Hari ini aku bergegas ke perpustakaan keraton. Tempat dimana banyak sekali dokumen penting tersimpan. Seperti surat-surat dan foto-foto lampau.
Semua tersimpan apik di sini dan tidak sembarang orang bisa masuk. Walau beberapa mahasiswa diperbolehkan meminjam buku, tapi hal itu membutuhkan persetujuan dari Ngaraso Dalem terlebih dahulu.
Ada bu Eka yang menjaga dengan setia dan merawat semua hal yang berkaitan dengan perpustakaan. Dia memberikan senyum ramah saat aku masuk. Bagaimana tidak, aku salah satu pengunjung rutin yang datang ke sini.
Perpustakaan keraton tidak terlalu berbeda layaknya perpustakaan biasa. Hanya saja aroma buku-buku tua lebih kental dan rak yang berjejer menjulang terbuat dari kayu jati yang kokoh. Juga ada beberapa bangku dan meja panjang sebagai tempat membaca bagi para pengunjung.
Tapi pagi ini sepertinya hanya aku yang baru datang. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Ini bagus, jadi aku lebih memiliki privasi sendiri.
"Ah ketemu," ucapku.
Buku tebal bertuliskan History of Java karangan Raffles sang arkeolog dari Inggris yang menceritakan tanah jawa dan beberapa candi-candinya. Menjadi tujuanku selanjutnya untuk mendapatkan informasi lebih dalam tentang sesuatu yang sedang kuteliti.
Aku sedikit banyak sedang tertarik dengan sejarah-sejarah candi. Selain suka melukis di waktu senggangku, mengetahui sejarah dari setiap unsur yang kupakai untuk potret karyaku juga termasuk salah satunya. Seperti yang sedang kukerjakan sekarang.
Rasanya setiap pelukis seharusnya mengetahui seluk beluk apa yang ingin ia buat. Aku memang bukan seniman profesional, meski lulusan s1 Bisnis UGM dan lulusan s2 James Cook University Australia yang berbasis di Singapura, tapi tetap saja. Ini adalah pakem-pakem yang kupegang.
"Hai."
Suara seorang perempuan mengalihkanku. Lastriatih lagi, ia kini berdiri di sampingku dengan senyuman ramahnya yang mampu membuat siapa pun yang melihat juga tersenyum.
"Kapan datangnya?" tanyaku.
"Barusan saja."
"Oh."
"Lagi baca buku apa?"
Aku menunjukan sampul depan buku yang sedang kupegang. Ia hanya mengangguk-anggukan kepalanya, mengerti.
"Mau aku ceritakan sesuatu tidak?"
"Cerita apa?"
"Tentang sejarah dua orang raja."
Aku sedikit kaget dengan apa yang dikatakan Lastriatih. Kupikir wanita seperti dia tidak begitu tertarik dengan sejarah. Tapi kini ia menawarkan padaku untuk mendengarkan sesuatu.
"Dulu sekali hiduplah seorang raja yang begitu angkuh. Ia dibesarkan dengan keras, dipersiapkan untuk menjadi penerus takhta dinasti mataram selanjutnya. Namun ia hidup dalam kesedihan yang mendalam dan berakhir menjadi pertapa."
"Kemudian seorang raja yang lain, dengan terpaksa pergi meninggalkan tanah kelahirannya. Melepas segala hal yang telah digenggamnya erat. Hidup menjadi seseorang yang kalah setiap hari sepanjang hidupnya yang berjaya."
Aku terus mendengarkan Lastriatih bercerita. Seperti terhipnotis, lagi dan lagi. Aku hanya melihat dan mencerna setiap informasi yang diberinya tanpa memberikan respon.
"Kedua raja itu pada akhirnya pergi dengan tenang menuju alam baka yang mengantarkannya kembali pada takdir-takdir mereka selanjutnya."
Aku mengerutkan kening bingung. Sampai disini aku tak mendapati kesimpulan apapun atas ceritanya. Tapi hal yang menyenangkan bisa mendengar Lastriatih bercerita.
"Aku hampir lupa, ada juga panglima perang yang begitu gagah yang menjadi saksi kunci dari cerita ini semua," lanjutnya
"Hmm apa raja-raja itu hanya fiksi belaka?"
Lastriatih menaikan kedua pundaknya berbarengan. Sambil tersenyum dan berusaha membisikan sesuatu padaku dengan sedikit berjinjit.
"Tidak ada ada yang tahu kemana takdir akan membawamu."
Aku tersenyum mendengar suaranya yang merdu begitu dekat di kuping. Sekilas kejadian beberapa waktu lalu di malam satu sura terbayang lagi dalam benakku.
Dengan gerakan cepat aku menarik pinggang Lastriatih agar lebih erat kepadaku. Ia tak menolak sama sekali, malah justru tertawa dengan suara rendah yang semakin membuatku merasa sulit melepaskan pesonanya.
"Kupikir aku telah menemukan takdirku," aku mengatakannya tepat menatap manik mata Lastriatih yang hitam.
Lastriatih menyubit katub hidungku, gemas."Aku telah menunggumu lama untuk mengatakan semua ini."
"Jadi bolehkah aku mengenalmu lebih dalam?"
"Asal mas Gilang ndak nakal hahaha."
Aku mendekati wajahku pada wajahnya yang dengan cepat disangkalnya memakai satu jari yang mendarat pada bibirku. Aku melihatnya dengan tanda tanya, apa kali ini dia menolak?
"Jika kau telah menemukan takdirmu, berarti kau bisa merubah dan mencegah malapetaka terjadi lagi untuk kedua kalinya."
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti ketika kau membuat pilihanmu sendiri."
"Aku rasa aku mulai menyukaimu, Lastriatih," aku kembali menegaskan perasaanku padanya.
Lastriatih diam saja, tak berusaha menjawab. Tapi ia kembali membelai rambutku, dengan sangat perlahan sampai aku sendiri lupa akan pernyataan cinta yang baru kulakukan.
"Datanglah besok malam ke pantai parangkusumo. Aku menunggumu disana."
Lalu ia melepaskan eratan di badan kami dan pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan. Seperti biasa, aku melihat punggungnya sampai berlalu. Menyisahkan rasa tak rela yang selalu muncul setelahnya.