12. DILEMA

1025 Kata
Hujan turun di Jogja sampai larut malam. Aku masih sibuk saja melukis di kamar. Melepas penat dan pikiran-pikiran negatif. Ini bekerja secara efektif untukku, meski gemuruh petir jadi senandung malam ini. Ada aroma wangi yang menggelitik hidung. Aku tersenyum, pasti itu Lastriatih. Berusaha tetap konsen dengan lukisanku, tak ingin terlihat menyadari kedatangannya di kamar. Kupingku bisa mendengar langkah kakinya yang mendekat. Lalu ia memutuskan duduk di tepi ranjangku yang kosong bersprai hitam dengan corak batik mega mendung. "Sudah lama kamu ndak muncul," celetukku. Kami berbicara namun tak berusaha mengadakan kontak mata. Aku sibuk mewarnai kanvas, dia sibuk melihat aku bekerja. Dari sudut-sudut mata, aku bisa melihat malam ini ia memakai kebaya berwarna kuning dan juga rambutnya dihiasi ronce melati panjang sampai sedada. "Kenapa kamu tidak takut padaku?" "Buat apa? Kalau mahluknya secantik kamu?" Dia mungkin hanya tersenyum mendengar coletehan ngawurku. Sejujurnya, jantung ini juga berdegup kencang. Tapi aku mencoba membiasakan kehadiran Lastriatih yang selalu datang tiba-tiba. "Selesai," batinku. Akhirnya aku merubah posisi duduk, menjadi menghadap Lastriatih. Seperti biasa, pesonanya tak bisa kupungkiri mampu meningkatkan hasrat seksualku. Sialnya aku selalu keteteran berusaha untuk menahan diri. "Jadi adikmu akan dijodohkan dengan calon raja berikutnya?" "Bagaimana kamu tahu? Oh ya aku lupa hal itu mudah bagimu." Dia tersenyum dan aku mau tidak mau juga ikut tersenyum. Kami diam beberapa saat hanya saling memandang. Membiarkan pikiran masing-masing mengembara. Entah harus kumulai dari mana untuk membuka sebuah obrolan. Begitu banyak hal yang ingin kuketahui. Tapi rasanya lidahku kelu. Namun kutemukan satu pertanyaan yang paling mendasar. "Lastriatih, jadi siapakah dirimu sebenarnya?" Lastriatih tak langsung menjawab, ia membelai kepalaku seperti biasa. Menatapku lama sekali, dengan banyak arti yang tersirat di sana. Membuatku merasa ingin tahu lebih jauh tentang dirinya. "Namaku Blorong, orang-orang itu memanggilku Nyi Blorong." Aku mengerutkan kening, jelas nama itu pernah aku dengar. Gadis yang sering dikaitkan dengan Ratu Kidul. Aku tak begitu paham bagaimana ceritanya, tapi yang kutahui dia salah satu anak dari sang Ratu. Jika aku tak salah, bahwa wujud asli dari Blorong adalah ular. Tapi sedikit pun tak ada rasa ingin menjauh meski rasa takut merayap disudut hati. Wajah Blorong bahkan tak menggambarkan seperti siluman atau semacamnya. Ia terlalu tampak nyata untuk sekedar dianggap seperti itu. "Jadi kau anak dari sang Ratu?" "Sang Ratu tidak memiliki anak. Hanya saja beberapa abad yang lalu, ia telah mengangkatku menjadi panglima perang dan menganggapku sebagai anaknya." Aku hanya diam, mendengar penjelasan yang diutarakan. Meski begitu tampaknya Blorong mengetahui bahwa aku mendengarkannya dengan baik. Ia menggenggam tanganku, menaruhnya di lehernya dan mata indahnya terpejam. "Aku telah lama mengenalmu, jauh sebelum saat kau menolongku dua puluh tahun yang lalu. Dua kali kau menyelamatku Gilang. Dua kali aku berhutang nyawa padamu." "Dua kali? Bukankah aku hanya menolongmu melepas mustika yang berada di kepalamu itu?" tanyaku. Saat Blorong membuka matanya lagi, bagian hitam di matanya yang berbentuk bulat kini berubah menjadi lonjong. Seperti mata ular, anehnya aku justru semakin terpukau dengan hal itu. Matanya menatapku intes. Ia mengarahkan tanganku lagi pada dadanya. Aku meraba pelan luka bulan sabit itu dengan jari-jariku. Luka tersebut sama sekali tidak merusak pesona Blorong di mataku. "Lukaku sama dengan gadis itu karena kutukan yang kuberikan pada ayahnya." "Maksudmu?" "Aku bisa memberikan apapun padamu. Harta, kekuasaan, pamor. Mereka menyembahku untuk mendapatkan semua itu. Ganu adalah salah satu yang bersekutu denganku untuk mendapatkan semua hal yang ia miliki sekarang." "Saat itu isterinya hamil dan dia tak mampu lagi memberikan apa yang kumau. Dengan licik Ganu menjebakku. Beruntungnya aku bertemu kau kembali waktu itu. Jika tidak, entahlah bagaimana nasibku sekarang." Aku sulit mencerna apa yang dikatakan oleh Blorong tentang arti di balik bekas luka mereka yang sama. Kutukan? Kutukan apa yang diberikan Blorong pada Ratih saat anak itu bahkan tidak bersalah sama sekali? Dan apa yang dipikirkan pak le Ganu hingga bersekutu dengan Blorong demi mendapatkan semua hal itu secara instan? Dan bagaimana mungkin kini ia masih hidup tenang? Dan bagaiamana juga aku harusnya mempercayai setiap ucapan Blorong? "Aku menemuimu lagi untuk memberi tahumu tentang ini." "Kutukan apa yang kau berikan pada Ratih? Apa kau masih menganggap semua hal itu akan baik-baik saja?" tanyaku sedikit emosi. Aku bangun dari duduku, menjauh dari Blorong. Ada rasa marah dalam d**a, memikirkan hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Demi Tuhan aku tidak mau terjadi sesuatu pada Ratih. Aku sama sekali tidak bisa memahami perasaanku sendiri sekarang. Yang ada hanya rasa ingin melindungi Ratih dari sesuatu yang buruk. Tidak ingin anak itu menjadi tumbal atas kesalahan yang bahkan tidak ia perbuat. Blorong masih duduk di tepi ranjang. Ia tampak lebih tenang sambil melihat ke arahku yang menciptakan jarak di antara kami. Meski kecantikannya memikat, aku masih cukup waras untuk mengetahui mana yang benar dan salah. "Kau bisa melindungi Ratih dari kutukanku, dengan satu cara." "Apa yang bisa kulakukan untuknya?" "Tiduri dia, ketika kesuciannya telah hilang. Ia tak bisa lagi menjadi tumbal atas persembahan untukku. Aku hanya mencari gadis-gadis yang kesuciannya masih terjaga." "Jadi kau membunuh manusia karena itu?" tanyaku hampir tak percaya. "Itu harga yang setimpal atas apa yang kuberikan pada mereka. Aku tak pernah menggoda mereka tak juga berusaha membuat mereka bersekutu denganku. Manusia memiliki dan menentukan pilihannya sendiri," jelasnya. Aku menarik nafas pelan, memejamkan mata. Keputusan Ngarso Dalem untuk mengusir pak le Ganu mungkin adalah cara yang terbaik. Membiarkan Ratih tetap tinggal di keraton juga hal baik. Lalu kini aku mendengar omong kosong yang bahkan sulit kucerna dan merusak segalanya. Anak itu, Ratih. Bagaimana aku bisa menjelaskannya? Ia telah kuanggap sebagai adik sendiri. Terlepas perasaan yang mungkin ada di antara kami. Untuk menyukainya saja aku masih harus berpikir ribuan kali dan apa yang baru dia katakan? Aku harus meniduri Ratih demi membebaskan kutukan yang ada padanya? Apa Blorong pikir aku gila? Atau bangsa mereka memang selalu berusaha menyeret manusia ke dalam kesalahan? "Apa yang terjadi jika aku tak melakukannya?" "Cepat atau lambat. Aku akan mengambilnya." "Jika aku melakukannya? Siapa yang akan menjadi pengganti Ratih? Apa ada gadis lain lagi yang akan menjadi tumbalnya?" nadaku mulai meninggi. "Tidak. Semua akan berbalik kepada Ganu," jawabnya tenang. Bagaimana pun aku berusaha memahami ini semua. Jelas adalah hal gila jika aku harus meniduri Ratih tanpa menikahinya. Aku bukan pria b******k, tidak akan kurusak masa depan seorang gadis demi nafsuku semata. "Kau bilang, kau berhutang nyawa padaku dua kali. Apa tidak ada cara lain selain hal gila itu? Aku tak bisa melakukannya." "Aku tahu kau memiliki perasaan dengan Ratih. Takdir kalian terus terikat, kau tidak lupakan dengan apa yang kukatakan kemarin? Mungkin kali ini giliranmu menebus dosa-dosamu padanya dikehidupan sebelum ini dan aku akan membantumu untuk itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN