Bab 17

1000 Kata
Reno duduk di sebelah Maya, keduanya saling diam beberapa menit. "Saya cinta sama kamu, Maya." Kalimat pertama itu keluar dari mulut Reno. Lalu suasana menjadi hening. Bibir Maya terkunci. "Memangnya kenapa dengan status saya yang duda, May?" Maya meneguk salivanya. Ia mencoba bertanya pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak ingin dengan seorang duda."Enggak tahu, Om." "Kamu malu seandainya punya laki-laki bekas wanita lain? Tapi, kami kan berpisah secara sah. Ada akta cerainya juga kok. Pekerjaan...Alhamdulillah ada, May. Walaupun cuma penjual buah. Tapi, kan...halal. Saya akan bertanggung jawab sama kamu dan Emak,"kata Reno berhati-hati sekali, takut menyinggung perasaan Maya. Maya berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri dan juga pertanyaan Reno. Tapi, ia tidak menemukan jawaban apa pun. Tidak ada alasan yang pasti, kenapa ia tidak ingin bersama duda. "Saya duda tanpa anak, mantan isteri saya juga udah menikah dan berbahagia sama suaminya yang sekarang. Saya single...lalu apa yang bikin kamu enggak mau sama saya?" Reno menatap Maya dengan serius. "Om...Maya...masih kecil, masa disuruh nikah," ucap Maya sambil sedikit mewek. Reno tertawa."Masih kecil?" Maya mengangguk."Baru aja Maya selesai kuliah dan kerja. Terus sekarang nikah...Maya enggak punya bekal apa pun buat dibawa ke dalam rumah tangga. Lagi pula Om kan udah pernah menikah ...pastinya sudah berpengalaman dalam berumah tangga. Takutnya nanti Maya enggak becus masak, enggak becus beresin rumah dan sebagainya...terus Om malah kecewa dan ninggalin Maya." "Jadi, itu alasannya?" "Salah satunya sih, Om..." "Salah duanya?" "Biasanya yang duda itu udah tua. Pokoknya di dalam pikiran Maya, yang namanya duda itu ya tua." Maya menutup wajah dengan tangannya. "Saya masih muda, Maya. Lihat enggak kalah kan sama yang usia 20-an?" Reno masih terus berusaha meyakinkan. Maya terdiam, ia menjadi merinding sendiri membayangkan banyak hal. Termasuk bagaimana seandainya mereka berdua melakukan malam pertama. Wajahnya pun langsung terasa panas. Reno meraih tangan Maya."Maya...Kuil kayu dari miami, Will you Marry me? )" Maya menatap Reno dengan intens, matanya mengerjap berkali-kali untuk memastikan ia tidak sedang bermimpi."Om..." Reno tersenyum, ia menarik Maya agar bangkit dari sana."Ayo kita ke dalam." Maya mengangguk, ia mengikuti Reno dan membiarkan lelaki itu masih menggenggam tangannya. Rion menyenggol lengan Randy, dan menunjuk Reno dengan bibirnya. "Wah, kayaknya berita bagus, Mak." Emak menoleh."Wah, mereka kelihatan serasi banget deh." "Halo semuanya..." "Jadi bagaimana?" tanya Emak tak sabar. Reno mengangkat kedua bahunya."Maya belum jawab sih, Bu." "Ya..." Emak langsung lemas. "Tenang, Mak...tenang. Reno akan tetap menjadi menantu Emak," kata Rion memberi semangat. Maya menarik napas panjang, menatap semua orang yang ada di sana satu persatu."Om..." Suasana mendadak hening. Jantung Reno berdegup kencang, tapi ia sudah bersiap menerima penolakan lagi dan disertai rasa malu pada emak, Rion, dan Randy. "Pergi ke pasar membeli baskom, Maya terima lamaran Om," sambung Maya. "Alhamdulillah!" Semua yang ada di meja itu bersyukur. Emak langsung memeluk Maya. "Selamat, Bro!" Randy dan Rion menjabat tangan Reno. Wajah Reno merona, ia tidak menyangka kalau gadis itu akan menerima lamarannya. Di dalam hati ia tidak berhenti bersyukur. Ingin sekali ia memeluk gadis itu saat ini. Tapi, ia harus bersabar menunggu sampai waktu itu tiba. Malam kian menjelang, mereka semua harus kembali pulang. Kali ini,Rion ikut serta di dalam mobil. Rion mengambil alih kemudi, lalu di sebelahnya ada Emak. Di belakang ada Reno dan Maya. Posisi duduk itu sudah ditentukan oleh Emak sendiri. Sepanjang jalan, Emak dan Rion banyak bicara. Sementara Reno dan Maya hanya diam mendengarkan. Ia terkadang terlihat gelisah atau tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Sesekali Reno menggenggam tangan Maya, mengusapnya perlahan seolah ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Maya hanya bisa tersenyum tipis jika mendapat perlakuan seperti itu dari Reno, lelaki yang baru saja ia terima lamarannya. Di perjalanan ia terus memikirkan apakah menerima lamaran Reno adalah pilihan yang tepat atau tidak. "Kenapa, sayang?"tanya Reno. Maya tersentak, lalu menoleh ke arah Reno dengan perlahan. Jantungnya berdegup kencang mendengar panggilan sayang dari sang calon suami."I...iya?" "Kamu kenapa?"tanya Reno dengan tatapan lembut. Hati Maya sampai hampir mencair dibuatnya. Maya menggeleng dengan 'cengo' seperti orang b**o, atau mungkin sekarang ia benar-benar terlihat seperti orang yang b**o. Dalam hitungan jam saja lelaki itu mampu membuat hatinya berubah."Enggak kenapa-kenapa, Om." "Jangan-jangan Kamu nyesel ya?" goda Reno. Maya menggeleng, lalu membuang pandangannya ke arah luar jendela. "Maya...,"panggil Reno. Maya menoleh ke arah Reno lagi. Sementara Emak dan Rion masih asyik bercerita tanpa memedulikan dua insan manusia di belakang mereka."Iya, Om?" "Lusa...aku bawa orangtuaku ke rumah, ya...sekalian lamaran resminya,"ucap Reno perlahan. "Loh...kok secepat itu, Om?" Maya kaget, panik, khawatir dan jantungnya berdebar semakin kencang. "Memangnya kenapa? Kalau sudah begini ya...lebih baik dipercepat kan?" Maya meneguk salivanya."Kan...Maya belum diskusi sama Emak, Om." "Kenapa nyebut-nyebut nama Emak?" Emak menoleh ke belakang. "Masa lusa mau lamaran resmi, Mak? Enggak kecepatan banget itu?" Maya berusaha mencari pembelaan. Semoga saja emak sepemikiran dengannya. Wajah Emak langsung terlihat ceria. Ia memandang Reno dan Maya bergantian."Ikan sepat, ikan batik. Semakin cepat, semakin baik." "Cakep, Mak,"sambung Rion. Reno tertawa kecil."See? Emak setuju aja kan?" "Oke...oke, Maya pasti kalah kalau Om udah ngelibatin Emak dalam masalah kita berdua." Maya memasang ekspresi datar. Reno mencubit pipi Maya dengan gemas."Untung belum halal...kalau udah... " "Kenapa kalau udah?" Maya membulatkan matanya. "Aku gigit sampe berdarah." Reno tertawa lepas tanpa takut didengar Emak atau pun Rion karena keduanya sangat sibuk bicara dengan suara keras pula. Wajah Maya langsung berubah merah seperti kepiting rebus. Lantas ia membayangkan Reno benar-benar menggigitnya. Lalu mengigit bagian mana, pikiran Maya pun mulai bekerja. "Kita sampai...tapi kok gelap ya,"kata Rion sambil menepikan mobil. "Wah, apa listrik lagi mati ya. Kok tumben,"kata Emak. "Tapi, tetangga yang lain masih nyala kok, Bu,"kata Reno. "Ya udah ayo, Mak...saya bantu cek." Rion keluar dari mobil diikuti oleh Emak. Maya membuka pintu mobil, lalu tiba-tiba tubuhnya ditarik kebelakang, dan jatuh ke dalam pelukan Reno. Mereka bertatapan sebentar. Reno melumat bibir Maya dengan lembut. Rion terkejut melihat Reno dan Maya berciuman di dalam mobil."Gila ini Reno enggak sadar lampunya masih nyala." Sebagai teman yang baik, akhirnya ia pun mengalihkan Emak supaya tidak melihat ke arah mobil. Ia mencoba menyalakan listrik yang mungkin saja sedang tidak atau korslet   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN