Ziva terus mengikuti langkah Rose, rasa penasaran membakar dadanya. Akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan tua yang sepi, terbengkalai dan sunyi, jauh dari hiruk-pikuk pemukiman. Bangunan itu bukan sekadar lawas, sekitarnya meski luas namun kelam, lebih menyerupai markas rahasia daripada tempat tinggal. Rose turun dari motor, pandangannya menusuk menatap Ziva yang hanya terdiam membeku. "Ayo, turun. Kenapa cuma diam saja?" desaknya dengan suara tegas. Ziva mengernyit, penasaran dan bingung bercampur aduk. "Apa ini tempat tinggalmu?" tanyanya pelan, hampir seperti menahan diri. Rose tersenyum tipis, matanya menyimpan rahasia gelap. "Kalau kamu benar-benar mau tahu, lebih baik ikut aku masuk ke dalam." Tak langsung mengiyakan, di dalam hati Ziva bergumam, "Apa semudah itu dia akrab de

