Dengan langkah lesu, Meylin menarik sebuah kursi dan duduk sendirian di meja makan. Roti panggang yang tadinya dibuat untuk dua orang kini terasa hambar di hadapannya. Namun ia tahu, tidak ada pilihan lain selain tetap makan. Ia tidak boleh tampak lemah, apalagi sampai sakit. “Tidak lucu kalau baru pindah rumah saja aku sudah sakit-sakitan,” batinnya getir. “Nanti aku malah dicap manja oleh mas Byan.” Kemarin saja, tubuhnya sempat jatuh sakit, masuk angin hingga muntah-muntah. Itu sudah cukup membuat dia merasa malu dan tidak enak. Dia memang menolak pertolongan yang diberikan Byantara, tetapi semalaman, Byantara sepertinya tidak pernah naik ke atas untuk melihat keadaannya. itu saja sudah cukup menunjukkan kalau Byantara terlalu acuh padanya. Terbayang lagi percakapan mereka beberapa w

