ada beberapa gugur daun yang jatuh dari pohon yang menaungi. Diperlakukan seperti ini kenapa aku justru merasa menjadi seorang anak kecil dihadapan Ratih. Sorot matanya, belaian tangannya, bahasa tubuhnya seperti bukan Ratih yang kukenal. Perasaan dihatiku berkembang menjadi perasaan nyaman. Hangat menjulur didalam d**a, menjadikan lidaku kelu dan pandangan kami terus bertemu. Tak ingin melepaskan dan dilepaskan. Ia tersenyum, manis sekali. Lalu ia berdiri dan berjalan meninggalkanku. Tubuhku masih belum bereaksi atas apa yang terjadi tadi. Sepertinya sel-sel dalam otak berhenti bekerja dan hanya mampu menerima semua perasaan yang disampaikan Ratih tanpa bisa membalasnya. "Tadi itu apa?" batinku. Kenapa Ratih bersikap berbeda dari biasanya yang rewel. Ia bersikap tidak seperti anak-anak seumurannya. Atau mungkin haid pertamanya kemarin telah merubah seluruh kepribadian yang kekanak-kanakan? Ah aku sudah mulai berpikir ngawur. Tapi tadi adalah komunikasi pertama kami setelah hampir seminggu selalu menghindar satu sama lain. Mungkin rasanya berbeda karena itu. Ya benar, mungkin karena kami sudah jarang berbincang dan tidak ada arti apapun dari degup jantung dan perasaan hangat di dadaku. Karena senja sudah turun sepenuhnya aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah pun tak jauh beda dengan keraton utama. Disetiap sudut ada mangkuk yang dibuat dari daun pisang yang diisi dengan kembang kantil yang sudah mekar, bunga melati dan mawar. Ibu, Rama dan Roro kemungkinan akan pulang tengah malam. Mereka pasti sibuk di bangsal utama menjalani tradisi yang diadakan setiap tahun. Dimana akan ada kirab khusus. Acara ini digelar bahkan berbarengan dengan keraton solo. Di keraton solo seluruh warga akan tumpah ke jalan-jalan. Melihat bagaimana kirab kebo bule yang lebih dikenal akrab dengan Kyai Slamet akan dilepas ke jalan tepat tengah malam nanti. Arak-arakan itu tergantung dari Kyai Slamet akan jalan kemana. Tidak akan ada satu abdi dalem pun menghentikannya. Pukul sepuluh aku memulai ritual memandikan "pegangan" yang kupunya. Namun baru saja aku duduk setelah mengeluarkan keris. Tiba-tiba lampu di rumahku mati. Suasana jadi lebih mengcekam. Aku tetap berusaha berpikiran positif meski bulu kuduk sudah berdiri. Tidak lama kemudian aku bisa melihat setitik cahaya yang mengarah ke arahku. Ada seseorang yang membawa lampu sentir rupanya, kupikir itu Ratih. Karena memang hanya ada kami berdua di rumah. Namun dugaanku salah, yang datang justru Lastriatih yang kukenal tidak sengaja di pantai parangkusumo kemarin. Aku tidak mengetahui ia datang dari mana tapi, hal yang pertama kulihat adalah kakinya. Memastikan apa dia menapak atau justru mengambang diudara. Cahaya sentir tak cukup terang rupanya untuk membuat mataku bisa melihat kaki-kaki jenjang Lastriatih. Aku juga bisa melihat bahwa pintu utama rumah ternyata tidak ditutup. Sampai dengan tahap ini aku masih bisa berpikiran positif. Mungkin dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. "Mas, ini aku bawakan sentir. Tadi aku baru saja datang, di keraton sudah lebih dulu mati lampu. Jadi kupikir mas Gilang pasti membutuhkan lampu ini." "Oh, eh kok kamu bisa masuk keraton?" "Hahaha, itu perihal gampang bagiku. Mas gak berpikir aku mahluk haluskan?" ujarnya dengan nada menggoda. Aku hanya nyengir, memamerkan gigiku. Jarak kami hanya dipisahkan oleh lampu sentir yang dipegang oleh Lastriatih. Cahaya temaram ditambah suara jangkrik di luar membuat suasana menjadi lebih tenang. Aku baru menyadari bahwa Lastriatih masih menggerai rambutnya. Pakaiannya telah berganti oleh kebaya berwarna putih yang sangat menonjolkan bentuk dadanya. Aku berusaha membuang pandanganku ke hal lain tapi selalu berakhir ke sana. Lastriatih tersenyum, seolah mengerti apa yang menjadi kerisauanku. Ia mengenyampingkan rambutnya yang semula digerai di belakang. Syukurlah, keindahan itu sedikit tertutupi. Aku jadi tidak perlu merasa setengang ini. Aku berusaha lagi dan lagi untuk mengalihkan perhatianku dari Lastriatih ke benda pusaka yang sudah aku keluarkan dari tempatnya. Sudah ada air kelapa dibaskom dan keris yang sudah kurendam semalam. Ada jeruk limau untuk menggosok permukaan keris sampai bersih dan minyak warangan khusus yang membuatnya tidak karatan setelah dicuci. Aku menggosok permukaan keris yang berumur berabad-abad ini secara perlahan. Namun jari-jari Lastriatih menghentikannya. Mau tidak mau aku menengok ke arahnya lagi untuk mendapatkan jawaban dari tindakannya tadi. "Kamu kenapa?" Lastriatih tidak menjawab, tapi ia menggerakkan badan ke arahku. Semakin dekat sampai pada akhirnya mendaratkan bibirnya yang ranum di bibirku. Merubah suasana menjadi lebih panas. Awalnya aku terpaku namun lamban laun aku membalas ciumannya perlahan. Seperti menerima begitu saja apa yang ia lakukan. Ciuman itu berganti menjadi gigitan-gigitan kecil yang membuat gairahku naik secara pasti. Tubuh Lastriatih kueratkan ke tubuhku, memangkas jarak yang tersisah di antara kami. Jari-jarinya yang lentik membelai tengkukku. Rasanya nikmat dan begitu familiar. Aku menurunkan ciumanku ke arah lehernya. Menyibakkan beberapa helai rambut terlebih dahulu yang dengan lancangnya menghalangi ciumanku. Ada lenguhan yang keluar dari bibirnya. Pertanda ia juga menyukai sentuhan yang kubuat. Cukup lama aku bermain di leher jenjangnya sebelum kubuka perlahan kebaya yang ia kenakan. Lastriatih tampak tidak memberikan perlawanan. Rasanya seperti mengetahui bahwa hasrat yang kami miliki sekarang adalah sama. Tapi pandanganku terganggu dengan satu bekas luka tepat berada di daerah dadanya. Jari-jariku meraba bekas luka yang sudah mengering itu. "Darimana kau dapati luka ini?" "Dulu, ada seseorang yang menancapkan sesuatu di dadaku." "Siapakah orang itu? Dan apa yang ia tancapkan?" tanyaku penasaran. "Bukan sesuatu yang harus diceritakan." Akhirnya aku memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut dan memilih untuk kembali menutup kebaya yang sempat kubuka tadi. Aku merasa bersalah karena sudah berlaku sejauh ini. Dengan seorang gadis yang bahkan hanya kukenal lewat namanya saja. Lastriatih hanya tersenyum kepadaku. Tidak ada gurat kekecewaan di matanya. Ia justru mengelus rambutku seperti yang dilakukan Ratih sore tadi. "Aku pergi dulu ya mas, nanti aku datang lagi." Aku hanya mengangguk mengiyakan perkataannya. Kepergian Lastriatih diikuti dengan harum bunga. Ia juga meninggalkan lampu sentir di atas meja. Setelah punggungnya tak lagi dapat ku lihat. Lampu rumahku menyala secara tiba-tiba. Aku bersyukur dalam hati, lalu mematikan lampu sentir yang ditinggalkan Lastriatih dengan sekali tiupan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN