“Hai, Bro!”
Raka menoleh kearah pintu ruangannya. Seorang lelaki dengan senyuman kekanakan yang dimilikinya telah berdiri manis disana. “Ngapain lo?” respon Raka datar dan membuat lelaki itu mendesis kesal.
“Mentang-mentang baru pulang dari Jerman udah songong banget.” sungut lelaki itu seiring langkahnya memasuki ruangan milik Raka.
Raka tersenyum tipis dan terlihat tetap sibuk dengan tumpukan dokumen dihadapannya. “Gue nggak punya oleh-oleh apapun buat lo, Ris. Jadi jangan terlalu berharap.” ujarnya diselingi kekehan kecil.
Raka sudah sangat tahu maksud baik apa yang dimiliki Haris, bawahannya sekaligus sahabat baiknya itu untuk menyapanya pagi-pagi seperti ini. Apalagi kalau bukan menginginkan sebuah hadiah.
“Nyesel gue udah nyapa lo.” ujarnya sengit. Haris duduk dihadapan Raka, memainkan ponsel miliknya dan sesekali terdengar tawa kecil dari bibirnya. “Eh, lo kenal Bara, nggak?”
“Bara Aditya?” ujar Raka memastikan. Haris mengangguk kuat. “Kenal. Kenapa memangnya?”
“Dia mau nikah dengan cinta pertamanya. Di zaman seperti ini si bodoh itu masih saja percaya dengan Frist Love? Geli gue.”
Raka yang awalnya tidak terlalu menanggapi ocehan Haris, kini menjadi tertarik dengan pembicaraan itu. Cinta pertama, dia terlalu sensitif dengan dua kata itu.
“Bahkan gue dengar, dia rela nggak mendekati perempuan manapun cuma buat nungguin itu cewek. Gila tuh anak! Bego banget. Kalau gue, pasti secepatnya ngelupain itu cewek dan mulai kencan sama cewek lain. Iya sih... dia memang beruntung bisa ketemu lagi dengan cinta pertamanya. Tapi gimana kalau nggak?” oceh Haris panjang lebar.
Raka dengan patuh mendengar setiap ucapan Haris yang terkenal Playboy dikalangan para gadis.
“Lagi pula... sekali kita udah melupakannya, maka disaat ketemu lagi, rasa itu pasti sudah lenyap entah kemana.” Gumam Haris lagi.
“Lo salah.” potong Raka tiba-tiba.
Haris yang sedang tertawa lebar terpaksa menghentikan tawanya. Menatap bingung pada lelaki yang ada di depannya.
“Lo nggak akan pernah bisa melupakannya sedikitpun, meski lo telah membohongi seluruh dunia, meskipun lo bertekad dengan sungguh-sungguh untuk melupakannya. lo nggak akan bisa. Lo... akan tetap menyimpan perasaan itu, menyembunyikannya di manapun hingga lo kembali bertemu dengannya.”
Raut wajah Haris kini berubah mendengar ucapan Raka. Dia kembali melihat raut yang seakan menahan beribu kerinduan pada seseorang dari wajah itu.
“Masih sering mikirin dia?” tebak Haris. Dia tahu segala rahasia yang disimpan oleh Raka. Karena hanya pada dirinyalah Raka mau menceritakan apapun masalahnya. “Stop, Ka, sampai kapan lo mau terus mengingat masa lalu? Bahkan sampai detik ini lo nggak pernah ketemu sama dia. Mungkin aja dia udah...”
“Gue udah ketemu sama dia.” Raka menatap
lurus kedepan, kembali mengingat momen di mana dia telah melihat mata yang sudah lama tidak dia tatap. Wajah yang sudah lama tidak dia nikmati.
“Maksud lo?” tanya Haris tidak mengerti.
“Kemarin, di Bandara. Gue nggak sengaja ketemu sama dia,” ujar Raka menatap Haris. “Dia kembali, Ris. Dia ada disini. Dia ada di tempat dimana gue berpijak.” jelasnya dengan wajah yang mulai berseri.
“Terus lo mau apa? Nyatain cinta? Melamarnya?” tanya Haris dengan nada malas. “Lo itu udah berkeluarga. Apa gue harus ngingatin lo lagi untuk yang keseribu kalinya?”
Mendengar itu Raka kembali menghela napas gusarnya. Dia menyandarkan punggungnya lelah pada sandaran kursi kerjanya. “Dia juga udah nggak sendiri,” jawab Raka sarat dengan kelelahan. “Dia... udah punya anak.” sambungnya lagi.
“Nah! Itu berarti udah jelas. Lo udah berkeluarga, dia juga udah berkeluarga. Jadi berhenti mikirin dia.”
“Hm… Gue juga berharap kaya gitu. Bisa
ngelupain dia.” gumam Raka tak yakin.
***
“Ingat! Jangan nakal dan jangan berantem sama temen
kamu. Harus nurut sama guru kamu, dan...”
“Belajar sunguh-sungguh supaya kamu bisa
jadi anak yang pintar.” Mala mendesis pelan melihat wajah datar Leo saat mengucapkan kalimat yang sering dia ucapkan pada putrnya itu. “Leo udah hapal banget dengan mantra yang Bunda bilang setiap kali nganterin Leo ke sekolah. Bosen!” keluh Leo.
Mala mendaratkan jitakan pelan dikepala Leoyang sedang mengerucutkan bibirnya dengan lucu. “Sehapal apapun, kamu tetap aja selalu nakal di sekolah. Bunda sampai capek di panggil terus ke sekolah kamu,” rutuk Mala. “please... kali ini jadi anak baik, ya, sayang?”
Leo memang memiliki emosi yang sedikit tidak terkontrol. Bahkan saat dia sekolah di Tokyo dulu, dia berkali-kali terlibat dalam perkelahian dengan teman-temannya.
“Oke, Leo janji nggak akan mukul orang lagi. Asalkan mereka juga nggak ngeledekin Leo kaya temen-temen Leo yang dulu.” ujarnya datar.
Mala menghela napas malasnya. “Ya udah, sana masuk.”
“Hm.”
Mala memberikan kecupan singkat dibibir tipis Leo dan dibalas dengan kecupan singkat oleh Leo di dahi Mala hingga Mala tersenyum senang.
Mala menatap punggung Leo yang tengah berlari-lari kecil memasuki gerbang sekolah hingga tak terlihat lagi. Dia tersenyum bangga karena telah memiliki Leo di kehidupannya, bersyukur dengan tulus akan kehadirannya.
Tidak mengapa jika hidup tidak terlalu adil padanya, tidak mengapa dirinya tidak akan pernah mengecap rasa sempurna dalam hidup. Asalkan Leo tetap berada disisinya, itu sudah lebih dari cukup. Dia tidak akan pernah meminta lebih pada Tuhan
Karena baginya, Leo merupakan kesempurnaan hidupnya.
Mala mendesah panjang sebelum memutuskan kembali memasuki mobilnya, merogoh tas hitamnya yang terletak di samping tempatnya mengemudi saat merasa ada getaran dari dalam sana.
Haruka calling.
[Halo?]
Mala tersenyum simpul mendengar omelan panjang tiada henti dari Haruka. Dia mengomelinya karena sampai detik ini Mala belum juga sampai dikantor. Padahal hari ini adalah hari pertamanya bekerja. “Iya... aku baru aja ngantar Leo. Abis ini aku langsung kekantor.”
Setelah mengatakan itu, Mala memutuskan sambungan telefon. Kemudian menjalankan mobilnya dan
meninggalkan sekolah Leo.
Dan disaat yang bersamaan, sebuah mobil berselisihan dengan mobilnya memasuki kawasan itu.
***
“Kayanya di sini lumayan.” gumam Haruka menatap sebuah kafe yang ada di hadapannya. Dia kembali berdecak kesal mengingat penolakan Mala saat dia mengajaknya untuk makan siang bersama.
Mala malah lebih memilih menjemput Leo dan makan siang bersama Leo. “Ck! Dasar tega. Awas aja kalau aku nyasar. Dia orang pertama yang aku laporin ke kantor
polisi karena udah berani menelantarkan gadis nggak berdaya dan polos kaya aku.” gerutunya disepanjang jalan.
Haruka memanglah keturunan Indonesia dan Jepang. Ibunya berdarah Indonesia sedangkan Ayahnya berdarah Jepang. Dia di lahirkan di Indonesia, tetapi ketika umurnya genap dua tahun, kedua orangtuanya menetap di Jepang. Dan hingga dia berumur dua puluh lima tahun, baru kali ini lah dia kembali ke tempat dimana dia di lahirkan.
Haruka melirik ke sekeliling kafe yang terlihat penuh. Di jam makan siang seperti ini, semua kafe di sekitar kantor mereka memang akan sangat ramai.
Mata Haruka menangkap sebuah meja kosong yang terletak di pojok ruangan, dengan senyuman kecil dia segera mendekati meja itu. Haruka memesan beberapa makanan untuk dia nikmati, sesekali bersenandung kecil sambil memerhatikan interior kafe.
“Saya boleh duduk disini, mba?”
Pertanyaan dari suara seorang lelaki membuat Haruka mengangkat kepalanya hingga menengadah ke atas. Dia berkedip pelan saat mendapati wajah polos dengan sebuah senyuman kekanakan di bibir lelaki itu.
“Hei!” lelaki itu menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Haruka hingga membuatnya tersadar dari lamunanya.
“Hm? Ah... iya, duduk aja.” Ujarnya mempersilahkan.
Lelaki itu tersenyum manis dan duduk dihadapan Haruka. “Rame banget, harusnya gue datang lebih cepat tadi.” Gumamnya.
Haruka memerhatikan wajah lelaki itu dengan teliti. Mata, hidung, rambut, bibir hingga rahangnya yang menurut Haruka sangat memesona.
Lelaki itu mulai tersadar dengan tatapan aneh Haruka padanya. “Ada jerawat ya mba di wajah saya?”
Haruka berdehem pelan dan menggleng sekali. Seorang pelayan datang membawa pesanan Haruka. Dia mengangguk sekali pada pelayan kemudian segera menikmati makan siangnya tanpa mempedulikan lelaki yang ada dihadapannya.
“Nggak usah sungkan. Terima kasih.” Ujar lelaki itu menyindir.
“Oh, maaf. Saya makan duluan.” Ucap Haruka yang tersadar dengan sindiran lelaki itu.
“Haris.” ujar lelaki itu lagi. Haruka mengangkat kepalanya dan menatap Haris bingung. “Nama saya Haris.” ulang Haris yang berniat mengenalkan diri.
“Oh,” respon Haruka datar.
Melihat itu, Haris menjadi bingung. Biasanya jika dia memperkenalkan dirinya pada seorang gadis, dia pasti akan mendapatkan respon yang menggila dari gadis itu. Tapi anehnya gadis yang ada di hadapannya sama sekali tidak menunjukkan respon yang sama.
“Ini pesanan bapak.”
“Oh! Terima kasih...” Haris tersenyum manis pada seorang pelayan wanita yang baru saja mengantarkan pesanannya.
Haruka yang tidak sengaja melihat itu mencibir dalam hati. Dia segera berdiri setelah mengelap pinggir bibirnya.
“Loh, kamu udah selesai?” tanya Haris.
“Iya, saya pergi lebih dulu.” pamitnya sopan dan segera meninggalkan Haris yang masih tertegun.
Haris memandangi kepergian Haruka dengan puluhan pertanyaan di kepalanya. “Aneh banget itu cewek. Masa sih dia nggak tertarik sama gue?” gumam Haris.
***
“Dia pikir aku bakalan naksir gitu, sama dia? Dih... percaya diri banget itu cowok. Memangnya aku bego, cowok kaya dia udah sering banget aku tolak. Iya sih... ganteng, tapi kalau ganjen buat apa.” Papar Haruka berapi-api pada Mala yang sedang membolak-balik majalahnya.
“Kayanya ada kalimat yang harus diperbaiki deh, Aunty.” Celetuk Leo yang sedang sibuk dengan buku tugasnya.
“Yang mana?” tanya Haruka.
Mala tersenyum kecil memikirkan apa yang sebentar lagi terjadi di antara Leo dan Haruka.
Leo meletakkan pensilnya dan berdehem pelan. “Cowok kaya dia udah sering banget aku tolak,” ucapnya menirukan gaya Haruka. “memangnya cowok mana yang pernah Aunty tolak? Leo nggak pernah lihata da cowok yang deketin atau suka sama Aunty, seharusnya tadi Aunty bersyukur karena cowok yang Aunty sebut ganteng tadi mau kenalan sama Aunty. Bukannya malah jual mahal sama dia. Jual murah aja Aunty belum tentu laku.” Papar Leo dengan sadisnya.
“Leo!” geram Haruka.
Mala sudah tertawa puas melihat wajah merah Haruka. Apa yang dikatakan Leo memang benar. Selama ini belum ada seorang lelaki manapun yang mau mendekati Haruka.
Yah... dengan sikapnya yang cuek dan ketus itu, tentu saja membuat semua lelaki harus berpikir dua kali untuk mendekatinya. Haruka tidak mudah menunjukkan sikap yang bersahabat dengan orang yang belum terlalu dekat dengannya.
“Bagussssss, ketawa aja terus, La! Kamu pikir kamu lebih baik dari aku, huh?” teriaknya pada Mala yang semakin tertawa puas.
“Kenapa kamu jadi marah sama aku? Leo kan cuma menyampaikan fakta yang dia tahu... terimalah dengan lapang dada.” balasnya diselingi tawa.
“Bocah ingusan! Harusnya kamu bilang kaya gitu ke Bunda kamu! Tahu nggak, berapa banyak cowok yang udah Bunda kamu tolak selama ini, hm? Bahkan direktur muda di perusahaan yang naksir banget sama Bunda kamu aja dicuekin.” sindir Haruka mencari skor karena kekalahannya.
Mala kembali berpura-pura sibuk dengan majalahnya. Dia terlalu malas jika harus membahas masalah pribadinya di hadapan Leo.
“Nggak usah heran, Aunty. Bunda kan memang masih nunggu cowok yang udah kasih Leo sebagai hadiah ke Bunda.” jawab Leo ringan dan kembali mengerjakan tugas sekolahnya.
Mala melirik Leo sejenak, sedikit terperangah mendengar perkataan Leo.
“Kalau gitu dia nggak akan pernah menikah.” gumam Haruka dengan suara yang masih dapat di dengar Mala.
Namun Mala kembali pada sikap kepura-puraannya.
Melihat itu, Haruka semakin ingin memanas-manasinya. “Leo, memangnya kamu nggak mau punya Ayah?”
“Haru!” tegur Mala. Dia memang tidak pernah suka jika Haruka membahas masalah itu dihadapan Leo karena akan berpengaruh buruk terhadap sikapnya.
“Mau, tapi Bunda masih belum mau kasih Ayah sama Leo.” Jawab Leo yang masih fokus mengerjakan tugasnya.
Mala memutar bola matanya malas. “Kamu nggak butuh seorang Ayah. Yang kamu butuhkan cuma Bunda, dan selama Bunda masih bersama kamu, Bunda janji kamu nggak akan pernah merasa memerlukan seseorang yang akan kamu sebut Ayah.” jawab Mala tegas.
Leo kembali meletakkan pensilnya dan kali ini menatap Mala dengan tatapan tajam. Leo memang terlalu sensitif dengan hal yang bersinggungan mengenai Ayahnya. Bahkan hal itu selalu memicunya bersikap kasar di sekolahnya dulu.
“Karena Bunda nggak pernah tahu rasanya jadi Leo. Makanya bisa ngomong kaya gitu.” balasnya sinis.
Kini Ibu dan anak itu saling bertatap tajam satu sama lain. Membuat Haruka terpaksa melerai keduanya. “Eh, eh, eh, kok jadi pada berantem? Kan tadi cuma becanda.”
Mala mendesis pelan sebelum beranjak pergi dari sana, sementara itu Leo kembali melanjutkan pekerjaannya
***
“Lihat, kan, kita berdua jadi terlambat karena kamu terus-terusan ngulur waktu. Haruka pasti ngomelin Bunda lagi.” gerutu Mala panjang lebar saat mengantar Leo ke sekolahnya.
Leo tidak menghiraukan perkataan Mala sedikit pun. Dia malah semakin memperlambat langkahnya, padahal dia sudah terlambat 5 menit.
“Leo, cepetan dong.” tegur Mala yang sudah berjalan lebih dulu darinya.
“Leo nggak mau sekolah hari ini.” Cetus Leo dengan raut wajah yang aneh.
Mala yang menangkap ketidak beresan pada anaknya segera melangkah mendekatinya. Dia berjongkok di depan Leo, mensejajarkan tubuh mereka. “Kenapa, hm?” tanya Mala.
“Hari ini ada tugas dari Bu Ratih.” Jawabnya lirih.
“Terus?” tanya Mala tidak mengerti.
Leo membuang napas gusar dan menunduk dalam, kakinya menendang-nendang kerikil yang ada disekitarnya. “Tugasnya buat Leo kesel.” Jawabnya pelan. Mala masih menunggu jawaban lengkap dari anaknya. “Cerita tentang Ayah.”
Kali ini Mala mengerti mengapa Leo sengaja mengulur waktu agar tidak datang ke sekolahnya. Mala tahu bagaimana perasaan Leo saat ini. Begitu sakit dan menyesakkan.
“Leo nggak tahu mau ceritain apa tentang Ayah. Leo kan belum pernah ketemu Ayah.” Ujarnya lirih.
Mala menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh Di hadapan Leo.
“Ayah Leo itu... gimana, Bunda?” tanya Leo
pelan.
“Ganteng, sama kaya kamu,” ujar Mala dengan senyuman kecil di bibirnya.
Leo mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk. Menatap Mala sendu.
“Dia punya senyuman yang manis seperti kamu,” sambung Mala lagi, menatap Leo dengan senyuman ringan. “Dia juga pintar banget dalam hal apa pun. Selalu menjadi pusat perhatian di manapun dia berada,” Leo mulai tersenyum mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Mala. “Tapi dia juga pemalas. Susah di suruh bangun pagi. Mirip dengan seseorang, kan?” tanya Mala berpura-pura menyindir.
Leo terkekeh pelan, menampakkan deretan gigi-gigi
putihnya.
“Ayah kamu adalah lelaki terbaik yang pernah Bunda temui. Dan dia pasti... juga Ayah yang baik. Jadi... kamu bisa ceritakan itu pada siapa pun.”
Kali ini wajah Leo berubah semangat. Dia mengangguk kuat dan memeluk tubuh Bundanya dengan erat. “Terima kasih, Bunda. Leo mau sekolah hari ini.” bisiknya dan setelah itu segera berlari memasuki gedung sekolahnya.
Disaat itu lah, air mata yang sedari tadi Mala tahan akhirnya membasahi wajahnya juga. Dia merasa sakit setiap kali melihat anaknya seperti itu, bahkan tak jarang dia ingin berteriak memaki siapa saja disaat Leo sering kali di lecehkan oleh teman-temannya karena ketidak sempurnaan keluarganya.
Bukan salah Leo jika dia tidak memiliki Ayah, bukan salah Leo jika dia tidak memiliki keluarga yang utuh. Dan bukan salah Leo juga mengapa dia harus di lahirkan dari sebuah hubungan yang salah.
Bukan...
“Kamu harus bisa melaluinya, sayang. Seperti Bunda yang bisa melalui semua ini.” Gumamnya sambil terisak.
Mala menyeka kedua pipinya dan mengambil napas panjang, menghembuskannya perlahan sebelum membalikkan tubuhnya kebelakang.
Namun, Tubuhnya kembali terasa kaku ketika melihat pemandangan yang ada dihadapannya. Pemandangan yang tidak pernah dia dapatkan, bahkan untuk bermimpi pun tidak.
Tepat diseberang sana, disamping sekolah putranya yang kebetulan sebuah taman kanak-kanak, Mala melihat sebuah keluarga kecil yang terlihat bahagia.
“Andi masuk dulu ya, Ma, Pa. Ck, Bu Guru pasti marahin Andi karena terlambat datang.” Gerutu seorang bocah kecil di hadapan kedua otang tuanya.
Andi mencium kedua orang tuanya bergantian sebelum berlari memasuki sekolahnya.
“Andi ganteng banget, ya, Mas.” gumam Amel pada Raka di sampingnya.
“Siapa dulu Papanya.” Balas Raka.
“Gak usah narsis begitu, Mas.” Cibir Amel.
Raka ikut tertawa bersama istrinya dan sesekali mengecup lembut dahi wanita yang di cintainya. Lalu di saat yang sama, matanya telah menangkap sesosok wanita lain yang berdiri tidak jauh dari mereka.
Mala berdiri dengan kedua kaki yang gemetar dan air mata yang mulai membendung di pelupuk matanya. Sayangnya hal itu tidak dapat di lihat oleh Raka.
Namun keberadaan sosok itu berhasil menyita seluruh perhatiannya. Degupan jantungnya berubah menjadi denyutan perih. Kedua mata mereka bertemu satu sama lain. Melontarkan beribu pertanyaan diantara keduanya. Kaki Raka sontak melangkah kedepan sejenak, membuat wanita yang berada dipelukannya berjengit aneh.
Mala segera beranjak dari sana sebelum kehilangan kendalinya. Dengan tangan bergetar dia merogoh isi tasnya untuk mengambil kunci mobil. Bahkan kunci itu berkali-kali jatuh saat dia ingin menjalankan mobilnya.
“Kendalikan diri kamu, Mala, ayolah...” gumamnya untuk menyemangati diri sendiri.
***