Thalia masih mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur, matanya masih belum bisa terpejam. Ia masih memikirkan kejadian beberapa jam lalu. Ketika Rayhan bersikap manis, kemudian berubah datar seketika setelah menerima sebuah panggilan. Ia masih tak percaya mengapa otaknya memaksa dirinya untuk memikirkan Rayhan. Pukul satu dini hari, itu yang ia lihat dari weker di atas nakas. Matanya masih enggan terpejam. Membuka akun sosial medianya sebentar mungkin akan membuatnya mengantuk. Baru saja Thalia menghidupkan data, ponselnya berbunyi dan menandakan ada panggilan masuk, matanya terbelalak menatap nama si penelepon dini hari. Siapa lagi jika bukan Rayhan? Ia masih menimbang-nimbang antara mengangkat atau mengabaikannya. Setelah mengatur napasnya, Thalia memutuskan mengangkat panggilan Ra

