Jalan Bareng

1798 Kata
Ali mengetuk-ngetukkan jarinya di sandaran tangan sofa. Matanya terfokus menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Tangannya terus mengetik sesuatu namun hanya dengan jeda yang tak begitu lama. Terkedang ia menghembuskan nafasnya kasar terlihat geram.   "Li, jalan yuk. Makan malam sama Farra diluar. Dia barusan WA gue nih. Lagi bengong jugakan dirumah," tiba-tiba suara salah satu saudara Ali itu mengejutkannya.   Ali tampak berfikir sejenak. Namun sesaat kemudian ia mengangguk. Ali meletakkan ponselnya didalam saku lalu sedikit memperbaiki rambutnya tanpa harus bercermin. Merasa bahwa tak ada yang harus dirubah dari penampilannya, Ali langsung mengikuti Baja yang sudah terlebih dahulu keluar rumah memasuki mobil.   Disepanjang perjalanan berbagai lagu menjadi hiburan mereka. Tak jarang mereka ikut bernyanyi karna memang hafal lagunya.   Woy, bungkusan nugget. Sibuk banget ya? WA aku gak dibalas. Oke!   Ali mendesah pelan karna ia yakin tak akan ada lagi balasan. Ntah kemana gadis menggemaskan itu hari ini. Kesimpulannya hanya satu bagi Ali. Ia sedang sibuk.   Tak berapa lama Ali dan Baja tiba disalah satu mall. Malam ini mereka berniat ingin berkeliling mall sambil makan malam. Ali dan Baja menoleh pada seseorang yang tampak melambaikan tangan kearah mereka. Mereka langsung bergegas menghampiri Ali. Gadis yang berwajah agak arab ini juga merupakan salah satu saudara Ali.   Tak ingin mengulur waktu mereka langsung memasuki mall. Saat mereka sedang berjalan-jalan Ali teringat sesuatu. Ia kembali mengeluarkan ponselnya. Setidaknya jika tak ada kabar dari gadis itu ia bisa tau kini dia dimana.   Ali mengerutkan dahinya saat berhasil mengetahui lokasi Prilly kini. Namun sesaat kemudian ia tersenyum. Tak menyangka bahwa Tuhan begitu baik untuk mendekatkannya dengan gadisnya. Ali tak menyangka bahwa gadis itu ternyata ada di mall yang sama dengannya.   Ali sedikit melambatkan jalannya membiarkan Baja dan Farra agak berjarak dengannya. Dengan cepat Ali langsung menelfon Prilly berharap gadis itu mengangkatnya.   Hallo Li.   Suara dari ujung telfon membuat Ali tersenyum. Kamu lagi dimana?   Lagi dimall, maaf ya aku gak bales pesan kamu. Baru cek hp waktu kamu nelfon. Ngapain di mall? Mau beli tas. Sama siapa? Sendiri. Sendiri? Kok gak bilang aku? Kan bisa aku anter. Sekarang kamu bilang lagi di toko tas mana?   Sebentar doang Li. Ditoko tas mana sayang? Channel. Tunggu aku disitu.   Tanpa mendengar jawaban Prilly, Ali langsung menutup telfonnya dan kembali meletakkan kedalam sepatu. Ali sedikit berlari agar menyamakan langkahnya dengan kedua saudaranya.   "Ikut gue," kata Ali berjalan mendahului Baja dan Farra membuat mereka heran namun tetap mengikuti Ali.   "Hai," sapa Ali saat sudah berada disamping orang yang sedari tadi dicarinya.   Orang itu yang tak lain adalah Prilly menatap Ali kaget tak menyangka bahwa Ali akan benar-benar menghampirinya.   Baja dan Farra hanya mampu menggelengkan kepala sembari tersenyum saat telah tau alasan saudaranya terburu-buru sejak tadi.   "Kok kamu ada disini?" Prilly meletakkan kembali tas yang ia lihat tadi lalu menatap Ali yang sedang tersenyum.   "Tadinya sih mau jalan-jalan aja. Tapi ada yang lebih menarik dari pada jalan-jalan," balas Ali diiringi tawa kecilnya.   "Kangen," bisik Ali membuat Prilly mengulum senyumnya. "Kamu udah siap beli tasnya?" Tanya Ali.   "Belum, ini baru aja sampai," balas Prilly pula. Ali mengangguk paham.   "Aku temenin ya, abis itu kita makan," Prilly mengangguk kemudian menyebutkan tas yang ia inginkan kepada pelayan toko itu.   Ali dengan setia menunggu sambil mengedit foto yang beberapa saat yang lalu ia ambil saat baru sampai di mall tadi bersama saudaranya. Mengedit foto termasuk salah satu kegemaran Ali. Ali tersenyum saat saudaranya mengarahkan kamera padanya saat mereka sedang menggunakan aplikasi snapchatnya.   "Li, gue sama Farra duluan nyari tempat makan ya. Kalau lo sama Prilly udah kelar samperin ya," ucap Baja. Alipun mengangguk.   "Prill, kita tinggal lo sama Ali ya. Ntar lo nyusul aja. Nah ni Ali lo pakai deh buat angkat barang," canda Farra membuat Prilly tertawa.   "Siip kak," balas Prilly pula.   Baja dan Farrapun meninggalkan Ali dan Prilly.   "Tumben ke mall sendiri," ucap Ali. Prilly yang sedang mengecek tasnya melirik Ali sejenak.   "Tadinya mau sama Itte,tapi mendadak Itte gak bisa dateng waktu aku udah sampai sini. Jadi ya nanggungkan kalau pulang, lagian aku udah disini." "Kamu kan bisa minta temenin aku." "Lain kali aku minta temenin kamu ya," balas Prilly lembut.   "Berasa gak dianggep nih," kata Ali pelan sambil mengalihkan pandangannya. Prilly yang mendengarkan tersenyum lalu mengelus pipi Ali sejenak.   "Yang ini bagus ya Li, aku incer ini dari dulu," Prilly memperlihatkan tas pilihannya membuat Ali kembali menatap Prilly.   "Bagus. Kamu mau yang itu?"   "Iya." Balas Prilly sembari tersenyum.   Setelah Prilly menjatuhkan pilihannya, pelayan toko itu berlalu untuk membungkusnya dengan kotak khusus dan menyiapkan untuk pembayarannya. "Kangen," pekik Prilly tiba-tiba kemudian mencubit gemas pipi Ali membuat Ali terpejam dan pasrah pipinya menjadi sasaran gemas gadisnya.   Ali menggapai tangan Prilly dipipinya kemudian menggengamnya. "Sayang, nonton yuk," ajak Ali. "Yah, aku gak bisa lama-lama. Ini aja izin sama mama cuma sebentar." "Aku telfonin mama deh minta izin." "Jangan sekarang deh, besok aku reading. Jadi mau istirahat." "Oke, oke, tapi abis ini kamu ikut aku makan ya." "Oke," Prilly mengacungkan jari jempolnya pertanda setuju membuat Ali gemas dan langsung mengabit kedua pipinya dengan satu tangannya. Hal yang selalu rindu untuk Ali lakukan saat sedang bersama gadisnya.   Ali bangkit dari duduknya menggapai dompetnya disaku belakang celananya, kemudian Ali mengeluarkan kartu kreditnya membuat Prilly mengerutkan dahinya. Ali kembali duduk kemudian mengetuk-ngetukkan tangannya di meja kaca.   "Buat apa?" Tanya Prilly melirik kartu kredit yang Ali pegang. "Gak ada." "Aku gak mau ya. Masukin lagi."   Ali hanya diam dan terlihat santai mengetuk-ngetukkan tangannya ke meja menimbulkan suara membuat Prilly geram.   "Ali masukin lagi gak. Aku males ah kayak gitu."   "Kenapa sih sayang. Yaudah sih biarin. Jarang-jarang juga kan." "Ih tapi aku gak mau. Ini papa yang beliin." "Ya gak papa malam ini aku yang beliin."   "Ali aku ngambek nih. Yaudah deh aku gak jadi beli aja kalau gitu."   Ali menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat gadisnya yang tampak kesal. Akhirnya Alipun memutuskan untuk mengalah dan kembali memasukkan kartu kreditnya kedalam dompetnya. Ali merutuki kebodohannya yang mengeluarkannya dihadapan Prilly. Harusnya tadi ia langsung saja menuju tempat pembayaran. "Udah dimasukin nih."   Prilly langsung tersenyum senang. Prilly sebenarnya sangat senang dengan sikap baik Ali yang berniat membelikannya. Namun bagi Prilly ia belum berhak mendapatkan dari Ali apalagi dengan harga yang terbilang mahal itu. Bagi Prilly, Ali yang tiba-tiba datang saja menemaninya sudah sangat membuatnya bahagia.   Kini tas yang Prilly inginkan sudah ada ditangannya.   "Yuk kita nyusul bang Baja sama Farra," ajak Ali yang mendapat anggukan dari Prilly.   Ingin sekali rasanya menyelipkan jari-jarinya diruas jari yang mungil itu. Namun Ali tak ingin ambil resiko. Akhirnya ia hanya mampu berjalab disamping gadis itu.   "Yaelah lama bener dah pak, buk," ledek Baja membuat Ali dan Prilly terkekeh. "Buruan pesen deh," ucap Farra yang sudah mulai melahap makannya. "Kamu mau makan apa?" Tanya Ali sambil mengelus pucuk kepala Prilly sayang. "Salad aja deh." "Kalau lagi sama aku gak boleh makan makanan kambing gitu," ucap Ali tegas tak terbantahkan.   "Aku diet Li."   "Bodo amat, aku yang pesenin."   Prilly hanya mampu memutar bola matanya. Kenapa Ali bertanya jika pada akhirnya ia juga yang akan memesankannya.   Sebelum pesanannya datang mereka tampak bercerita-cerita.   "Gimana proses reading kamu? Kapan mulai syutingnya?" Tanya Ali. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut Prilly ketelinganya.   "Insyaallah awal februari. Aku langsung ke Dieng." "Aku ditinggal?" "Ikut yuk."   "Ogah ah, nyesek lihat Galang samaa Gendis," balas Ali memperlihatkan wajah cemberutnya. Prilly terkekeh kemudian mengusap jawab Ali. "Woy kita orang bukan nyamuk kebon," ucap Baja membuat Ali, Prilly dan Farra terkekeh geli.   Banyak orang terdekat mereka yang sudah sangat biasa melihat pemandangan seperti ini. Namun banyak juga orang yang sama sekali tak dekat namun merasa lebih tau apa yang terjadi dengan mereka dan berasumsi sendiri untuk menjatuhkan Ali dan Prilly maupun fans mereka yang dinamai APL.   Kini Ali dan Prilly menyantap makannya. Malam ini Prilly terpaksa memakan beberapa makanan atas paksaan Ali. Bukannya apa-apa, Ali selalu ragu tiap kali Prilly menjalankan diet. Pasalnya dulu saat mereka masih syuting ggs gadis itu sering kali jatuh sakit karna diet. Ali tak ingin hal itu terjadi lagi apalagi kini mereka tak setiap saat bisa bersama.   Setelah beberapa lama, Baja pergi membayar makanan sementara Farra pergi ketoilet. Tinggallah Ali dan Prilly.   "Tumben malam ini cantik," ucap Ali sambil menatap Prilly. "Jadi selama ini aku gak cantik?" "Selama ini cantik banget," balas Ali membuat pipi Prilly memanas. "Foto yuk," ajak Prilly. Ali mengangguk setuju kemudian mereka berselfie ria dengan berbagai pose. Sebenarnya sangat ingin mengupload foto malam ini di akun sosmed mereka untuk memperlihatkan pada dunia kalau mereka bahagia jika bersama dan mematahkan asumsi sebagian pendapat negatif orang yang selalu berusaha menjauhkannya.   Tak berapa lama Baja dan Farra kembali. "Li aku pulang deh ya." "Loh Prill, lo gak ikut nonton? Abis ini rencananya mau nonton" Tanya Farra. "Kapan-kapan deh kak." "Yaudah aku anter kiparkiran ya." "Gak usah deh Li, aku bisa sendiri." "Ya gak papa lah Prill, masa lo sendiri," timpal baja membuat Prilly mau tak mau mengikuti.   "Eh foto dulu dong," ajak Farra. Merekapun akhirnya berfoto. Setelah itu Baja dan Farra memutuskan untuk duluan kebioskop membeli tiket sementara Ali mengantar Prilly menuju mobilnya.   "Aku anter pulang aja deh ya. Kamu sama aku." "Loh suudara kamu gimana?" "Gampanglah, ntar aku jemput."   "Jangan dong. Kasian kamunya. Aku bisa pulang sama supir sayang," jelas Prilly lembut. Prilly yakin Ali akan terus memaksanya.   "Yaudah deh," Ali membukakan pintu mobil untuk Prilly. "Makasih ya Li, malam ini udah nemenin aku, di ajak makan pula." "Apaan sih kamu. Lain kali jalan lagi ya. Cuma berdua tapi." "Oke." "Eh besok aku ada dirumpi. Kalau sempat nonton ya," ucap Ali mengingat jadwalnya besok.   "Oke, ngomongnya jangan ngaur ya," Prilly mengingatkan. "Iya sayang. Yaudah kamu hati-hati ya." Prilly mengangguk kemudian memasuki mobilnya. "Sampai rumah langsung kabarin aku." "Iyaa pak, tapi lepas dong. Gimana aku mau pulang," Prilly melirik tangannya yang digenggam Ali.   "Ada magnetnya," Ali tertawa kemudian melepaskan tangannya.   Ali memasukkan sebagian badannya kedalam mobil Prilly kemudian mencium dahi Prilly cukup lama. Menyalurkan rasa cintanya yang ntah kenapa tak pernah surut membuat Prilly terpejam.   "I love you," bisik Ali.   "I love you too," balas Prilly pula.   Ali tersenyum mengelus pipi Prilly sejenak kemudian keluar dari mobil Prilly membiarkan Prilly menutup mobilnya. "Salam sama mama papa raja ya," pesan Ali.   "Oke, salam juga dari aku buat mama sama kaia, salam kangen," balas Prilly. Alipun mengangguk sembari tersenyum.   Tak berapa lama mobil Prilly pergi meninggalkan Ali. Ali selalu merasa senang saat bersama gadis itu. Begitu positif aura yang disalurkan gadis itu untuknya.   Jika orang-orang bilang gadis itu tak pantas untuknya, gadis itu tak bisa membuatnya bahagia, mereka salah besar. Hanya Ali yang tau seberapa pantas gadis itu untuk membuatnya bahagia dan jawabannya adalah sangat pantas.   Bahkan terkadang Ali yang merasa tak pantas untuknya. Gadis itu terlalu sempurna. Namun Ali selalu mematahkan pikiran itu. Ia harus yakin bahwa hanya dirinyalah yang pantas membahagiakan Prilly.   Mungkin Ali bukan tipe lelaki yang suka mengumbar-umbar perhatiannya kepada banyak orang. Cukup gadisnya yang tau bagaimana cara Ali menjaganya, membahagiakannya dan mencintainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN