13. JOYO BOYO

1400 Kata
Malam semakin terasa kelam dan hari terus berganti. Aku masih berusaha mengerti, apa yang sebenarnya telah kulakukan di kehidupan terdahulu hingga harus melakukan hal itu? Apa yang aku perbuat kepada Ratih sebenarnya? Jika yang dikatakan Blorong adalah benar, haruskah aku tetap melakukan hal tersebut tanpa menikahi Ratih terlebih dahulu? Sedangkan aku tidak benar-benar yakin apa yang aku rasakan kepadanya adalah cinta. Aku bisa melihat Ratih dari jendela kamar yang terbuka sedang bermain-main di pelataran rumah. Saat ini aku merasa menjadi yang paling tidak berdaya atas semua yang mungkin akan terjadi. Mengetahui semua hal tanpa bisa melakukan apapun, atau mungkin aku saja yang tak mau melakukan apapun untuk bisa memperbaiki keadaan. Saat aku sedang memperhatikan Ratih, aku melihat gelagat aneh padanya. Tidak lama kemudian, ia terjatuh ke tanah tak sadarkan diri. "Ratih." Buru-buru aku berlari keluar rumah dengan perasaan panik. Sebelumnya aku bisa melihat beberapa abdi dalem berusaha menahan tubuh Ratih. Secepat kilat aku sudah berlari ke arahnya yang kini benar-benar telah menyentuh tanah dengan kepala ditahan oleh si mbok. "Raden Ajeng, den," panggil mbok sambil menepuk pipi Ratih pelan. "Kenapa dia mbok?" "Ndak tahu Raden, tiba-tiba saja terjatuh." Aku mengambil alih badan Ratih dari tangan si mbok, menggendongnya di depan. Kepala Ratih bersandar pada dadaku, sedangkan gemuruh khawatir sedang merdegup kencang di sana. Berharap apa yang kupikirkan sekarang sama sekali hanya omong kosong belaka. "Lho lho kenapa Ratih, Gilang?" tanya ibu panik yang melihatku menggendong Ratih tak sadarkan diri. "Pingsan, bu." Ibu mengikutiku dari belakang dan menyuruh si mbok untuk membuatkan teh hangat, juga membawa minyak angin. Dengan cekatan kutaruh badan Ratih di ranjang kamarnya. Wajah Ratih memang pucat. Aku semakin khawatir setelah kudapati badannya yang dingin. Ibu memberikan minyak angin pada telapak kaki Ratih,"Dingin banget je, Gilang telpon Roro sekarang." Aku mengangguk dan segera mengambil ponselku yang kutaruh di atas nakas ruang tamu. Mencoba menghubungi Roro yang memang berprofesi sebagai dokter. Suara sambungan telpon terdengar beberapa kali sebelum dari sebrang Roro mengangkatnya. "Hallo." "Hallo Ro, Ro bisa pulang sekarang?" tanyaku. "Ini aku sedang pulang mas, kenapa?" "Cepetan Ro, Ratih pingsan. Aku sama ibu ndak ngerti harus gimana." "Aku sudah masuk gerbang keraton mas, tunggu." Lalu ia memutuskan telpon kami, aku lebih memilih kembali ke kamar Ratih dan bisa melihat ibu masih mengoleskan minyak angin di beberapa bagian tubuhnya. Aku hanya berdiri terpaku, tak mengerti harus berbuat apa. Tidak lama setelah itu, Roro muncul dengan setelan jas dokternya. "Piye bu?" "Ro, ndak tahu. Ibu ndak tahu kenapa, tiba-tiba saja Gilang gendong Ratih." Roro melihat ke arahku,"Dia kenapa mas?" Aku beberapa kali menelan ludah, rasanya kerongkonganku kering sekali dan pikiran khawatir telah berkecamuk di otak. Seperti tidak membiarkan aku bernafas lega, terus saja menghantam logikaku pada titik terendah. "Raden Ajeng tiba-tiba saja pingsan, Den Roro," jawab si mbok yang mengetahuinya lebih dulu. Roro tidak menunggu penjelasan yang lebih dari orang-orang yang ada. Ia mengeluarkan stethoscope dari tas jinjing hitamnya. Membuka kancing-kancing baju Ratih, menempelkan stethoscope itu ke d**a dan menekan pembuluh darah yang menghantarkan denyut jantung pada pergelangan tangan Ratih lalu sesekali mengecek jam tangan yang dipakainya. "Semuanya normal, cuma suhu badannya saja yang dingin," jelas Roro. "Normal? Terus kenapa dia ndak sadar-sadar, Ro?" tanya ibu dengan nada khawatir. "Kita tunggu beberapa jam kedepan, kalau belum sadarkan diri. Kita bawa kerumah sakit bu, sekarang kita ganti dulu bajunya." "Gilang, kamu keluar dulu," perintah ibu padaku. Seperti orang bodoh aku diam di tempat tanpa bergerak seinci pun. "Gilang," panggil ibu lagi. Baru aku melangkahkan kaki keluar dari kamar dengan rasa enggan meninggalkan Ratih. Berharap bahwa ia hanya pingsan karena kelelahan dan bukan karena hal yang lain. Berharap dalam beberapa jam ke depan, dia sadarkan diri dan aku bisa bernafas lega setelahnya. Aku memilin satu harapan ke harapan lain, mencoba membangun pikiran positif yang bisa membuat semua lebih terlihat jelas tanpa berkabut seperti ini. Setelah ibu, Roro dan si mbok keluar dari kamar Ratih. Aku masih duduk di ruang tv menopang dagu dengan kedua tanganku yang membuka. Jam terus berdetak terasa lamban. Roro selalu mengecek keadaan Ratih persatu jam sekali. Meski begitu, tetap tak merubah apapun. Tak juga mengusir kegelisahanku. Ingin sekali terbebas dari rasa bersalah ini, jika memang benar bahwa apa yang terjadi ada sangkut pautnya dengan apa yang dikatakan Blorong tempo hari. Tubuh Ratih tak sedingin saat pertama kali. Tapi matanya masih terpejam, terlihat seperti orang yang tertidur pulas dengan tenang. Aku tersiksa melihatnya seperti ini. Kegelisahanku menjadi-jadi setelah jarum jam menujuk ke angka tujuh malam. Akhirnya aku mutuskan untuk pergi ke pantai parangkusumo. Sedangkan Roro masih menahan Ratih di rumah, sesuai permintaan ibu. Dengan harapan mungkin sebentar lagi, sebentar lagi dia akan sadar. Tidak ada pencahayaan di sini, terkesan suram dengan debur ombak dan angin yang kencang. Aku menjadi manusia satu-satunya yang berada di bibir pantai. Entah apa yang membawaku. Mungkin ada sedikit harapan bertemu Blorong. Tapi aku tak tahu bagaimana cara memanggilnya. Juga tak tahu apa ia memang berada di sini atau tidak. Terasa lebih tidak masuk akal berharap mahluk sepertinya bisa hadir saat kupanggil. "Gilang." Saat mendengar suara perempuan, aku langsung menengok ke belakang. Ada Blorong muncul dengan kemben dan jarik yang melekat di badannya. Kali ini ia tak datang sendiri. Ada beberapa wanita yang menemaninya di belakang. Membawa semacam obor kecil sebagai penerang di gelapnya pantai parangkusumo. "Apa yang kau lakukan pada Ratih? Jangan katakan bahwa ini ulahmu," tanyaku terus terang. "Aku sudah menjelaskan apa yang akan terjadi pada Ratih jika kau terus mengulur waktu. Seandainya aku bisa patahkan kutukan itu. Aku pasti tak akan membuatmu merasa tersiksa seperti ini. Maafkan aku." Aku menatap nanar ke arah Blorong dengan putus asa. "Dosa apa yang sebenarnya aku lakukan dulu terhadap Ratih hingga harus melakukan dosa yang lainnya lagi?" Raut wajah Blorong dan pupil matanya yang tipis tak bergeming saat kutanyakan. Ia menghampiriku, tapi tak menglihat ke arahku. Pandangannya jauh ke depan, ke lautan lepas yang dihiasi dengan ombak bergulung-gulung panjang. "Namamu dulu adalah Joyo Boyo, rupamu jauh berbeda dari yang sekarang. Meski guratan jiwamu memiliki beberapa kesamaan." Lama ia berhenti pada kalimat terakhir. Aku masih menunggu untuk mendengarkan meski tak tahu harus mempercayainya atau tidak. "Kau berlabuh pada satu medan perang ke medan perang yang lainnya. Kesetiaanmu dengan raja saat itu tak bisa dipungkiri, menjadi panglima perang terbaik yang raja punya. Kau melakukan segalanya untuk dia. Kau hampir tak pernah punya waktu untuk memikirkan kebahagiaanmu sendiri." "Lantas apa yang telah Joyo perbuat?" Blorong menatap ke arahku,"Kau berjanji pada seorang gadis untuk menunggumu sampai perang selanjutnya berakhir. Tapi kau tak pernah kembali untuknya." "Joyo tak pernah kembali?" Blorong mengangguk sekali, lalu ia kembali menatap ke lautan lepas. Sedangkan angin pantai kini berhembus pelan, membelai kulitku seperti mencoba menenangkan kegelisahan yang tak kunjung reda. "Gadis itu adalah Ratih, ia menunggumu dalam kesetiaan seorang perempuan. Ia tak menikahi siapapun, karena kau telah berjanji kembali untuknya. Ia tak pernah berharap menjadi seorang yang berarti dan terpandang meski jika ia mau. Dia bisa melakukannya dengan mudah." Jadi aku menyia-nyiakan seorang perempuan yang mencintaiku dengan berjanji bahwa aku akan datang untuknya saat kembali perang. Tapi nyatanya aku tak pernah kembali dan membiarkan gadis itu menunggu seumur hidup. Lalu mengapa sang kuasa masih mempertemukan kami dikehidupan ini jika hal itu hanya merugikan Ratih? Kenapa ia masih memaksakan kehendak agar gadis itu bertemu denganku lagi yang bahkan, sampai kehidupan ini tak mampu memberikan cinta padanya. Seandainya saja, jika aku bisa. Aku tidak akan berjanji hal tersebut padanya dulu. Tak akan aku biarkan ia menunggu dalam kesepian. Meski begitu, janji adalah janji. Karma seperti sedang berperan di sini, menarikku untuk kembali ke arah Ratih. Menuntutku atas janji yang kukatakan dulu. "Kau adalah jiwa yang sama hanya berbeda rupa. Buktinya sampai sekarang pun kau tak tergiur dengan wanita. Bahkan ketika aku menggodamu secara terang-terangan. Kau mampu menahan hasratmu yang entah bagaimana bisa kau lakukan. Rasanya menyenangkan bisa mengetahui kau tetap sama dalam hal itu." Aku melirik Blorong yang kini tersenyum. Tidakkah ia tahu bahwa aku hampir gila sekarang? Entah berapa lama lagi aku bisa menahan hasrat ini, aku terus berjuang untuk itu. "Aku yakin, kau tak akan meniduri Ratih. Juga tidak akan menikahinya. Tapi aku juga yakin, kau tak mungkin menahan hasrat itu terlalu lama. Dan Ratih hanya akan bangun jika kau menyentuhnya. Manusia selalu punya pilihan Gilang. Pilihlah jalanmu." Aku menghela nafas kasar. Tidak sanggup lagi berada dalam tekanan. "Aku tak menemukan jalan yang terbaik yang bisa kupilih. Kau tentu tahu itu. Apalagi dengan keadaan Ratih yang tidak sadar. Apa aku tidak terlihat b******n jika melakukannya tanpa meminta ijin? Kenapa kau menyiksaku seperti ini Blorong?" Blorong menampilkan raut kesedihan dari mata ularnya. Jelas sekali dalam hal ini tidak ada yang bisa di lakukan. Aku tahu bahwa Blorong telah memberikan banyak pilihan padaku. Juga menuntunku ke arah penyelesaian masalah yang ada. Hanya saja aku tak bisa memilih di antara pilihan buruk. Masalah hidup dan mati adalah urusan Tuhan. Tapi jika aku adalah jalan dari kematian bagi seseorang. Maka aku tak ubahnya menjelma seperti malaikat pencabut maut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN