Reno melepaskan ciumannya sebelum ia berbuat lebih jauh lagi. Lagi pula ini ada di dalam mobil dan ada di depan rumah Maya.
"Ayo keluar," kata Reno sambil mengusap bibir Maya yang basah. Wajah gadis itu sudah benar-benar merona.
Maya mengikuti Reno memasuki rumah. Lalu Reno ikut bergabung dengan Rion yang sedang berusaha mencari kerusakan listriknya.
"Gila lu, lampunya nyala...maen nyosor aja," bisik Rion.
Reno menoleh ke arah mobil, lalu terkekeh. "Astaga...enggak sadar."
"Sabar, Bro...sabar...hati-hati dalam berbuat sesuatu, takutnya ada yang ngelihat kan berabe," kata Rion.
"Semoga enggak ada yang lihat."
"Ada."
"Siapa?"
"Aku!" Rion tertawa geli.
"Bodo amat kalau kau sih."
"Nah, udah nyala,"kata Rion.
"Wah, syukurlah...makasih, ya ,Rion...cakep bener dah. Semoga segera dapat jodoh ya,"kaya Emak.
"Aaminn, Mak."
"Ya udah, Bu...kami pulang, ya. Sudah malam,"pamit Reno.
Emak mengangguk."Terima kasih, ya sudah ajak kita makan malam."
"Lusa Reno datang ya, Bu...sama keluarga." Reno mengingatkan.
Emak mengangguk."Iya, Reno."
"Ya udah kami pamit, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam,"jawab Emak dan Maya. Mereka berdua berdiri menunggu Rion dan Reno masuk ke dalam mobil dan menghilang di perempatan.
Emak memeluk Maya dengan erat."Kamu dilamar, Maya..."
Maya tersenyum melihat kebahagiaan Emak. Semoga saja ini juga akan menjadi kebahagiaan untuknya. Menjalin hubungan dengan Reno, tidak pernah ada di dalam pikirannya. Bahkan perkenalannya saja masih begitu singkat. Namun, entahlah kenapa ia memutuskan untuk menerima Reno. "Kita masuk ya, Mak. Udah malam."
Emak mengangguk."Nanti hubungi Kakak kamu ya. Bilang kalau lusa kamu dilamar."
"Iya, Mak." Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan segera tidur.
**
Pagi ini, Maya bangun pagi dengan wajah yang merona. Karena ketika ia membuka mata, ia justru teringat sang duda yang menciumnya semalam. Hatinya tidak karuan, pikirannya pun kacau balau. Pria yang sejak awal ia tolak mati-matian, ternyata kini mampu membuatnya gemetaran. Cinta memang tidak bisa ditebak kapan datang.
Maya segera bangun dan keluar kamar. Ia melihat Emak sedang membongkar-bongkar lemari. Barang berserakan dimana-mana, rumah ini mendadak seperti kapal pecah."Emak ngapain?" Maya duduk di salah satu kursi.
"Beres-beres dong. Besok kan lamaran kamu...rumah kita harus rapi dan bersih,"kata Emak.
Maya tersenyum tipis."Emak enggak jualan?"
Emak menggeleng."Khusus hari ini dan besok, Emak libur jualan. Biar focus beres-beresnya, pokoknya special untuk hari lamaran kamu."
"Iya, mak. Kakak datang enggak, Mak?"
Gerakan Emak terhenti, lalu raut wajahnya berubah."Emak telpon enggak diangkat-angkat."
Maya mengusap punggung Emak."Ya udah, Mak. Mudah-mudahan Kakak telpon balik ya. Atau nanti Maya telpon sendiri aja untuk ngabarin ini."
Emak tersenyum tipis."Iya, May. Kamu mandi sana...terus sarapan. Emak udah masak tuh. Habis itu ke pasar."
"Ngapain ke pasar, Mak?"tanya Maya bingung, kalau jualannya libur, kenapa harus berbelanja di pasar.
"Belanja buat besok, kita kan juga harus siapkan makanan untuk menyambut Reno dan keluarganya, May."
"Ya jangan Maya dong, Mak."
"Terus siapa? Emak punyanya cuma Maya di sini."
Maya menggaruk kepalanya."Terus nanti yang bantu kita masak siapa?"
"Pakde kamu bakalan datang, sebagai wali kamu," kata Emak lagi. “Semua juga datang keluarga-keluarga kita yang lain. Yang bantu masak ya tetangga.”
Maya tersenyum kecut. Ia sudah tidak memiliki Ayah lagi, sehingga Pakde sebagai Kakak laki-laki almarhum Ayahnya lah yang akan menjadi wali,menyambut Reno dan keluarganya."Terus siapa lagi yang datang, Mak?"
"Paklek, bulek kamu juga datang sore ini nanti. Makanya...kamu belanja habis ini,"kata Emak lagi.
Maya mengangguk,"Ya udah Maya mandi deh, Mak." Ia segera mandi dan sarapan, lalu bersiap -siap pergi ke pasar.
"Mak, Maya mau pergi ke pasar. Apa yang mau dibeli?"
Emak menunjuk ke atas meja."Itu udah emak tulis semuanya, duitnya juga di situ."
Maya menoleh ke arah meja dan membaca ulang catatannya."Wah, ada beli buah juga? Emak aja yang beli ya, Mak."
"Loh, kenapa? Kan biasanya juga kamu beli di situ, Maya...dan itu calon suami kamu loh." Emak melayangkan tatapan mengejek pada Maya. Emak tahu, anak perawannya langsung berubah menjadi kalem dan pemalu sejak menjadi calon isteri Reno.
"Maya malu, Mak." Maya sunguh-sungguh belum siap ketemu lagi dengan Reno usai pertemuan mereka semalam.
"Ih jangan pakai malu. Nanti kamu bakalan jadi isterinya. Tiap hari kamu bakalan tidur sama dia. Udah pergi Sono, nanti keburu siang."
"Iya deh, Mak, iya." Maya mengalah. Ia segera pergi ke pasar dengan hati yang tak karuan.
Maya...Maya...kaulah gadis pujaan....
Terdengar suara alunan lagu dangdut yang dipopulerkan oleh Muchsin Alatas di dalam kios Reno. Jupri, Paijo, dan Trisno bergoyang seiring dengan alunan lagunya.
"Tumben dah si Bos nyalain dangdut," kata Trisno.
"Biasanya lagu yang bahasa Inggris gitu kan ya." Paijo pun mengiyakan kata Trisno.
"Bos lagi seneng, soalnya lamarannya diterima sama Mbak Maya," bisik Jupri.
Paijo dan Trisno pun mengangguk-angguk."Oh... Pantes lagunya lagu Maya."
"Permisi." Suara itu membuat semua menatap ke arah sumber suara. Maya datang membawa beberapa kantong plastik yang lumayan besar. Sepertinya cukup banyak dan terlihat berat.
Jantung Reno berdegup kencang."Eh, Maya..."
Maya tersenyum."Halo, Om."
"Pagi-pagi pergi ke sawah, tidak lupa memetik pepaya. Kedatangan kamu ini ...mau beli buah, atau kangen sama saya." goda Reno.
"Cakep, Bos!"teriak Paijo.
Maya tertunduk malu."Mau beli buah untuk keperluan besok, Om...disuruh Emak."
Reno mengangguk-angguk. Besok adalah acara lamaran, tentu di rumah Maya akan menyiapkan beberapa hal untuk menyambut dirinya serta keluarga."Oh begitu...ya udah mau beli apa? Ayo duduk sini."
Maya menggeleng."Di sini aja, Om. Ini pesanan Emak."
Reno tersenyum melihat gelagat Maya. Biasanya gadis itu terlihat ceria dan selalu iseng padanya. Berbeda dengan hari ini, begitu pemalu. Bahkan nada suaranya pun berubah menjadi lembut.
"Trisno, ambilin nih pesanan Maya."
"Iya, Bos." Trisno mengambil catatan dari tangan Reno.
Reno mengerutkan keningnya."Lumayan banyak nih. Bisa bawanya?
"Bisa kok, Om."
"Anterin dong, Bos," goda Jupri.
Reno terkekeh. Lalu datang beberapa pembeli lainnya. Maya harus menyingkir sedikit dan memilih duduk. Reno menghampiri gadis itu."Saya antar ya? Pasti berat banget, ditambah lagi yang sudah kamu bawa itu."
"Jangan, Om...enggak enak dilihat orang,"tolak Maya.
"Ya kan sekalian biar orang tahu juga...kalau kita itu akan segera menikah."
Maya menggeleng "Jangan..."
"Kenapa?" Reno menatap Maya heran.
"Jangan sampai enggak jadi!" sambung Maya lagi.
Reno tertawa, ia mengusap puncak kepala Maya."Iya. Sabar ya...lagi diambilkan."
Maya tertunduk di sebelah Reno. Sementara Reno sesekali menjawab pertanyaan pembeli yang menawar harga buah.
Reno kembali melihat sang calon isteri."Kamu suka warna apa, May?"
"Warna apa aja suka kok, Om"jawab Maya.