Jakarta, Indonesia.
“Bun, kita udah di Indonesia, ya?” tanya Leo pada Mala yang saat ini sedang sibuk mengotak-atik ponselnya.
“Hm,” jawab Mala sambil tersenyum melirik putranya.
“Woah... nggak kalah dengan Jepang.” Gumam Leo lagi. Dia berjalan santai dengan sebuah koper kecil yang ada ditangannya. Berkali-kali berdecak kagum melihat sekelilingnya. Leo sering mendengar Mala bercerita tentang bagaimana negara tempat di mana bundanya dilahirkan. Dan setelah dia dapat menginjakkan kakinya disana, Leo merasa sangat bersemangat.
“Heh, bocah! Jangan jalan cepat-cepat, nanti nyasar lagi!” teriak Haruka padanya.
Leo membalikkan tubuhnya ke belakang dan menatap Haruka dengan malas. “Aunty, Leo bukan anak kecil.” sungutnya.
“Dikatakan oleh seorang bocah.” balas Haruka. Wanita itu sangat suka menjahili keponakannya.
“Nggak, Leo akhk!”
Mendengar teriakan Leo, Mala yang tadinya masih terlihat sibuk dengan ponselnya segera menatap tubuh Leo yang sudah terjatuh ke lantai. “Leo!” gumamnya terkejut.
“Maaf, nggak sengaja.” ujar seorang anak kecil yang baru saja menabrak Leo. Anak laki-laki itu membantu Leo berdiri. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya. Wajahnya terlihat cemas menatap Leo.
“Nggak kok.” jawab Leo ringan.
Mala dan Haruka segera mendekat pada kedua bocah itu.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Mala pada Leo. Melihat Mala, wajah anak laki-laki itu memucat. Dia sepertinya takut jika Mala memarahinya karena telah membuat Leo terjatuh.
“Bunda... dia ketakutan lihat Bunda.” bisik Leo
pada Mala.
Mala menoleh pada anak laki-laki itu yang menunduk dalam. “Hei, Tante nggak akan marahin kamu kok. Jangan takut.” ucap Mala lembut. Anak itu mulai mengangkat kepalanya yang tadinya tertunduk. Dia tersenyum kecil saat melihat Mala tersenyum padanya.
“Siapa nama kamu?” tanya Haruka sambil mengelus kepalanya.
“Andi.” Jawabnya singkat.
“Aku Leo.” Leo mengulurkan tangannya. Kedua bocah itu saling berjabat tangan. Mala dan Haruka saling pandang satu sama lain kemudian tersenyum simpul.
“Kamu ngapain disini? Orang tua kamu mana?” tanya Haruka.
Dan raut wajah Andi tiba-tiba saja berubah muram.
“Kenapa?” tanya Mala pelan.
“Tadi Mama bilang Andi harus tunggu Mama disana,” tunjuk Andi pada sebuah tiang. “Mama pergi ke toilet, terus Andi pergi main sebentar. Mungkin sekarang Mama lagi nungguin Andi.” ujarnya hampir menangis.
Melihat itu Mala segera memeluk Andi untuk menenangkannya. “Jangan takut... nanti Tante bantu cari Mama kamu.” ujarnya.
“Kamu ngapain ke sini?” tanya Leo.
“Aku sama Mama mau jemput Papa.” Jawab Andi.
“Gimana mih, La? Kita bawa keruang informasi aja?” bisik Haruka.
Mala mengangguk pelan, “Andi, siapa nama orang tua kamu?”
Andi menatap Mala sejenak, “Nama Mama Andi Amel dan Papa... ah! Itu mereka!” Andi segera berlari ke arah sepasang suami istri yang terlihat cemas tidak jauh dari tempat di mana Mala berdiri.
Sedangkan Mala, Haruka dan Leo terpaksa memutar kepala mereka kebelakang. Andi berlari kencang dan segera memeluk kaki seorang lelaki bertubuh tinggi. Banyaknya orang yang berlalu-lalang di sana membuat Mala kesulitan untuk melihat kedua orang tua Andi.
“Syukurlah dia sudah menemukan kedua orang tuanya.” gumam Haruka lega.
Mala masih berusaha memiringkan kepalanya kesana kemari untuk melihat kedua orang tua anak yang baru saja bersama dengannya tadi. Dan saat dia berhasil melihatnya, tubuhnya seakan tersentak kuat dan melemas diwaktu yang bersamaan.
Jantungnya berdegup kencang mana kala Andi mengarahkan jari telunjuknya tepat kearahnya. Membuat kedua orang tua Andi melihat dirinya yang berdiri kaku di sana.
***
Seorang lelaki yang berdiri tegak di sebuah bandara mulai berdecak kesal. “Ck, kemana sih mereka?” diliriknya lagi arloji yang melingkar di pergelangan tangannya dan decakan itu kembali keluar dari bibirnya. Pasalnya, istrinya yang akan menjemputnya belum juga terlihat.
“Jangan-jangan dia lupa?” gumamnya kesal.
“Mas Raka!”
Raka menoleh kesamping dan tersenyum lebar saat menemukan sosok Amel yang sedari tadi dia tunggu akhirnya muncul. Tapi sepertinya ada yang aneh dengan Amel, raut wajahnya terlihat cemas.
Tanpa pikir panjang Raka segera menghampiri Amel yang terlihat sangat pucat. “Kamu kenapa?” tanya Raka.
“Mas, gimana ini...” ujar Amel hampir menangis.
“Kenapa? Kamu kenapa cemas banget gini, sayang?” tanya Raka lagi. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi halus istrinya. Mengusapnya pelan agar Amel sedikit tenang.
“Andi hilang, Mas. Tadi aku tinggal sebentar ke toilet, terus waktu aku balik Andi sudah nggak ada. Aku takut banget, mas... gimana kalau sesuatu yang buruk terjadi sama Andi? Aku udah mencarinya kemana-mana tapi Andi nggak ada...”
Kedua mata Raka melebar saat medengar nama Andi, putranya yang selama ini menjadi malaikat kecilnya, saat ini menghilang. Bahkan istrinya terlihat sangat cemas.
Diperhatikannya lagi wajah Amel yang selama bertahun-tahun ini telah menjadi pendamping hidupnya. Wajah itu sangat pucat, dia pasti sangat mencemaskan Andi.
“Kamu tenang dulu... dia pasti baik-baik aja. Kita cari dia sekarang, ya?” bujuk Raka lembut, bagaimanapun dia tidak ingin menambah kecemasan istrinya lagi. Amel mengangguk lemah padanya. Mulai merasa sedikit tenang karena Raka telah berada di sampingnya.
“Tadi kamu tinggalin Andi dimana?” tanya Raka saat mereka mulai mencari Andi.
“Di sana, Mas. Tadi aku suruh Andi...” mata Amel sedikit menyipit ketika memandang sesuatu. Kemudian senyumannya mengembang begitu saja. “Mas, itu Andi.”
Raka mengalihkan pandangannya kearah jari telunjuk Amel yang teracung. Sedikit bernapas lega saat melihat Andi berlari kencang dan segera memeluk kakinya.
“Andi!” Amel berjongkok dan segera menarik Andi kepelukannya.
Sementara Raka sudah bersyukur berkali-kali di dalam hatinya, malaikat kecilnya akhirnya ditemukan juga. “Kamu nggak apa-apa? Kamu dari mana, hm?” tanya Raka pelan, dia juga tidak ingin memarahi anaknya yang juga terlihat ketakutan.
“Andi baik-baik aja, Pa. Ma, maafin Andi tadi nggak dengar ucapan Mama.” ujarnya menatap Amel sesal.
“Iya, tapi kamu dari mana aja? Mama khawatir
banget, sayang.”
“Andi tadi main sebentar. Ah! Tadi ada dua orang tante-tante yang ketemu sama Andi, terus mereka mau bantuin Andi cari Mama sama Papa.” Raka dan Amel saling bertatapan bingung saat Andi memutar kepalanya kebelakang. “Itu mereka!” dia mengacungkan jari telunjuknya ke satu arah.
Dan disaat itu, kedua mata Raka mendapati sesosok wanita yang berdiri kaku di sana. Menatapnya dengan tatapan yang sama dengan tatapannya.
Nggak mungkin! Dia... kembali?
Raka merasakan dentuman kuat di jantungnya, sosok itu kembali muncul di hadapannya dan kembali menimbulkan rasa sesak yang selama ini dia redam. Napasnya mulai memburu, kedua tanganya terkepal di sisi-sisi tubuhnya.
Matanya tak berekedip sekali pun menatap wajah itu. Raka merasakan sebuah tarikan pada pergelangan tangannya. Dia melirik kebawah, melihat Andi menarik-narik tangannya dan Amel untuk mendekat ke arah dimana seorang wanita sedang berdiri kaku di sana. “Tante, ini orang tua Andi.” ujar Andi pada Mala.
Kedua mata Mala membulat saat mendengarnya. Dia mengalihkan tatapannya pada Andi yang tersenyum manis padanya. Memandangnya lama. Kemudian melirik wajah putranya yang sedang tersenyum cerah pada kedua orang tua Andi. Hatinya kembali berdenyut perih, bahkan lebih perih dari sebelumnya.
“Maaf, Andi bilang kalian yang tadi nemuin Andi? Terima kasih, saya khawatir banget saat tahu Andi menghilang.” ucap Amel berterima kasih.
“Sebenarnya bukan kami yang menemukannya, mba. Kami cuma nggak sengaja ketemu. Itu pun karena Andi nggak sengaja bertabrakan dengan Leo.” Tunjuk Haruka pada Leo.
Kali ini Raka yang mengalihkan pandangannya pada Leo, dia mengamati wajah Leo dengan seksama. Mala yang melihat itu semakin merasa sesak yang tidak berujung di dadanya.
“Hm, se-sepertinya kami harus segera pergi.” Ucap Mala setelah berusaha dengan susah payah untuk mengeluarkan suaranya.
“Oh, iya, mba... sekali lagi, terima kasih, ya.” Ujar
Amel.
Mala mengangguk kecil dan segera menarik tangan
Leo tanpa menoleh sedikit pun pada Raka. Dia bahkan tidak memerhatikan tatapan bingung Raka padanya. Rasa takut yang dari dulu dia cemaskan mulai terjadi.
Dia semakin yakin jika kepindahannya ke negara ini akan kembali menguak suatu luka yang sudah dia tanam jauh di lubuk hatinya.
***
“Ini semua buat Andi? Woah… makasih Papa!!!” teriak Andi girang saat melihat tumpukan mainan yang di bawakan Raka dari Jerman untuknya. Dia bahkan mulai membuka satu persatu kotak mainan itu, membukanya dengan penuh ketidak sabaran.
“Nggak ada yang mau ambil mainan kamu, sayang. Jadi tinggalin sebentar mainan kamu dan sekarang pergi cuci tangan karena kita akan segera makan.” teriak Amel dari arah dapur.
“Oke, Ma!” balas Andi girang. Dia sudah sangat siap memainkan satu persatu hadiah dari Raka.
Sementara itu, dikamarnya, Raka yang masih bisa mendengar suara istri dan anaknya, sedang bergulat dengan pikirannya. Hal yang baru saja dia alami membuat sebuah perasaan yang sudah dia buang sejak lama seperti kembali lagi. Hanya dengan menatap wajah itu, dia kembali merasakan ingin memiliki si pemilik wajah itu.
“Dia ada disini, dia berada ditempat yang sama denganku.” Lirihnya. “Sial! Kenapa dia harus kembali lagi?!” gumamnya gusar saat dia menghempaskan sebelah tangannya diatas ranjang yang sedang dia duduki.
“Mas,” panggilan dari Amel yang berdiri di ambang pintu kamar mereka, menyadarkan Raka dari lamunan. “Ayo makan siang. Anak kamu udah nggak sabar tuh.” ujarnya manis.
“Iya, sebentar lagi Mas kesana.” Jawabnya sambil tersenyum paksa. Raka berjalan gontai menuju lemarinya. Mengambil sebuah pakaian santai dan segera mengganti pakaiannya. Mencoba melenyapkan semua kepelikan yang sedang bersarang dikepalanya. Dia segera keluar dari kamar dan bergabung bersama anak-istrinya yang sudah menunggunya sejak tadi.
“Pa, Mama sekarang pasti seneng banget deh bisa ketemu sama Papa lagi.” ujar Andi yang segera mendapatkan tatapan tajam dari Amel.
“Bener, Ma?” goda Raka.
“Ng-nggak. Ck, cepat habisin makan kalian.”
Raka tertawa pelan melihat istrinya salah tingkah. Lima tahun sudah Amel menjadi istrinya, tapi masih sering kali Amel malu mengungkapkan perasaannya secara gamblang. Dan momen-momen seperti ini sangat Raka rindukan, berada di Jerman selama dua minggu membuatnya sangat merindukan keluarganya.
Selesai makan, kini keluarga kecil itu kembali dengan kegiatannya masing-masing. Hanya saja, sepasang suami istri itu segera memasuki kamarnya. Melepas perasaan rindu yang terpendam selama beberapa hari tidak bertemu.
“Gimana kabar kamu selama mas tinggal, sayang?”
Amel tersenyum simpul saat merasakan deru napas Raka di balik daun telinganya. Setelah melakukan aktivitas ranjang yang cukup melelahkan bagi mereka beberapa waktu lalu demi menyalurkan rasa rindu, matanya mulai terasa berat.
Pelukan hangat Raka dari bawah selimut mereka membuat dirinya semakin ingin terlelap. “Aku kangen kamu, mas...” jawabnya sambil terkekeh pelan.
Raka mengecup pelan bahu mulus yang tidak tertutupi oleh apa pun itu. “Mas juga.” Gumamnya pelan.
“Mas,” Amel memutar posisi tubuhnya hingga kini saling berhadapan dengan Raka. “Apa aja yang Mas lakukan disana selama dua minggu?” tanyanya dengan tatapan ingin tahu.
“Seperti biasa, Mas selalu disibukkan dengan urusan kantor. Sedikit memelahkan memang...” jawab Raka ringan dan kembali melingkarkan lengannya di pinggang ramping Amel.
“Hanya itu?” tanya Amel dengan kedua mata yang menyipit. Namun berhasil membuat Raka tersenyum jahil.
“Nggak juga. Mas sedikit bersenang-senang dengan
pemandangan indah wanita Jerman. Kamu tahu? Mereka sangat… AW! Hei kenapa mas dicubit?” ringis Raka mengusap perutnya.
“Mas mau selingkuh?” sungut Amel. Raka terkekeh puas melihat raut wajah kesal istrinya.
Menggoda Amel adalah hal yang paling dia sukai. “Mas bercanda, sayang. Untuk apa mas selingkuh sementara mas sudah punya wanita sesempurna kamu.”
“Ck, gombal banget kamu.”
Raka tertawa lagi dan semakin mendekap tubuh istrinya dengan mata terpejam. Namun, lagi-lagi sebuah wajah yang baru saja bertemu dengannya tadi siang kembali melintasi pikirannya.
Raut wajahnya berubah seketika kala matanya terbuka cepat, pelukannya pada tubuh Amel yang sudah mulai tertidur lelap mulai mengendur.
Raka memejamkan lagi matanya, mencoba kembali mengingat setiap lekuk wajah yang dia simpan jauh di lubuk hatinya, dia sangat merindukan si pemilik wajah itu msekipun kini dia sedang memeluk wanita lainnya.
***
Mala mendesah berat berkali-kali. Dia menukar seluruh saluran televisi tanpa berniat untuk menontonnya. Haruka yang duduk di sebelahnya sampai menatap kesal pada Mala karena sejak tadi tidak ada satu acara pun yang dapat dia nikmati.
“Kamu niat nonton nggak, sih? Kenapa dari tadi gonta ganti chanel terus?” tegur Haruka kesal.
Mala menarik napasnya panjang, “Kamu salah, Haru...” gumam Mala pelan.
Haruka memalingkan wajahnya kesamping dan dapat melihat raut wajah gusar temannya. “Maksud kamu?”
“Dunia ini ternyata memang sesempit itu.” Mala tertawa hambar.
Dahi Haruka mengernyit seketika. “Dunia? Sempit?”
Mala mengangguk pelan lalu mengusap gusar wajahnya. “Aku ternyata ketemu dia lagi,” gumamnya lirih. “Bahkan di hari pertama aku menginjak kaki di Negara ini lagi.”
Haruka mengerjap polos, tidak mengerti dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Mala. “Siapa? Memangnya kamu ketemu dengan siapa?” tanya Haruka penasaran.
Mala membenamkan wajahnya di kedua lututnya yang saling bertekuk. Wajah Raka yang siang ini kembali bertemu dengannya, tidak henti-hentinya mengisi seluruh kepalanya. Dan yang lebih menyakitkan adalah sebuah kenyataan yang begitu pahit baginya. Dia tidak lagi sendiri, dia sudah memiliki sebuah keluarga kecil. Dan itu berarti, Raka telah sepenuhnya melupakan dirinya.
“Raka Hamizan, bangun!!”
Raka yang berada dibawah selimut barwarna tersenyum simpul saat merasakan tangannya sedang ditarik paksa oleh Mala yang sedari tadi meneriakinya. Dia memang sudah bangun, namun sengaja berpura-pura tidur untuk menggoda gadisnya.
“Ck! Udah siang, Raka! Kamu nggak kuliah?” Mala mengigit bibir bawahnya menahan rasa kesal pada Raka yang tetap tidak bergeming.
Dia melirik kesekelilingnya, mencari sesuatu untuk dimanfaatkannya sebagai alat yang akan berguna untuk membangunkan Raka.
Mala tersenyum jahil ketika memandang kearah kaki Raka, sebuah ide melintasi pikirannya. Dengan gerakan pelan dia menyingkap selimut tebal itu dan menarik pelan celana panjang yang digunakan Raka ke atas. “Rasain!” desisnya sinis.
“AW!!!”
“Hahahaha”
“ KENAPA KAMU CABUT BULU KAKI AKU?!”
“Siapa suruh kamu nggak mau bangun? Kamu
tidur udah kaya kebo.”
Raka mengerucutkan bibirnya kesal, tangannya masih sibuk mengusap kakinya yang terasa perih. Mala masih sesekali terkekeh pelan namun sedikit prihatin pada keadaan kaki kekasihnya.
Yeah... mereka adalah sepasang kekasih. Jangan mengira jika mereka telah menikah karena melihat keduanya tidur di ranjang yang sama. Tidak! Mereka belum menikah, hanya saja Raka memang terlalu sering menginap di rumah kekasihnya.
Tidur di ranjang yang sama layaknya sepasang suami istri. “Sakit?” tanya Mala.
“Kamu pikir aja sendiri!” jawab Raka ketus.
Mala terkekeh lagi melihat raut wajah Raka. “Mandi sana! Bukannya hari ini kamu harus ketemu Dosen buat nyerahin Skripsi, ya?” Raka memang sedang berada di semester delapan. Berbeda dengan Mala yang harus menghabiskan waktu belajarnya di bangku kuliah selama satu tahun lagi.
“Hm.” Gumam Raka malas.
Mala beranjak turun dari ranjangnya, berniat untuk menyiapkan sarapan pagi. Namun tangan kekar Raka melingkari pinggangnya. Menarik tubuhnya hingga kembali berbaring di atas ranjang.
“Mau kemana, hm?” bisik Raka lembut di depan wajahnya.
Terpaan napas Raka terasa hangat dipermukaan wajah Mala. Namun dia segera menyadarkan dirinya agar tidak kembali larut dengan jebakan Raka. “Aku mau siapin sarapan, Raka! Cepat lepasin aku atau kamu akan kelaparan pagi ini.”
“Nggak mau. Aku bisa makan diluar nanti.”
Mala memutar kedua matanya malas. Dia sudah sangat tahu niat busuk apa yang sebentar lagi akan dilakukan Raka padanya.
“Nyonya Hamizan...” panggil Raka manja.
“Jangan panggil aku kaya gitu. Aku bukan istri
kamu!” sungut Mala, meskipun sejujurnya dia sangat menyukai panggilan itu dari Rakan. Raka mulai mendekati wajah Mala, mengunci tatapan Mala di manik matanya. “Stop!” Mala menahan bibir Raka yang sedikit lagi menyentuh bibirnya dengan sebelah telapak tangannya. “Kita baru aja melakukannya tadi malam, m***m! Aku capek.” ujarnya.
Raka memutar bola matanya malas dan menepis telapak tangan Mala dari bibirnya. “Memangnya siapa yang mau bercinta sama kamu lagi? Aku cuma mau minta vitamin,” ujarnya datar.
Dahi Mala mengernyit bingung mendengar jawaban Raka.
“Morning kiss.” bisiknya dengan nada yang menggoda dan membuat kekehan pelan Mala terdengar.
“Kamu tahu, nggak? Kita begini hampir mirip dengan pasangan suami istri lainnya.” Ujar Mala sambil terkekeh.
“Bukannya sebentar lagi kamu memang akan menjadi istriku? Tinggal beberapa bulan lagi. Setelah aku lulus dan bekerja di perusahaan Papa. Kamu akan segera menjadi milikku.”
***