Mala menatap datar wanita yang duduk berhadapan dengannya di sebuah coffee shop yang terletak tidak jauh dari kantornya. Beberapa waktu yang lalu, Amel memintanya untuk bertemu. Memaksanya agar mau berbicara empat mata bersama wanita itu. Dengan usaha keras, akhirnya Mala menyanggupi ajakan Amel untuk bertemu. “Ada apa?” tanya Mala dingin, seraya meneguk late yang dia pesan sebelumnya. “Kamu nggak kangen Leo?” tanya Amel pelan. Mendengar nama Leo, hati Mala kembali bergetar. Begitu rindunya Mala pada Leo selama beberapa hari ini. Namun selalu berusaha menekan rasa rindunya agar tak kembali lagi ke rumah itu. “Besok aku akan menemui Leo,” jawabnya ringan. “Di sekolahnya.” sambungnya cepat. Tidak ingin membuat Amel mengira Mala akan kembali pulang. Amel tersenyum kecut, mulai mengeluarka

