Enam

894 Kata
Raka membolak-balik seluruh file yang berserakan di atas meja kerjanya, sedari tadi tidak ada yang dapat dia kerjakan dengan baik. Raka melemparkan file yang berada dalam genggamannya dengan kasar, melongkarkan ikatan dasi pada kemejamya untuk kesedar mengambil napas panjang. Berusaha memejamkan matanya agar pikirannya kembali tenang. Namun sayangnya, dia kembali memikirkan ucapan Leo, merasa tidak dapat membiarkan anak itu menderita seperti itu. Bahkan dia kembali mencemaskan Mala yang beberapa hari terakhir ini sedang berusaha dia lupakan. “Harusnya dia udah bahagia sama suaminya. Tapi kenapa Leo...” gumamnya gusar. “Ck, Mala baik-baik aja, kan?” Suara decitan pintu memaksa Raka menoleh kesana, dia mendapati Haris yang terus mengoceh tanpa henti saat masuk keruangannya. “Nggak bisa dipercaya, kenapa setiap kali akhir bulan gue selalu nggak punya waktu luang untuk sekedar bernapas? Selalu aja laporan-laporan keuangan itu menuhin meja kerja gue, gue bisa rabun mendadak gara-gara melototin angka-angka sialan itu.” Raka mendengus malas merespon segala ocehan sahabatnya itu, terkadang dia selalu ingin menulis memo yang berisi larangan untuk Haris masuk kedalam ruangannya dengan sangat besar didepan pintu kerjanya. Entah apa yang dipikirkan lelaki itu sehingga ruangan Raka selalu menjadi tempat keluh kesahnya. “Gimana kalau malam ini kita have fun di kelab, Ka?” tanya Haris setelah menjatuhkan diri di depan Raka. “Nggak.” tolak Raka, dia kembali sibuk dengan file-filenya. “Kenapa?” sungut Haris. “Gue sibuk. Dan lo!” Raka memicingkan matanya menatap Haris. “Bukannya lo bilang mau berhubungan serius dengan Haruka-Haruka itu, huh?” sindirnya. Mendengar itu Haris hanya dapat menghela napas gusar, sebenarnya dia malas sekali membahas masalah ini, mengingat masalah itu tercipta karena Raka juga. “Iya sih... tapi masalahnya dia masih belum mau ketemu sama gue.” ujarnya pasrah. Raka menatap Haris bersalah, “Maaf, ya, Ris, ini semua karena masalah gue. Dan bodohnya gue udah ngelibatin lo.” sesal Raka. Haris hanya tersenyum tipis menghadapinya. “Santai, Ka. Sebentar lagi dia juga pasti bakalan hubungin gue. Mana ada cewek yang tahan jauhan sama seorang Haris.” ucapnya bangga. “Cih,” cibir Raka, merasa sedikit menyesal karena tadi sempat merasa bersalah dengan lelaki itu, “Tapi... kemarin gue sempat ketemu Haruka.” sambung Raka. “Serius? Dimana?” Haris menatap Raka antusias, akhir-akhir ini Haruka memang semakin menjauhi lelaki itu, dan hal itu cukup membuat Haris yang sudah tergila-gila olehnya menjadi uringuringan. “Waktu gue jemput Andi disekolahnya, kebetulan gue ketemu sama Leo.” tutur Raka. “Leo?” ulang Haris memastikan. Raka tersenyum kecut dan mengangguk, “Anak Mala.” gumamnya. Dalam diam Haris meneguk ludahnya berat, ucapan Haruka beberapa hari yang lalu kembali berputar diotaknya. Dia memang masih belum memercayai ucapan gadis itu sepenuhnya. Hanya saja, mengingat semua kebetulan yang terjadi dalam hidup lelaki yang berada dihadapannya itu seakan memperjelas semuanya. Haris memutuskan untuk mencari tahu langsung dari lelaki itu, “Ka,” panggilnya. “Hm?” “Dulu, hubungan lo sama Mala, udah sejauh mana?” pancingnya, namun tetap tak ingin terlihat mencurigakan dihadapan Raka. Hal ini belum tentu pasti benar, bukan? batinnya. Raka berdehem pelan, merasa tenggorokannya sedikit mengering saat mendengar pertanyaan Haris, lelaki itu melemparkan pandangannya pada pintu ruang kerjanya untuk sekedar kembali memutar segala memori ingatannya. Kepingan memori itu mulai menyatu, terbentuk utuh dan jelas untuk kembali dia nikmati sendiri. “Kami hampir menikah,” gumamnya pelan, menarik napas dalam sebelum memulai ceritanya. “Gue pacaran selama dua tahun sama dia, semua waktu gue selalu gue habisin bareng dia. Gue sama dia juga udah tinggal bareng selama beberapa bulan sebelum dia ninggalin gue.” jelasnya tersenyum kecut. Kenangan manis itu kembali terlintas dan sangat dia nikmati. Haris semakin meneguk ludah berat saat mendengar penjelasan Raka. Mereka pernah tinggal bersama, dugaan Haris semakin menguat. “Tinggal bareng?” ulangnya. Raka mengangguk. “Udah ngapain aja lo sama dia?” “Semuanya udah gue lakuin sama dia.” Jawab Raka lagi. “Termasuk tidur bareng, nggak?” “Iya. Soalnya dipikiran gue, dia kan bakal jadi calon istri gue. Jadi... ya gitulah.” Ya Tuhan, ini nggak mungkin, batin Haris. Dia menatap wajah Raka seksama, mengutuki segala tindakan yang dilakukan lelaki itu. “Kenapa gue jadi bahas masalah itu. Ck, semua ini gara-gara lo,” tandas Raka pada Haris. “Gue udah bertekad lupain Mala, Ris. Dia sama sekali gak pantas untuk gue ingat.” “Jangan,” gumam Haris pelan. “Apa?” tanya Raka tidak mengerti. Haris menatap Raka lirih, ingin memberitahukan apa yang dia tahu saat ini tapi tidak memiliki keberanian yang cukup. Semua itu bisa berakibat fatal bagi kehidupan Raka jika dia tahu semua kebenaran itu. “Lo boleh aja lupain Mala. Tapi jangan pernah anggap Mala serendah itu. Iya, dia salah sama lo. Tapi seenggaknya...” Haris mengusap wajahnya gusar. “Lupain aja.” ucapnya lirih, tanpa menunggu reaksi Raka, Haris segera beranjak dari tempatnya. Keluar dari ruangan Raka dengan perasaan tak tentu arah. “Kenapa dia jadi aneh gitu...” gumam Raka yang melihat keanehan pada Haris hari ini. *** Bunda, apa selamanya Leo nggak bisa punya Ayah. Leo mau sekaliiii aja ketemu Ayah. Terus Leo panggil-panggil sampai Ayah noleh ke Leo. Buat ngeyakinin teman-teman Leo kalau Leo punya Ayah juga, kaya mereka. Mala menggelengkan kepalanya kuat saat ucapan Leo kemarin malam kembali menghantuinya. Bagaimana menyedihkannya Leo memohon padanya untuk bertemu pada lelaki yang sama sekali tidak akan mungkin menyadari keberadaan Leo, dia juga ingin anaknya merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Namun semua itu harus dia tekan agar segalanya tetap dalam lintasan yang benar, saat ini segalanya terasa sangat benar meskipun mereka berdua lah yang tersakiti. “Maafin Bunda, sayang...” gumamnya miris. Kemudian getaran ponsel dari atas meja kerjanya, menyadarkan Mala dari segala lamunannya. Dia melirik layar ponselnya dan melihat nama Haruka disana. “Ya?” jawabnya malas. “La, Leo... Leo...” Jantung Mala berdegup tak enak, ada perasaan aneh yang menjalarinya saat mendengar suara kacau Haruka. “Kenapa? Leo kenapa?” tanya Mala berusaha bersikap tenang. “Gimana ini La...” “Gimana apanya? Kamu kalau ngomong yang bener, dong!” teriak Mala tak sabar. “Leo kecelakaan, luka dikepalanya parah. Dia pendarahan.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN