"Jadi gimana Za, maumu?" tanyaku pada Reza yang kini tengah duduk di samping sambil menopang dagunya di sandaran kursi.
Ada teh awet muda yang diracik dengan rempah-rempah pilihan yang resepnya dibuat oleh salah satu permasyuri dari Ngarso Dalem sebelumnya di atas meja. Ada juga beberapa jajanan pasar yang di sajikan di sana.
"Aku juga gak ngerti mas. Sebenernya ini akal-akalan ibu saja biar aku nikah cepet."
Aku menepuk pundaknya pelan, memberi dukungan semangat. Karena merasa menjadi korban atas kekejaman yang sama.
"Yang kuat Za."
"Hahaha, kamu juga mas," dia hanya tertawa mendengar perkataanku.
Reza memang harus segera melakukan prosesi pengangkatan sebagai pangeran yang sah di dalam keraton ini. Sebagai penerus takhta atas dinasti yang berdiri dan menaungi banyak misteri dari tanah djawi.
Yang tidak aku habis pikir adalah, apa hubungannya pengangkatan seorang pangeran dengan calon isteri. Meski dalam jajaran sejarah para raja. Memiliki satu isteri adalah sesuatu yang jarang terjadi.
Setidaknya paling sedikit, satu orang raja akan memiliki tiga isteri. Belum lagi selirnya, dimana akan melahirkan banyak keturunan yang diberi gelar Bendara Raden Ajeng untuk perempuan yang belum menikah dan Bendara Raden Mas bagi laki-laki lajang seperti rama sebelum menikah dengan ibu. Namun setiap gelar yang ada selalu berubah-ubah tergantung dari pemerintahan sultan.
Sama pentingnya seperti emas, keturunan di dalam keluarga kami selalu di jaga agar tidak keluar jalur. Artinya, semua anak tetap bisa diawasi meski itu terlahir dari rahim selir. Perbedaan yang mencolok hanya soal strata ibu di sini. Beruntunglah Reza menjadi anak lelaki satu-satunya yang dimiliki Ngarso Dalem dari permasyurinya. Jadi bisa aku pastikan tidak akan ada perebutan takhta atau hal-hal klise yang lainnya.
"Jadi, kamu milih di jodohke, opo milih sendiri?"
"Ibu nawarin buat memperkenalkan banyak anak perempuan dari teman-temannya. Tapi ibu juga membolehkan aku memilih sendiri."
"Sudah ada pilihannya?"
Reza menatapku nanar. Seperti ingin menyampaikan sesuatu namun ragu. Biar kuduga dulu, apa mungkin Reza memiliki rasa dengan Yayi? Berhubung dia sering sekali menanyakan tentang adikku itu.
"Aku setuju dengan salah satu ide ibu yang juga menjadi pilihanku sendiri."
"Lalu siapakah gerangan perempuan yang beruntung itu?"
"Yayi."
Ah, apa kubilang. Bukan tidak senang mendengar bahwa Reza menyukai Yayi. Tapi seperti yang kita sama-sama tahu, bahwa menyeret Yayi pulang saja seperti menunggu Sasuke berbaikan dengan Naruto. Atau menunggu Aang menjadi avatar dari empat unsur dunia. Membutuhkan waktu yang lama dan sulit.
"Kamu yakin?" tanyaku lagi.
Reza hanya tertawa pelan,"Adikmu cantik mas."
"Ah soal itu, iya benar. Tapi kamu ndak mau ganti pilihan? Maksudku gini Za, Yayi ituuuu.."
Aku menghentikan perkataanku dan mencoba mencari kalimat yang pas untuk mendeskripsikan adikku yang sesungguhnya kepada Reza. Rasanya seperti berdosa jika tidak mengatakan bahwa Yayi itu sangat sulit diatur, seenake ndewe, petantang-petenteng koyo buto cakil. Tidak seperti puteri keraton pada umumnya. Bagaimana ia bisa menjadi permasyuri jika seperti itu? Pakai jarik saja hanya bertahan lima menit.
"Yayi itu, sangat berbeda dari kebanyakan perempuan. Belum lagi dia juga kuliah di London. Kalau kamu menunggu dia, pasti lama."
"Untuk permata yang selangka Yayi, menunggu adalah harga yang berani kubayar."
Reza mengatakan itu seperti tidak pernah ada beban. Aku mengurut pelipisku, menatap Reza. Mencari mungkin ada keraguan di sana. Tapi tidak kutemukan. Ia menatapku penuh percaya diri.
Bagaimana jadinya jika Yayi mengetahui ini? Belum lagi mudah bagi Reza untuk membuat orangtuaku menerima lamarannya. Jika Roro tahu ini, ia juga pasti akan mencari cara untuk membuat Reza tidak gegabah dalam membuat keputusan.
"Aku akan menunggu sampai dia pulang, jika aku sudah memiliki calon isteri tentu pengangkatanku sebagai pangeran tidak ada yang perlu di tunda lagi."
"Bagaimana ceritanya kamu bisa suka sama adikku?" tanyaku penasaran.
"Entahlah, seperti ada sesuatu yang selalu menarikku ke arahnya, mas."
"Gaya men kamu Za hahaha."
Kemudian kami tertawa, aku menertawakan selera Reza sedangkan Reza entah menertawakan apa. Mungkin, pemikirannya tentang bagaimana ia bisa jatuh hati pada adikku, Yayi Marunti. Biang masalah dari keraton Jogja.
"Tapi Yayi belum punya pacarkan, mas?"
"Hmm, kalau mantan ada."
"Bagus kalau gitu."
Pada akhirnya aku dan Reza mengakhiri obrolan kami dengan saling berjanji bahwa apa yang ia ingini akan aku sampaikan pada ibu dan rama. Mungkin akan ada banyak sekali pertemuan penting yang akan dilakukan perihal pernikahan yang diatur ini.
Bukan main-main, kurasa Reza bukan tipe laki-laki yang memaksakan kehendaknya. Untuk ukuran pria tampan dengan usia produktif seperti Reza, hal mudah menaklukkan wanita. Semoga saja aji-ajian peletnya mempan, jadi adikku Yayi tidak akan menolak atas rencana yang sudah diatur para tetua nanti.
Sebelum aku pulang ke rumah, sengaja melewati bangsal kesatriyan. Banyak anak-anak lelaki yang belajar menari juga memainkan musik gamelan jika hari sabtu seperti ini. Mereka adalah penerus budaya yang sesungguhnya. Aku percaya, orang-orang itu terlahir atas berkah Tuhan yang istimewa. Karena tidak banyak anak muda sekarang mau mencintai budayanya sendiri.
Sejujurnya saja, aku masih membayangkan dan membuat banyak spekulasi tentang hubungan Lastriatih dan Ratih yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Jika reankarnasi itu ada dan setiap manusia terikat atas dosa dan takdir mereka. Jadi kehidupan terdahuluku sebagai apa?
Apa mungkin Reza dan Yayi juga memiliki keeratan atas dosa-dosa mereka terdahulu, hingga mungkin membuat mereka terikat satu sama lain sekarang? Karena ini termasuk keajaiban dunia ke delapan mengetahui pangeran flamboyan seperti Reza mencintai Yayi.
Sedikit menggelitik pemikiranku. Membayangkan bagaimana rupaku dan dosa apa yang membuat aku berenkarnasi seperti sekarang ini. Menjadi Gilang Rajendra, tidak terlalu buruk sebenarnya. Hanya saja, hasratku kini berubah-ubah.
Tadinya aku tak banyak ambil pusing mengenai pernikahan. Semenjak mengenal Lastriatih, jiwa lelakiku bangkit. Belum lagi rasa yang sering muncul tiap kali aku di dekat Ratih. Dua wanita itu mampu mempermainkan perasaanku dengan apik.
Sayang saja, tentu aku tidak mungkin memilih Lastriatih sebagai isteri. Mempercayainya saja cukup sulit, berarti hanya tersisah satu wanita. Ratih, gadis lima belas tahun apa mungkin pantas bersanding denganku yang berusia tiga puluhan?
Belum lagi niatan Reza mempersunting Yayi yang notabennya akan menjadi tantangan benteng takesi. Hal ini pasti jadi gunjingan seisi keraton jika benar-benar terjadi. Setidaknya Reza memiliki kesempatan berhasil yang sama besarnya dengan kesempatan gagalnya.
Mungkin ada benarnya juga bahwa cinta tidak mengenal usia, strata, karakter dan harta. Meski begitu aku masih punya banyak waktu untuk memikirkan hal ini semua dalam satu waktu. Jika Lastriatih datang lagi nanti, akan kupastikan untuk menanyakan apa hubungan di antara dia dan Ratih?
Dan juga aku harus mulai membuat siasat agar Yayi mau pulang lebih cepat saat ia lulus nanti. Menjebaknya secara perlahan, adikku itu pasti tidak akan dibiarkan pergi lagi jika sudah kembali ke keraton oleh ibu. Mungkin inilah takdir sesungguhnya Yayi, tapi bagaimana dengan takdirku sendiri?