“Apa yang terjadi sebenarnya, Mas? Kalian pergi dalam keadaan baik-baik aja kemarin. Tapi tadi malam...” Amel berdiri didepan Raka yang duduk dengan punggung terbungkuk lesu dipinggir ranjang. Kepala Raka menunduk kebawah, menatap lantai yang sama sekali tidak menarik. “Mas...” Amel menyentuh bahu suaminya. Raka memejamkan matanya erat, seolah-olah apa yang dia lakukan bisa mengurangi rasa sakit yang menggerogoti hatinya. Semua ucapan Mala tidak pernah berhenti berdenging ditelinganya bagaikan kaset rusak yang terus berputar. Pengorbanan. Kebahagiaan. Janji. Semua itu terus Raka pikirkan hingga pagi ini. Dia bahkan tidak tidur semalaman. Apa lagi yang salah? Pikirnya. Dia sudah melaukan semua cara untuk membuat keadaan yang lebih baik. Dan menurutnya sudah berhasil. Lihatlah mereka a

