"Gak. Aya gak mungkin se-tega itu." Alfarezi tidak percaya kalau Ayana meninggalkannya seperti yang dikatakan kemarin malam. Dengan cepat Alfarezi menyambar kunci mobilnya dan keluar dari kamarnya, seraya air mata penyesalan yang terus mengalir membasahi pipinya. Ia terus memegang kertas USG yang ditinggalkan Ayana untuknya sebelum pergi meninggalkan dirinya. "Maafkan papa, nak. Papa sangat menyesal," katanya, mencium kertas itu seakan-akan mencium anaknya sendiri—anak yang tidak diakuinya. Lalu kemana perginya sikap keras kepala yang kamu lakukan tadi malam itu, bapak Alfarezi Fabian yang terhormat, sang pewaris tunggal? Bahkan dengan teganya kamu menawarkan untuk mengaborsi anakmu sendiri hanya karena emosi semata yang belum kamu cari kebenarannya seperti apa. Kini penyesalan ada d

