Tiga

2444 Kata
“Dasar perawan tua! Nyebelin! Memangnya dia nggak bisa ya bilangnya baik-baik?! Harus banget sampai orang-orang tahu!” Haruka mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Berteriak sekuat tenaga di tepi pantai memang cukup berpotensi membuatnya terjangkit penyakit radang tenggorokan. “Tunggu, tapi dia kan udah nggak perawan lagi,” gumamnya dan setelah itu terkekeh pelan. “Dasar, karena emosi aku jadi lupa kalau Mala udah nggak perawan.” kekehnya lagi seakan lupa dengan kekesalannya. Haruka menghentikan tawanya saat melihat botol minuman kaleng disekitar kakinya. Tanpa rasa sungkan dia menendang botol itu sekuat tenaga untuk sekedar amelampiasakan segala ke kesalannya. “ADUH!” Mata Haruka membulat saat mendengar suara ringisan seseorang. “Mampus! Jangan-jangan kena orang lagi!” gumamnya takut. “Woi, siapa yang ngelempar botol ke gue?!” teriakan suara seseorang semakin membuat Haruka meneguk ludah berat. “Mendingan aku kabur dari sini,” sambungnya lagi dan segera mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu, dia tidak ingin jika nanti orang itu berhasil menangkapnya. “Heh!” Haruka semakin mempercepat langkahnya saat mendengar orang itu sepertinyamemanggilnya. “Heh, woi!” panggil orang itu lagi, bahkan suaranya semakin mendekat ke arah Haruka. “Bukan! Bukan aku yang lempar!” jerit Haruka yang terus melanjutkan langkahnya. “KYAAAAAAAAAA.” Haruka berteriak nyaring saat merasakan sebuah tangan kekar menahan lengannya. “Loh, kita pernah ketemu, kan?” Haruka yang tadinya masih berteriak segera menghentikan teriakannya yang mampu menulikan telinga siapa saja yang mendengarnya. Haruka menoleh kesamping dan membulatkan kedua matanya menatap seorang lelaki yang tengah tersenyum kekanakan padanya. “Kamu?” “Masih ingat aku?” Bukannya dia cowok yang percaya diri banget itu ya? Siapa namanya? Ha... Har... ah! Terserah. Nggak penting banget. Batin Haruka. “Haris.” ucap lelaki itu mengingtkan. Haruka berjengit malas dan berdehem pelan. “Hm, aku ingat.” jawabnya dingin. Kali ini Haris yang berjengit aneh menatap Haruka. lagi-lagi bersikap dingin padanya. Namun, justru hal itu lah yang membuatnya merasa tertarik. “Kamu lagi ngapain kesini? Sendirian?” tanya Haris membuka percakapan. “Hm.” jawab Haruka malas. “Oh... hei! Kamu tadi lihat orang yang ngelempar botol ini nggak?” tanya Haris yang mengacungkan sebuah botol minuman kaleng pada Haruka. Haruka mendadak gugup seketika, namun tetap berusaha mengatur sikapnya sebiasa mungkin. “Nggak... aku nggak lihat.” jawabnya sedikit berkeringat. “Ah... gitu. Ck, siapapun orangnya, dia pasti punya tenaga super. Kepala gue sampai pusing gini.” Kali ini Haruka tidak lagi mampu menahan bibirnya untuk tidak tersenyum, bahkan kekehan kecil meluncur dari bibir merahnya. “Hei... kamu tersenyum!” pekik Haris girang. Haruka tergagap di tempatnya, “Ke-kenapa memangnya?” “Aku pikir kamu ini manusia es. Pertama kali ketemu, kamu nggak mau senyum, dingin banget. Padahal senyum kamu manis loh.” Wajah Haruka memerah seketika mendapatkan pujian dari Haris. Selama ini belum pernah ada yang memujinya seperti itu. Ya, hal itu bukanlah masalah yang sulit untuk sorang Cassanova seperti Haris. “Kamu sibuk nggak?” tanya Haris yang dijawab gelengan pelan oleh Haruka. “Bagus. Jalan sama aku, yuk.” ajak Haris. “Hah? Jalan? Duh... aku nggak bisa.” Tolak Haruka langsung “Kenapa?” “Hm... itu... kamu... kamu... kan kita...” Haris mengernyit bingung menunggu kelanjutan ucapan Haruka. “Gini, kita kan baru aja kenal. Jadi aku pikir bukan ide yang bagus kalau kita langsung jalan berdua.” jelas Haruka. Haris terkekeh pelan mendengar penjelasan Haruka. “Kamu takut? Kita kan cuma jalan-jalan dipantai. Bukannya pergi Chek-in ke hotel.” Mulut Haruka menganga seketika mendengar jawaban Haris. Belum sempat Haruka menjawab, Haris udah menarik tangannya untuk pergi. *** “KYAAAAAAAAA” Leo yang sedang menonton televisi terpaksa menutup kedua telingnya saat tiba-tiba mendengarteriakan seseorang. Bahkan Mala sudah berlari tergopoh-gopoh dari kamarnya karena mendengar teriakan luar biasa itu. “Aunty kenapa teriak-teriak kaya orang gila, sih?!” bentak Leo saat membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok Haruka berdiri disana. Haruka tidak bergeming, memandang kosong lurus ke depan. Membuat Mala sedikit merasa bersalah. Dia mengira Haruka seperti ini karena sikap kasarnya tadi siang. Perlahan dia mendekati Haruka yang masih tetap menatap kosong kedepan. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Mala pelan. Haruka menggeleng lemah dan menatap Mala lirih. “Dia... dia bilang suka sama aku, La. Terus... mau serius sama aku.” gumamnya pelan. Mala mengernyit aneh padanya. Tidak mengerti kemana arah bicara Haruka. Sedangkan Leo memutuskan tidak peduli dengan adegan drama yang di ciptakan Haruka disana. Dia lebih memilih melanjutkan kegiatan menontonnya dari pada menyaksikan drama itu. “Aku masih nggak percaya.” Sambungnya lagi. “Haru, kamu kenapa sih? Dia siapa? Serius sama siapa maksud kamu?” tanya Mala tidak sabar. “Haris. Mala... dia tadi ngajak aku kencan...” “APA?!” teriak Ibu dan anak itu bersamaan. Leo bahkan telah memfokuskan matanya menatap Haruka. “Woah.. Om-Om mana yang mau ngajak Aunty kencan? Pasti Om-Om yang matanya rabun.” tanya Leo serius. Dan seketika menyadarkan Haruka dari batas mimpinya. Dia menatap Leo dengan tatapan membunuh. Ingin sekali mencabik bibir tajam Leo. “Heh, bocah tengik! Kamu pikir Aunty sejelek itu sampai nggak ada cowok yang mau ngajak kencan, hm? Semabarangan kamu.” sungutnya. Dan setelah itu terciptalah adu mulut di antara keduanya. Mala masih belum merespon, dia masih sibuk dengan pemikirannya. “Ck tunggu! Kamu bilang tadi diajak kencan?” tanya Mala mengintrogasi. Haruka mengangguk semangat padanya. Bahkan senyuman lebar sudah terkembang di bibirnya. “Cowok mana yang maksud kamu?” tanya Mala lagi. Haruka menjentikkan jarinya semangat. Menggeret Mala duduk di sofa agar mereka bisa leluasa berbicara. “Kamu ingat cowok genit yang ketemu aku di kafe? Yang kuceritakan kemarin?” Mala mengangguk pelan. “Namanya Haris! Tadi siang, aku ketemu sama dia. Kita jalan–jalan di pantai, terus lihat-lihat tempat yang bagus. Aku nggak tahu kalau dia orang yang menyenangkan.” Haruka mengulum senyumnya yang terus saja seakan ingin terkembang. “Bisa langsung to the point nggak sih?” sela Mala. “Hih! Jadi... waktu dia anterin aku pulang tadi, tiba-tiba aja tangan aku dipegang. Terus... dia tatap mata aku lembut... banget dan bilang, kamu mau nggak punya hubungan serius sama aku?” ujar Haruka malu-malu. Leo yang melihat bagaimana ekspresi Haruka rasanya ingin segera memuntahkan puding coklat yang baru saja dia makan. “Terus kamu terima gitu aja?! Itu kamu baru kenal loh sama dia, dan mau-mau aja di ajakin gitu?!” bentak Mala sambil mengingit bibir bawahnya dan menatap garang pada Haruka. Mala terlalu overprotektif terhadap sahabat yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu. “Ya nggak!” jawabnya cepat. “Aku nggak langsung terima gitu aja. Gila apa. Tapi aku bilang sama dia, kalau dia memang mau serius, harus ketemu kamu dulu. Soalnya Mama sama Papa aku kan jauh, jadi kamu aja gantinya mereka.” Mala terseyum kecil mendengarnya. Ternyata ultimatumnya saat mereka masih berada di Tokyo dulu masih di tepati oleh Haruka. “Tapi La, dia mau ketemu kamu katanya. Secepatnya.” “Kok buru-buru banget? Hamil ya, kamu?” “Ih, sembarangan! Ketemu aja baru dua kali gimana bisa hamil coba?!” “Justru itu! Baru ketemu dua kali masa dia langsung mau serius sama kamu.” “Namanya juga jodoh!” “Udah pengen kawin banget ya kamu sampai kebelet gini?” “Ya memangnya kamu aja yang udah pernah nikmati rasanya kawin, kan aku juga pengen.” “Kawin itu apa sih, Bunda?” tiba-tiba saja, dengan suara polosnya Leo bertanya. Membuat kedua orang dewasa di depannya saling mengerjap bingung. *** “Nggak.” “Ayolah, Ka… Lo harus bantuin gue...” Raka mencoba tetap fokus pada pekerjaannya. Mengacuhkan rengekan Haris yang sedari tadi mengganggunya bekerja. Entah apa yang terjadi pada Haris. Tiba-tiba saja meminta Raka untuk menemaninya bertemu dengan sahabat dari gadis yang entah kenapa telah menyita seluruh perhatiannya, padahal gadis itu adalah seseorang yang baru saja dia kenal. “Sejak kapan lo berubah kayak gini, huh? Gue gak mau ambil andil dalam permainan busuk lo, Ris. Malu-maluin tahu, nggak.” ujar Raka. Dia mulai gerah dengan rengekan Haris yang mengganggu pendengarannya. “Ck! Lo boleh percaya atau nggak, tapi... kayanya gue benar-benar jatuh cinta sama Haruka.” gumam Haris dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia menerawang kelangit-langit ruangan Raka. Mengingat momen-momen indahnya saat bersama dengan Haruka. “Cih, gue udah gila.” gumamnya sendiri. “Lo memang gila!” Raka membenarkan. “Jadi gimana dong? Lo mau kan nemenin gue ketemu sama sahabatnya? Dia nggak bisa jadi pacar gue sebelum sahabatnya itu setuju. Ayolah... lo kan pintar ngomong, Ka.” rengek Haris lagi. “Memangnya lo nggak? Selama ini yang mendapat gelar Playboy siapa? Lo, kan? Gue rasa mulut manis lo itu bisa meyakinkan sahabat cewek itu.” Haris berdecak dan menopang dagu dengan sebelah tangannya. Menatap Raka dengan tatapan miris. “Gue juga nggak tahu kenapa malah jadi pengecut gini... takut gue kalau-kalau gue salah ngomong terus jadinya berantakan. Sumpah deh, Ka, kayanya ini bakalan jadi pencarian terakhir gue.” gumamnya. Raka tertawa mendengar gumaman Haris. Tidak memedulikan tatapan sahabatnya yang seakan ingin mencekik dirinya, kali ini lelaki itu cukup takjub dengan ucapan sang playboy namun melankonis itu “Oke... gue temenin. Ini benar-benar ajaib, Ris. Gue jadi nggak sabar ketemu cewek yang berhasil buat seorang Haris bermulut besar jadi kelihatan bego kaya gini.” “Sialan lo!” *** Amel membenarkan letak dasi Raka sementara lelaki itu sibuk mengotak-atik ponselnya. Dari tadi dia tidak henti-hentinya tersenyum kecil membaca setiap pesan masuk mpada ponselnya. “Kenapa sih, Mas?” tanya Amel. “Haris. Kayanya dia beneran kasmaran deh, sayang. Lihat nih rusuhnya gimana.” Raka membalikkan ponselnya agar Amel dapat melihat layar ponselnya. Gue harus pakai baju apa, Ka?!! Jangan sampai terlamabat. Ingat, jam setengah delapan udah harus sampai. Benar-benar sial! Celana gue ketumpahan air. Ck, kepaksa ganti celana lagi nih! “Hih, Haris lebay! Mas, cewek itu cantiknya gimana sih sampai Haris belingsatan kayak gitu?” tanya Amel sambil terkekeh pelan. Raka hanya mengangkat kedua bahunya ringan. Meraih jasnya dan segera memakainya. “Mas juga belum pernah ketemu. Nanti mas ceritain sama kamu setelah mas pulang.Nggak nyangka banget Haris bisa menemukan pasangan hidupnya.” gumam Raka sambil terkekeh. Dia meraih kunci mobilnya dan mengecup lembut dahi Amel. “Mas pergi, ya. Jangan ditungguin, langsung tidur aja.” perintah Raka. Raka mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal. Terkadang bersenandung kecil sekedar mengusir rasa bosannya. Dia melirik ponselnya yang sedari tadi bergetar. Terkekeh puas saat membayangkan wajah muram Haris karena dia tidak mau mengangkat panggilan darinya. “Nggak sabaran banget sih.” desisnya. Sesampainya disana, Raka menyerahkan kunci mobilnya pada petugas vallet. Kakinya mulai melangkah menyusuri bangunan megah dihadapannya. Restoran yang di pesan Haris memanglah salah satu restoran termewah di Jakarta. Sepertinya Haris sudah mempersiapkan segalanya untuk mendapatkan Haruka. Raka mulai mengitari pandangannya kesemua sudut ruangan. Matanya menangkap sosok Haris yang terlihat duduk dengan tidak tenang di salah satu meja. Raka tersenyum kecil sebelum menghampiri Haris. “Hoi! Mereka belum datang juga?” tanya Raka. Namun Haris malah menatap garang padanya. “Lo kenapa lama banget, sih?!” sungutnya. “Kenapa? Pacar lo juga belum datang.” Balas Raka sembari menghempaskan tubuhnya di samping Haris. Dia melirik isi meja dihadapannya. Kemudian tersenyum penuh arti pada Haris. “Gak ada Wine?” “Ngimpi Lo! Lo mau gue di bunuh Amel gara-gara dia tahu lo minum?” “Ck! Seenggaknya, lo harus... “Maaf.. aku terlambat.” Suara seorang gadis yang berdiri di hadapan keduanya, menghentikan perdebataan yang terjadi di antara Haris dan Raka. Haris tersenyum lebar menatap gadis yang ada didepannya. Dia segera berdiri menyambut gadis itu. “Nggak apa-apa kok.” ujarnya berbasa-basi. Raka tersenyum geli melihat tingkah Haris. Biasanya Haris selalu memasang gaya cool-nya saat berhadapan dengan para gadis. Namun hari ini dia terlihat sangat manis. “Dimana teman kamu?” tanya Haris sembari menarik kursi untuk Haruka. “Sebentar lagi dia datang. Tadi hpnya ketinggalan didalam mobil, dia harus telefon anaknya dulu soalnya.” jawab Haruka. Dia melirik lelaki yang duduk di sebelah Haris. Mengerutkan dahinya ketika merasa sedikit familiar dengan wajah itu. “Raka Hamizan.” ucap Raka memperkenalkan diri. “Haruka.” Balas Haruka. “Ahhh jadi ini cewek yang merebut perhatian Haris Abzan?” goda Raka. “Lemes Lo!” Haris mendelik garang pada Raka yang terkekeh puas karena berhasil menggodanya. Namun Haruka masih saja mengerutkan dahinya, dia masih menebak-nebak kapan dia pernah berjumpa dengan Raka. “Maaf ya, aku sedikit terlambat.” *** Mala berjalan beriringan bersama Haruka. Memasuki sebuah restoran mewah, tempat dimana Haris dan Haruka membuat janji. Hari ini dia memang akan bertemu dengan lelaki yang mencalonkan diri sebagai kekasih Haruka. Mala tidak ingin Haruka salah dalam memilih pasangan hidupnya. “Tunggu, hp aku ketinggalan dimobil.” ujarnya dan seketika menghentikan langkah kakinya. Haruka yang sudah tidak sabar bertemu dengan Haris memutar kedua bola matanya malas. “Kamu kan nggak butuh hp di dalam nanti, La. Udah deh, masuk yuk, nanti Haris keburu pulang gara-gara kelamaan nungguin kita.” “Ya biarin aja dia nunggu. Kalau nunggu sebentar aja dia nggak sabar, aku coret dia dari daftar calon pacar kamu.” Haruka mendesis pelan menahan rasa kesalnya. “Aku harus ngecek Leo. Gimana kalau Bu Ambar nggak sanggup jaga bocah nakal itu? Kamu tahu kan, dia itu susah diatur?” “Iya, tahu. Sama kaya Bundanya, kan?” Malas hany mencibir malas. Leo memang mereka titipkan pada tetangga sebelah diapartemen mereka. Awalnya Leo menolak dan lebih memilih ditinggalkan sendirian diapartemen. Namun Mala tidak mengijinkan, bagaimanapun Leo itu tidak dapat dipercaya. “Kamu masuk aja duluan. Nanti aku nyusul. Bilang sama Haris, sabar sebentar. Kalau nggak...” “Iya... iya... bawel kamu ah.” ujar Haruka. Dia mengibas-ngibaskan tangannya pada Mala agar dia cepat pergi. Mala tertawa pelan dan segera kembali ke mobil. Mengambil ponselnya yang sempat tertinggal disana. Kemudian memastikan jika anaknya tidak merepotkan Bu Ambar. “Syukurlah dia nggak nakal,” gumam Mala setelah mengakhiri panggilannya. Dia kembali melanjutkan langkahnya. Memasuki restoran yang berdiri kokoh itu. Bibirnya tersenyum kecil saat memerhatikan desain interior bangunan. Tidak salah jika restoran ini selalu di agung-agungkan akan kemewahannya. Yah... dan yang pasti tarif menikmati seporsi menu disini pun sama mewahnya bukan? “Oh?” gumam Mala saat melihat sosok Haruka yang sedang duduk disebuah meja. Dia tersenyum kecil dan segera mendatangi meja itu. “Maaf ya, saya sedikit terlambat,” ucapnya. Mala sempat tersenyum kecil pada Haruka yang menatapnya kesal. Namun senyuman itu lenyap seketika saat dia menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan tajam. Tatapan yang mampu menghentikan segala kegiatannya. Bahkan tubuhnya kaku seketika saat dia menarik sebuah kursi. Kedua mata mereka saling bertemu, saling melemparkan tatapan penuh arti satu sama lain. Entah apa arti dari tatapan itu. Karena hanya mereka berdualah yang tahu. Mala seakan tidak dapat menguasai dirinya untuk sekedar bernapas. Napasnya seakan berada di ambang tenggorokannya. Tercekat dan sulit untuk dikeluarkan. “Hei, Mala, kamu nggak apa-apa?” suara dan tepukan Haruka di atas lengan Mala menyadarkan dirinya dari ketidak sadarannya. Dia berusaha berdehem pelan dan mengangguk. Haris dan Haruka saling pandang tidak mengerti. Keduanya menatap sosok yang duduk disampingnya dengan bingung. Dan Raka? Dia bahkan tidak dapat memalingkan tatapannya dari wajah Mala. Seakan tidak ingin kehilangan lagi wajah itu. Wajah yang hingga detik ini selalu dia rindukan. Ingin rasanya dia segera menarik Mala kepelukannya. Seperti apa yang selama ini sudah dia impikan. Bertemu kembali dengan Mala adalah sesuatu yang amat sangat dia tunggu. Masih ada ribuan pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Mala. “Apa kabar... saya Haris.” ujar Haris memperkenalkan diri. Namun Mala sama sekali tidak fokus padanya. Dia berkali-kali meneguk ludah berat. Walaupun dia menatap Haris tapi dia tetap tahu bagaimana Raka sedang memandangnya saat ini. Dan itu menyulitkannya untuk bernapas dengan baik. “La, kamu kenalan dong.” bisik Haruka. “Y-ya? O-oh… Mala Hadi Rahayu.” ucapnya tak fokus. Harus mengangguk kecil. “Ini teman saya. Raka” Mala mengepal kuat kedua tangannya. Perasaanya sudah tidak karuan. Satu sisi dia senang bisa menatap kembali wajah yang selama ini hanya dapat dia lihat saat memutar seluruh memori-memori ingatannya. Tapi di satu sisi yang lain, dia merasakan sebuah ketakutan teramat besar. Entah apa itu tapi yang pasti dia benar-benar tidak bisa dan tidak mampu menatap Raka. Suara gesekan yang timbul dari kursi Mala membuat seluruh perhatian ketiga orang yang ada Di sana menatapnya. Mala berdiri dengan wajah yang sangat pucat. Dia menundukkan kepalanya dalam tanpa menatap siapa pun diantara mereka. “Maaf, sepertinya saya nggak bisa melanjutkan makan malam hari ini. Saya... harus pergi.” ucapnya pelan. Dan tanpa menunggu jawaban dari mereka, Mala segera mengambil langkah seribu. Meninggalkanm restoran itu. Haris dan Haruka sama sekali tidak mengerti dengan sikap Mala yang tiba-tiba saja seperti itu. Lalu ketika Raka juga melakukan hal yang sama. Keduanya kembali bertatap bingung. “Mereka berdua kenapa?” gumam Haris. “Aku kejar Mala dulu.” ucap Haruka. Dia segera berdiri, menyusul Mala. Dia yakin ada yang tidak beres dengan wanita itu. Haruka bahkan tidak menghiraukan keberadaan Haris yang mengikutinya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN