14. KEPUTUSAN

732 Kata
Saat aku sampai di rumah, jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Semua orang sudah tidur dan saat aku masuk ke kamar Ratih. Kudapati ibu terlelap di samping Ratih sambil duduk di kursi rias. Karena tak tega melihatnya, kubangunkan saja dan meminta ibu tidur di kamar. Berganti shift denganku untuk menjaga Ratih. Syukurnya ibu menurut, mungkin menganggap bahwa aku bisa menjaganya dengan baik tanpa ada perasaan curiga. Dalam hati kecil, kuruntuki diri sendiri atas pilihan yang sudah dibuat. Meski mungkin dunia akan mengutukku setelah ini. Kupastikan bahwa tidak akan ada kesedihan lagi yang menyentuh kehidupan Ratih. Malam ini, aku akan menidurinya seperti yang dikatakan Blorong untuk melepas kutukan yang ada pada Ratih. Jika ini pun kesalahan besar, biarlah hanya Tuhan yang bisa menilai niatku. Kututup pintu kamar Ratih rapat-rapat dan menguncinya dari dalam. Tidak ada suara sama sekali, yang ada hanya degup jantungku yang berpacu seperti kehilangan fungsi sebenarnya. Menggila seluruh darah salam nadi, rasa panas lamban laun menjalar dari d**a sampai ke kepala. Aku memandangi Ratih cukup lama. Menanyakan diriku sendiri adakah rasa cinta dalam hati ini. Meski hanya sedikit tak masalah. Terlalu melankolis untuk ukuran pria matang sepertiku memang. Tapi malam ini mungkin akan menjadi malam yang menentukan segalanya di masa yang akan datang. Kugenggam jari-jari Ratih, meremas dan mengecup punggung tangannya pelan. Seakan meminta izin untuk menyentuhnya malam ini. "Maafkan mas, Ratih." Aku bergerak, berusaha memposisikan diriku di atas badan kecil Ratih. Dalam gerakan yang cepat, aku langsung mencium bibirnya perlahan. Tak ada balasan, aku berpindah pada lehernya. Memainkan lidahku di sana. Mengecup perlahan sampai area kuping. Baru saat itu tubuh Ratih memberikan respon alaminya. Kuhentikan sementara aksiku, berharap ia terbangun. Belum terlambat untuk menghentikan semua ini. Tapi matanya tetap terpejam. Aku mengerang kesal dalam diam. Frustasi, tak ada gairah yang bangkit. Selalu yang ada hanya penyesalan di d**a. Dengan rasa putus asa yang sudah di ubun-ubun. Kusingkapkan baju tidur Ratih sampai terlihat kedua pangkal pahanya, bersih. Untuk ukuran gadis seusianya. Ratih memiliki pinggul yang bulat padat. Ia memakai dalaman berwarna putih berenda tipis. Tak ingin aku berlama bermain-main. Aku langsung membuka celanaku dan melepaskan celananya. Niatku bukan demi mendapatkan kesenangan, hanya ingin membantu Ratih terlepas dari kutukan. Bukan hanya bagi dia, ini juga pertama bagiku. Tubuh bawah Ratih mengejang pelan, seperti tahu bahwa ada benda asing yang ingin memasukinya. Ratih mulai gelisah dalam tidur. Karena kuciumi tengkuk dan memainkan dadanya yang belum tumbuh sempurna. Membuatnya terangsang secara alami adalah hal yang baik agar ia tak begitu merasa kesakitan. Bagus juga untuk diriku yang kini mencoba membangkitkan hasrat terpendam. Lama-lama nafsu itu datang. Merasuki dan mengenyahkan pikiran yang mengganggu. Kumainkan milikku di sana perlahan, sebelum memasukinya. Rasanya seperti ada sengatan listrik. Kudorong perlahan namun pasti milikku dan pada akhirnya masuk secara sempurna dari gerakan kesekian kali. Dalam tempo itu kucoba mendapatkan klimaks dengan cepat. "Aahh," erang Ratih. Ratih meremas pergelangan tanganku tanpa sadar yang berada disamping tubuhnya. Bisa kulihat ada bulir-bulir keringat dikening Ratih. Kepalanya bergerak ke kanan dan ke kiri. "Aa Ratih." Ini terlalu nikmat dari perkiraanku. Tubuhku seperti tak ingin melepaskan tubuh Ratih yang memberikan kenikmatan yang tak pernah kurasa. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana nikmatnya ini. Saraf-saraf kami menegang satu sama lain. Melumat satu sama lain dan menahan kenikmatan di area bawah sana. Aku tidak tahan lagi, kugerakan makin kencang dan melepas milikku dengan segera. Akhirnya aku mendapatkan klimaks yang pertama. Nafas kami memburu satu sama lain. Aku memejamkan mata dan menelan ludahku sendiri. Ini cukup, aku telah merenggut kesuciannya dan sesuatu terjadi pada tubuh Ratih. Awalnya badan Ratih berwarna kebiruan, lalu mulai menampilkan warna segar. Kulitnya juga terasa lebih hangat sekarang. Anehnya, bekas luka itu memudar lalu menghilang sepenuhnya. Apa kutukannya telah hilang? Aku buru-buru merapihkan bajuku dan baju Ratih. Seperti maling, aku tak ingin meninggalkan jejak sedikit pun. Bukan ingin menghindar dari tanggung jawab. Tapi ini bukan waktu yang tepat. Akan aku biarkan Ratih menikmati masa remaja selayaknya. Sebelum keluar dari kamar Ratih. Kukecup pelan keningnya,"Aku akan menjagamu," janjiku. Aku kembali lagi ke kamarku. Dengan menyeret perasaan yang berkecamuk dan menghela nafas berkali-kali. Jika aku bisa menangis, rasanya ingin sekali. Belum pernah aku merasa sepengecut ini. Kurebahkan badan pada ranjang yang bebas. Menatap langit-langit kamar dan berharap malam ini cepat berlalu. Biarkan kubawa penyesalan ini dalam d**a dan akan kujaga Ratih sepenuhnya hingga ia besar nanti. Pada saat itu, akan kuceritakan semua perihal yang terjadi malam ini. Juga tentang kutukan itu. Jika harus bersujud di kakinya akan kulakukan. Tapi tidak akan kupaksakan ia harus bersanding bersamaku. Biarkan ia memilih jalannya sendiri. Biarkan malam ini tersamar bersama jubah malam yang berganti fajar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN