Aku melihat bayangan diriku sendiri di cermin. Kaus polos berwarna putih dan jeans biru melekat di badan. Aku menyisir rambut panjangku sebatas leher yang sedikit ikal, entah sudah berapa kali ibu menyuruh untuk memotongnya. Tapi aku kekeh mempertahankan harkat dan martabat kejantanan ini.
Untuk ukuran laki-laki jawa. Aku cukup tinggi, 185cm dengan berat badan yang seimbang. Dengan kulit sawo matang dan wajah yang biasa-biasa saja tentu aku kalah jika dibanding Reza, saat Reza berjalan pasti selalu akan ada saja gadis yang berbisik-bisik ke arahnya.
Kalau aku yang berjalan, ah pasti justru dikira narapidana yang baru keluar dari sel tahanan. Jadi jangan coba membayangkan wajahku tampan, kita hanya berbeda selera dalam hal ini. Jika kamu kecewa saat membacanya, jangan salahkan aku. Salahkan saja penulisnya yang baru menggambarkan rupaku yang biasa-biasa ini.
Lagi pula jika aku terlihat seperti Reza yang supel dan karismatik itu. Tentu pembaca akan bingung siapa di antara kami yang lebih cocok disebut pangeran sejuta pesona. Jadi aku mengalah saja.
Setelah menyemprotkan beberapa kali parfum ke badan. Aku keluar dari kamar yang langsung disambut tatapan curiga oleh Ratih. Kebetulan dia ada di ruang tv.
"Mas Gilang mau kemana?" tanyanya.
"Kepo."
"Cie mau ngedate ya?"
"Cie cemburu ya?"
Ratih hanya manyun mendengar perkataanku yang balik menggodanya. Ia memegang ujung bajuku merajuk seperti anak kecil.
"Aku ikut boleh?"
"Gak."
"Jahat."
"Emang aku Rangga, kamu bilang jahat."
"Ikut yaaa," rajuknya lagi.
"Ajak aja Ratih, Lang."
Tiba-tiba rama muncul tanpa diundang sambil menyalakan rokok klobot yang sudah terselip di antara bibirnya. Ratih yang merasa mendapatkan dukungan, langsung menjulurkan lidah kepadaku.
"Ih apaan? Kamu kira mas mau ngajak kamu? Gak ya."
"Mau kemana sih, Lang?" tanya Ibu yang muncul dari arah dapur sambil membawa singkong rebus yang diletakkan di meja.
"Mau cari mantu buat ibu."
"Emang ada yang mau sama laki-laki gondrong kaya kamu?"
"Ini bukan sembarang gaya, ini style rock and roll bu."
"Gak sadar umur," sindirnya lagi.
Aku mengurut dadaku, kok punya ibu begini banget. Coba saja kalau Yayi yang berdandan rapih. Pasti langsung diadakan kenduri tujuh hari tujuh malam. Kalau perlu sampai motong kerbau sebagai rasa syukur kepada gusti Allah.
"Ajak aja sana Ratih, dia juga gak punya temen dirumah."
Aku menghela nafas, kalau sudah begini mana bisa aku mengelak. Akhirnya kudorong Ratih ke kamarnya untuk berganti baju. Entah bagaimana nanti sajalah, yang terpenting aku harus menepati janjiku dulu bertemu dengan Lastriatih di pantai parangkusumo.
Setelah menunggu hampir lima belas menit Ratih keluar juga dari kamarnya dengan mengenakan dress selutut berwarna biru laut tanpa lengan. Rambutnya dikepang ke arah samping. Aku yang melihatnya hanya mengangguk pelan, boleh juga lah. Setidaknya tidak membuatku terlihat berjalan dengan anak kecil.
"Ayo kita udah telat."
Ratih berpamitan terlebih dulu dengan ibu dan rama. Lalu mengintiliku dari belakang. Ada motor vespa berwarna coklat pasir yang menjadi andalan terparkir di depan rumah. Buat apa pakai mobil jika naik motor saja bisa lebih romantis.
Perjalanan dari keraton menuju pantai parangkusumo membutuhkan waktu sekitar satu jam. Ratih cukup anteng dibelakang, tak seperti perkiraanku tadi. Akhir-akhir ini dia sering membuatku salah menerka. Tampaknya aku harus mulai berusaha memandangnya sebagai seorang wanita bukan lagi anak-anak.
Tiba-tiba tangan Ratih memeluk pinggangku dan menyandarkan kepalanya. Ada sesuatu yang bergetar lagi di dalam d**a. Tapi aku coba untuk menghiraukan. Mungkin ini hanya efek mesin vespaku yang sudah tua. Kita harus selalu positive thinking disaat seperti ini. Aku kan tidak mungkin menyukai Ratih yang terkadang masih kekanak-kanakan. Kecuali jika secantik Lastriatih.
Perjalanan kami dihabiskan dengan keheningan dan pikiran masing-masing yang mengembara jauh. Tak terbatas ruang dan waktu. Sebelum sampai ke pantai parangkusumo. Kami harus melewati hamparan padang pasir yang berwarna gelap ke abu-abuan. Menjadikan perjalanan terasa semakin panjang.
Aku memakirkan vespaku dijalan setapak yang hanya berjarak beberapa meter dari bibir pantai. Ratih yang senang, sudah lebih dahulu berlari ke arah laut. Meninggalkanku, tak apa. Jika ia bisa asik sendiri berarti aku tak perlu repot-repot untuk menjaganya.
Sedangkan aku baru menyadari, bahwa aku tidak memiliki nomer telpon Lastriatih dan juga aku tak tahu harus menunggunya dimana. Beginilah jadinya jika hati terlanjur senang diajak bertemu dengan gadis cantik seperti Lastriatih, naluri lelaki.
Tapi dari kejauhan aku bisa melihat seorang wanita memakai kebaya berwarna hijau dengan motif bunga berwarna kuning. Ia juga menggunakan selendang berwarna senada dan rambut panjang tergerainya yang meyakinkanku bahwa itu pasti Lastriatih.
Aku berjalan ke arahnya, sambil tersenyum sendiri. Seperti anak remaja yang baru pertama kali berkencan, aku merasa begitu norak tapi kuakui sensasi ini sangat menyenangkan.
"Hai cantik."
"Mas Gilang."
Lastriatih tampak kaget mendapatiku sudah berada di sampingnya sekarang. Ah, kenapa melihat senyumnya saja selalu membuat darahku berdesir panas. Bolehkah aku katakan jika sore ini Lastriatih tampak lebih menggairahkan dengan kebaya berpotongan d**a rendah, itu?
"Mas, kesini sama siapa?"
"Oh, itu sama adikku yang kubilang namanya mirip kamu."
Lastriatih melihat ke arah Ratih yang sibuk bermain air tidak jauh dari kami. Lalu ia tersenyum, seperti memaklumi tingkah konyol anak itu. Bermain kejar-kejaran dengan ombak laut yang membasahi ujung dress nya.
"Jadi kenapa kamu mengajakku kemari?"
"Mas Gilang masih ingat dengan cerita yang tadi pagi kuceritakan padamu?"
Aku menganggukkan kepala, memberi tanda bahwa aku masih ingat cerita itu. Lalu Lastriatih tersenyum lagi.
"Kamu percaya renkarnasi mas?"
"Hmm, tidak."
"Setiap manusia selalu membawa dosa-dosa mereka. Menebus kesalahan mereka, atau melakukan hal yang sama lagi. Terus begitu sampai ia bisa mengerti tujuan hidupnya."
"Apakah tidak ada neraka dan surga bagimu?"
"Tentu ada, tapi dunia ini bekerja secara misterius. Banyak hal yang kita tidak ketahui," jelasnya.
"Ya, kupikir juga begitu."
Pembicaraan kami berjeda beberapa menit. Menikmati senja di tepi pantai ternyata memiliki kenikmatannya sendiri. Apalagi pantai parangkusumo cenderung masih sepi. Hanya ada aku, Lastriatih dan Ratih yang jadi pengunjung sore ini.
"Aku juga terikat dalam takdirku sendiri karenamu. Aku tahu, mungkin kau tak mungkin mengingatku mas. Tapi aku berhutang nyawa padamu."
"Maksudmu?"
Tiba-tiba saja Lastriatih mencium pipiku tanpa permisi. Ciuman itu hanya berupa kecupan ringan. Namun cukup lama dan aku membiarkannya tanpa protes sama sekali.
Ia melepaskan ciumanya, lalu menatap mataku lagi dengan tatapan yang sama dengan Ratih beberapa waktu lalu di bawah pohon. Aku baru manyadarinya, mata Lastriatih memiliki kesamaan dengan Ratih jika terus dipandang seintes ini.
"Rumahmu dimana, Tih?"
Lastriatih menunjuk ke arah laut bebas,"Disana, jauh di dalam sana. Aku yakin kamu telah mengetahui siapa aku sebenarnya."
Pandangan kami bertemu, tidak ada satu patah kata pun yang lolos dari bibir. Hanya ada angin yang berhembus, mengitari dan bermain dengan rambut-rambut kami.
Aku membuat spekulasiku sendiri sejak pertama kali bertemu dia di ritual larungan. Aku juga menyadari harum tubuhnya yang berbeda, pesonanya, tutur katanya yang menyihirku. Aku menyadari secara betul bahwa mungkin spekulasiku benar tentang Lastriatih. Tapi bagaimana bisa aku masih memiliki hasrat sekuat ini untuk terus berada di dekatnya?
Suara teriakan Ratih, mengalihkan perhatianku. Aku bisa melihat dia terjatuh. Secara refleks aku berlari ke arahnya, meninggalkan Lastriatih di belakang.
"Aw aw aw, sakit."
"Kamu gapapa?" tanyaku pada Ratih seraya berlutut di sampingnya.
Aku bisa melihat sikunya berdarah dan dress nya basah kuyup oleh air. Dengan cekatan aku membopong Ratih di depan, sebelum ombak yang datang akan membuat kami lebih basah lagi.
Aku menurunkan tubuh Ratih di pasir yang lebih kering. Mengecek lukanya yang mengeluarkan darah segar. Rasa khawatir merayap di benakku.
"Kamu kenapa bisa ceroboh begini sih?" tanyaku dengan nada marah.
Sialnya kami tidak membawa baju ganti dan tidak ada yang menjual baju di sekitar sini. Aku menengok ke arah belakang, berharap Lastriatih masih ada. Tapi ia menghilang secepat biasanya. Tanpa pikir panjang, kulepaskan kaosku dan memberikannya kepada Ratih.
"Ini, pakai ini."
Ratih tampaknya kaget melihat perilakuku, belum lagi matanya yang terpaku melihat tubuh atasku yang telanjang. Tapi tak kuhiraukan, yang terpenting ia harus merasa hangat. Jika ia sakit, maka aku yang harus bertanggung jawab atas dirinya.
Dengan ragu Ratih menerima baju yang kusodorkan. Karena sikunya yang berdarah, ia beberapa kali meringis kesakitan. Aku kembali mengambil kaos tadi, menggulung dan membantu Ratih memakainya.
Saat ingin memakaikan kaos kepada Ratih, pandanganku berhenti pada bekas luka yang ada di d**a sebelah kirinya. Bekas luka yang terlihat sama dengan Lastriatih. Berbentuk bulan sabit yang dalam.
"Dari mana kamu dapat bekas luka itu, Tih?" tanyaku ragu.
Ratih menunduk, mengikuti arah pandanganku."Oh ini tanda lahirku mas."