Malam itu setelah pulang dari parangkusumo, aku menyadari sesuatu. Mungkin selama ini apa yang kuanggap sebagai omong kosong benar adanya. Bayangan wajah Lastriatih terus saja berputar di benakku. Jika hal seperti itu memang benar-benar ada. Maka aku akan mulai mempercayainya kali ini.
Dua puluh tahun lalu. Sempat terjadi sesuatu di rumah kami.
"Mas Gilaaaaang."
Yayi memanggilku setengah berteriak dari halaman belakang. Roro yang lebih dekat dengannya mencoba menghampiri lebih dulu, ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Setelahnya, aku menghampiri mereka dengan malas.
"Mas maass, ke sini buruan," teriak Roro.
"Ada apa sih?"
"Itu."
Yayi menunjuk ke arah kebun mawar, aku mengikuti arah petunjuknya dan menemukan seekor ular berada di bawah tanaman mawar. Roro dan Yayi buru-buru berlari ke belakangku, berlindung.
Aku yang melihat itu hanya bersungut kesal, kupikir ada uang jatuh mereka sampai heboh seperti tadi. Yayi kecil mulai terisak karena takut dan Roro mencoba menenangkan dengan cara menggendongnya.
"Ro, bawa Yayi masuk," perintahku.
Roro yang menurut langsung membawa Yayi masuk ke dalam rumah. Sedangkan aku masih penasaran dengan ular yang mereka temukan. Ada sesuatu yang aneh di kepalanya, berpedar-pedar terkena cahaya matahari.
Aku mencoba mendekat secara perlahan dan mengelus ular itu, menjinakkan. Dengan sekali gerakan aku menangkap kepalanya. Benar, ada sesuatu yang tak bisa kukatakan itu apa. Tapi sepertinya, ular yang kupegang ini kesakitan. Akhirnya kucoba mencabut benda asing itu.
"Naah, kamu sudah bebas sekarang. Pergilah."
Ular yang kutolong tidak pergi dari tempatnya begitu saja, seperti berterimakasih. Ia melihatku dulu sebelum akhirnya meninggalkan tanaman mawar yang menjadi naungannya tadi.
Sedangkan benda asing yang tak kutahu apa namanya. Masih disimpan sampai sekarang, terbungkus rapih di satu kotak yang kusembunyikan. Kejadian itu terjadi saat umurku sepuluh tahun, aku juga telah lama melupakannya dan tidak menyangka jika kejadian itu memiliki makna yang besar sekarang.
Pikiranku terus saja berlari ke sana ke mari. Seperti tidak mau diam dari semalam, membayangkan wajah Lastriatih yang cantik dan mengingat bekas luka Ratih yang berbentuk bulan sabit.
Kenyataan bahwa Lastriatih bukanlah manusia adalah sesuatu yang tak terlalu membuatku terkejut. Aku memahami bahwa kehidupan kami atau setidaknya dunia ini bukan hanya milik bangsa manusia. Tapi yang paling menggangguku adalah pertanyaan apa hubungan sebenarnya dengan Ratih? kenapa mereka memiliki bekas luka yang sama?
"Mas Gilang."
Aku bisa mendengar suara Ratih, setelah ia mengetuk pintu terlebih dahulu. Langkah kakinya bisa semakin mendekat, tapi aku tak berusaha membuka mata. Hanya merubah posisi dari kiri ke kanan, menghadap ke arah kedatangannya.
Mungkin karena tidak mendapatkan respon yang diinginkan, Ratih berusaha menggoyang-goyangkan tubuhku. Tapi aku masih berusaha memejamkan mata dan saat gerakan Ratih mulai terasa mengganggu, kutarik tangannya.
"Maaas."
Saat kubuka mata, tubuh Ratih terjatuh ke arahku. Dengan gerakan cepat aku mencoba menahannya. Tapi terlambat, ia telah jatuh lebih dulu dan kini menindih badanku. Wajahnya lucu sekali, mengekspresikan rasa kaget, sambil membelalakan mata.
Jika dari jarak sedekat ini, ternyata Ratih, ayu juga. Meski ada beberapa jerawat di wajahnya. Justru membuatku merasa semakin gemas dan aku baru sadar bahwa badannya lebih berat dari perkiraanku selama ini. Ratih kita sudah besar rupanya.
"Mas."
"Hmm?"
"Tolong lepasin aku."
Alis-alisku terangkat mendengar permintaannya. Merasa tak ada yang salah, aku justru mengeratkan kembali pelukan di antara kami.
Ratih mulai gelisah berada di atasku dengan kedua tangan menahan tubuhnya tepat di d**a. Seperti memberikan jarak di antara kami. Tapi justru membuatku merasa lebih mudah untuk mendekapnya erat.
"Kamu tahu gak, Tih."
"Tau apa?" tanyanya gusar.
"Semalam aku bertemu dengan seorang wanita yang namanya sama denganmu."
Ratih tidak memotong pembicaraan. Dia hanya menatapku dan menunggu lanjutan ceritanya.
"Dia lebih cantik darimu. Tapi kenapa rasanya sama ya ketika aku memeluk kamu dan dia?"
Ratih mengerutkan keningnya. Raut wajahnya yang gelisah berubah menjadi raut bingung. Aku hanya tersenyum. Lalu sedikit berguling ke arah samping, merubah posisi kami.
"Jangan bergerak, biarkan seperti ini beberapa saat saja. Aku masih mengantuk," pintaku.
"Tapi nanti kalau ketahuan sama budhe gimana?"
"Ya paling aku disuruh nikahin kamu."
Ratih mendongak ke atas, mencoba menatapku. Aku membalas tatapannya dan wajah kami hanya berjarak beberapa inci sekarang. Dengan jelas nafasnya bisa kurasakan di kulit wajahku.
"Kamu ndak mau nikah sama aku?"
Ratih diam.
"Bukannya kemarin kamu nanya sama mas, mau ndak aku nikah sama kamu?"
Aku terus mendesaknya dengan membalikkan pertanyaan yang kemarin sempat membuatku terkejut. Rasanya puas mendapati Ratih juga bereaksi sama denganku saat ini.
"Ah itu, hmm Ratih cuma bercanda mas." jawabnya gelagapan.
"Yakin?"
Melihat Ratih yang gelisah, aku seperti mendapatkan kesenangan tersendiri. Tidak pernah aku seperti ini dengan seorang perempuan. Bahkan dengan Lastriatih sekali pun. Ingatan tentang bekas luka Ratih di dadanya, akan aku cari tahu nanti.
Akhirnya aku melepaskan dekapanku. Ratih buru-buru bangun. Membenarkan ikatan rambutnya yang berantakan. Sedangkan aku memandanginya sambil telentang dengan kedua tanganku menjadi sandaran kepala.
Ia tampak sangat kikuk, padahal kemarin ia sendiri yang melakukan kontak fisik pertama kali. Kenapa sekarang justru seperti malu-malu kucing garong.
"Mas Gilang, ba.."
Roro tiba-tiba saja muncul dan menghentikan perkataannya ketika melihatku dan Ratih secara bergantian. Dari raut wajahnya, aku bisa memastikan Roro telah membuat kesimpulannya sendiri atas apa yang telah terjadi di antara kami.
Belum juga aku membuka mulutku, Ratih keburu melarikan diri dengan keluar dari kamar secepat kilat. Aku hanya tersenyum melihat tingkah konyolnya yang berubah-ubah.
"Kamu ngapain Ratih, mas?"
"Menurutmu?"
Roro melipat tangannya, menatapku penuh selidik."Dia masih anak kecil lho mas."
"Ya, anak kecil yang sudah bisa bikin anak kecil," celetukku.
"Oh, kamu suka dia?"
"Suka atau gak, itu kan privasiku."
Roro mencoba meledek dengan senyumannya yang mengejek. Tanpa berkata-kata ia langsung melempariku bantal guling, karena kesal kubalas dengan raut wajah datar. Tapi aku mengelak serangan itu cepat.
"Bangun, ibu minta kamu buat ketemu Reza."
"Ada urusan apa?" tanyaku penasaran.
"Gak tahu, tapi ada hubungannya dengan Yayi."
"Kok aku mencium hal-hal aneh ya setelah denger ini."
Roro yang tidak menghiraukanku langsung berlenggang pergi meninggalkan kamar. Sementara aku juga tak ingin berspekulasi secepat biasanya. Seperti apa yang aku sudah katakan sebelumnya, kita harus belajar untuk postive thinking dalam hal ini.