Di waktu yang sama ... suara dering telepon di kantong Saga membuat semua orang menoleh. Pria itu lalu menarik tangannya dari Nara, menegakkan tubuh lalu mengambil ponsel di sakunya. Matanya menatap nama Rania di atas layar ponsel. Lalu pada Nara. Ada sesuatu yang membuat pikirannya tak menentu kali ini. Semua orang menatap Saga. Ia menoleh melihat ekspresi Alvin. Seorang pemuda yang siap kapan saja mengambil Nara darinya. Juga pada Roy, mertuanya. Di saat yang sama mata mereka bersirobok. "Angkat saja, Nak." Roy tersenyum. Dia berpikir saat ini adalah jam kerja untuk Saga. Apalagi di posisinya sebagai CEO, yang sangat disibukkan setiap waktunya. Nara juga harus sadar. Se-ingin apa pun ia berada di sisi Saga, harus memakluminya. Papanya itu bisa melihat bagaimana cara Nara menatap Sag

