Tujuh

1054 Kata
“Waktu aku jemput di sekolah, Leo kelihatan melamun. Terus aku panggil dia, dan dia lari gitu aja kearah aku. Dia...” Haruka tidak mampu meneruskan perkataannya,  terlalu cemas dan takut dengan keadaan Leo. Sementara Mala tak bergeming sedikitpun. Matanya menatap lampu ruangan operasi yang masih menyala dengan tatapan kosong. Leo berada didalam sana, melawan segala kesakitannya sendirian. Malaikat kecilnya sedang berjuang tanpanya. “La, Maaf...” sesal Haruka padanya. Dia merasa satu-satunya orang yang paling bersalah disana. “La, aku mohon bicara.” pinta Haruka, namun Mala masih tak bergeming. “Jangan kaya gini, La...” “Dia baik-baik aja, Haru, dia pasti baik-baik aja. Jangan khawatir.” racau Mala, namun kedua matanya tak henti menatap lampu yang berada di atas pintu ruangan operasi itu. Haruka menggigit bibir bawahnya melihat bagaimana kacaunya Mala, Mala pastilah tidak dapat memikirkan apa pun lagi selain Leo. Leo adalah nyawa baginya, jika Leo sakit maka dia sakit, jika Leo terluka maka dia ikut terluka. Bahkan Jika Leo tidak ada, maka dia juga akan lenyap dari kehidupannya. Lampu itu padam, Mala dan Haruka menahan napas mereka masing-masing menunggu perkembangan keadaan Leo. Seorang Dokter perempuan dengan beberapa perawat tampak keluar dari sana, menghampiri Mala dan Haruka. “Kalian keluarganya?” tanya Dokter itu. “Iya, Dokter. Gimana keadaan Leo?” tanya Haruka, lalu melirik Mala yang masih diam mematung. Dokter itu membenarkan letak kaca matanya, menatap cemas kedua wajah wanita itu. “Luka akibat benturan dikepala Leo sangat parah, kami sudah berusaha semampunya untuk menghentikan pendarahannya. Tapi kami masih punya kendala lain untuk itu.” jelas Dokter itu. “Apa itu?” tanya Mala lirih. “Leo kekurangan banyak darah dari tubuhnya, mengakibatkan dia berada dalam masa koma. Dia harus segera mendapatkan donor darah untuk membuatnya bertahan hidup. Sayangnya persediaan darah dirumah sakit kami tidak mencukupi keperluan tubuhnya. Kita harus menemukan seorang pendonor darah lagi untuknya,” Dokter itu menatap Mala sendu, menepuk pelan bahu Mala. “Golongan darah Leo adalah A. Bagaimana denganmu?” “Nggak bisa Dokter, Mala dan saya golongan darahnya B.” jawab Haruka. Mala menunduk dalam, merasa dirinya sama sekali tidak berguna bagi Leo. Leo sedang Koma dan dia tidak dapat membantunya. “Bu, mungkin anda bisa meminta bantuan dari beberapa teman Ibu yang punya golongan darah yang sama dengan Leo,” ujar Dokter, “Cepatlah mengambil keputusan, dia sangat membutuhkannya.” Mala berpikir keras, dia belum lama tinggal di Indonesia lagi, bahkan dia sama sekali belum menemukan teman dekat selain Haruka. Lalu bagaimana dan pada siapa dia meminta pertolongan. Ditengah-tengah kekalutannya, sebuah nama muncul dalam benaknya. Nama yang sudah sangat pasti memiliki golongan darah sama dengan Leo, Mala menggigit bibir bawahnya bingung, takut jika nantinya keputusan itu akan kembali membawanya dalam masalah. “Kondisi Leo akan semakin membahayakannya kalau terlalu lama menunggu pendonornya.” Ucapan Dokter bagaikan sentakan hebat bagi Mala, dia mengepalkan kedua tangannya, tidak memerdulikan lagi masalah apa nantinya yang akan timbul setelah ini. Kakinya melangkah begitu saja meninggalkan rumah sakit, tidak menghiraukan teriakan Haruka yang memanggil-manggil namanya. “Tunggu Bunda, Leo. Bunda akan berusaha.” *** Mala berlari-lari memasuki sebuah perusahaan, berlari mengitari luasnya gedung itu untuk mencari seseorang yang sedang dibutuhkan putranya. “Dimana ruangan Raka?” tanya Mala pada seorang resepsionis. Disana. Napas Mala tampak terengah-engah, wajahnya penuh dengan keringat. Dia tampak kacau dan berantakan. “Pak Raka?” ulang orang itu. “Iya, saya mohon beritahu saya dimana ruangannya.” tanya Mala memelas. “Ada di lantai lima, mba.” Tanpa pikir panjang, Mala segera berlari menuju lift, menekan tombol lift itu tanpa sabar. Bahkan jika saja dia bisa, dia ingin segera sampai disana tanpa membuang banyak waktu lagi. Sesampainya disana Mala segera mencari-cari ruangan Raka, bertanya kesana-kemari tak tentu arah pada setiap orang yang dia temui. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Sekretaris lelaki itu. “Maaf, Pak Rakanya sedang ada rapat penting. Mungkin Ibu bisa menunggu sebentar?” “Apa? Menunggu?” ulang Mala. Dia menggeleng pelan, merasa tidak memiliki waktu lagi jika harus menunggu lebih lama. “Dimana?” gumamnya, “Dimana ruangannya?” “Ya?” “Saya tanya dimana ruangannya?!” Serketaris muda itu terkejut mendengar bentakan dari Mala, “A-ada di lantai atas.” Jawab serketaris itu gugup. Mala kembali berlari, menuju lantai atas dimana Raka berada. Dia harus segera menemui lelaki itu apa pun alasannya. Mala bahkan tidak menghiraukan teriakan beberapa petugas yang ingin menahannya, entah mendapat kekuatan dari mana hingga dia dapat berlari sekencang itu dari cekalan petugas-petugas yang menghalanginya. BRAKKKKK. Pintu bercat coklat tua itu terbuka lebar begitu saja saat Mala mendorong pintu itu kuat, dia segera melangkah masuk kesana. Seluruh orang sontak menatap pada dirinya, tak terkecuali Raka dan Haris. Mereka menatap Mala dengan tatapan aneh, sedangkan sosok yang menjadi pusat perhatian itu mematung ditempatnya. Semua tatapan itu seakan sedang menguliti dirinya. “Raka... Raka...” hanya gumaman itu yang dapat keluar dari bibirnya yang mulai bergetar. Matanya menatap lirih lelaki yang duduk dengan gagah tepat di ujung ruangan itu, seakan memohon pada lelaki itu untuk segera membantunya. Sementara lelaki yang dipanggil tidak lagi mampu menahan geraknya untuk tidak mendekati Mala, dia sama sekali tidak menghiraukan bisikan-bisikan aneh dari beberapa orang disana, terlebih dari Papanya sendiri, pemilik Perusahaan, Hendrian Hamizan. Lelaki paruh baya itu mengepal kedua tangannya kuat dari bawah meja besar yang mengelilingi seluruh orang yang berada disana, dia tahu, sangat tahu siapa Mala. “Kamu kenapa?” tanya Raka cemas, dia melihat bagaimana berantakannya Mala saat ini dan dia yakin sesuatu telah terjadi padanya. “Mala,” panggilnya lagi saat Mala masih diam mematung. Raka segera menarik Mala keluar dari sana, membuat ruangan itu seketika riuh tak terkendali. Lelaki itu meninggalkan begitu saja rapat penting perusahaannya tanpa berpamitan terlebih dahulu. Haris yang berada disana segera mengikuti kemana Raka dan Mala pergi, dia menelisik kesegala arah, mencari kemana Raka membawa Mala. Tidak jauh dari sana, ternyata Raka membawa Mala kesudut dinding yang berada didekat tangga darurat. Haris mendekati kedua orang itu, merasa ada yang aneh dengan keadaan Mala. “Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba ada disini?” tanya Raka pelan. Mala menatap Raka lirih, “Bantu aku Raka, aku mohon...” ucapnya terisak, dia mengusap air matanya kasar dan menatap Raka memohon. “cuma kamu yang bisa tolong dia, cuma kamu yang bisa ngembalikan dia ke aku. Aku mohon, Raka.” “Kamu lagi bicarain apa, aku nggak ngerti.” tanya Raka bingung, dia turut cemas melihat bagaimana kacaunya Mala sekarang. Perlahan Raka memberanikan kedua tangannya menyentuh pundak Mala, “Bicaralah dengan tenang, ada apa?” tanya Raka lembut. “Leo... kecelakaan.” “Apa?” “Dia kehilangan banyak darah, darah aku nggak bisa tolong dia. Aku nggak bisa...” Haris yang mendengar itu mengerti apa yang telah terjadi disana, dia tahu mengapa tiba-tiba saja Mala meminta bantuan Raka. Lelaki itu menatap Raka yang tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakan Mala, melihat itu Haris segera mengambil tindakan. “Golongan darah lo sama dengan Leo, Ka.” ujarnya. Mala dan Raka menoleh padanya, Haris mendekati mereka dan menepuk pelan pundak Raka. “Pergi selamatkan Leo, dia pasti butuh lo.” ujar Haris. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN