Aku menyusul kepergian Ibu dan Ratih ke kamar utama. Di sana aku bisa mendengar Ratih menangis, apa luka di tangannya terlalu sakit? "Maafin Ratih budhe." "Wis toh Tih, jangan seperti ini. Kan budhe dan pak de mu sudah menganggap kamu sebagai anak. Jadi kamu bukan orang lain bagi kami." Aku menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Entah, apa yang diutarakan Ratih sebelum pembicaraan yang kudengar tadi. Perasaanku berubah menjadi tidak enak. "Semarang dan Jogja kan deket budhe. Lagian Ratih pergi buat sekolah." "Owalah gusti, aku sudah menganggap kamu sebagai anakku. Sekarang Ratih tega ninggalin budhe?" Aku membuka pintu kamar tanpa permisi. Ibu dan Ratih melihat serentak padaku. Aku mendekati Ratih dan menarik tangannya. "Ikut mas dulu sebentar." pintaku. "Lho Gilang, ono op

