"Oh ya? Enggak ada yang lebih spesifik gitu, kamu suka biru, pink atau hijau...atau apa..."
"Biru tosca,"ucap Maya singkat.
"Oke...oke. Kamu kenapa jadi pemalu gitu, sayang, biasanya malu-maluin,"bisik Reno.
Wajah Maya langsung terlihat dari datar."Om, udah pernah ditimpuk buah durian belum?"
Reno tertawa geli."Bercanda, Sayang. Kan supaya kamu mau ngomong aja."
"Kan dari tadi udah ngomong, Om."
"Ya kayak biasanya gitu...kamu selalu ceria."
"Ini juga ceria kok, Om, tapi ceritanya hanya di dalam hati,"kata Maya membuat Reno semakin gemas saja. Andai saat ini mereka hanya berdua, tentu ia sudah melumat bibir gadis itu.
Reno tersenyum, ia mengusap puncak kepala Maya lagi dan melihat Trisno sudah selesai. "udah selesai?"
"Udah, nih, Bos." Trisno menyerahkan buah pesanan Maya.
"Berapa, Bang?"tanya Maya.
"Gratis," kata Reno.
Maya terperangah."Kok bisa gratis?"
"Kan itu buat acara lamaran kan? Acara kita berdua...jadi ya kenapa bayar. Nanti juga ini semua bakalan jadi milik kamu juga." Reno mengerlingkan matanya.
"Meleleh hatiku, Om!" ucap Maya dalam hati. Kakinya terasa tidak bertulang ketika duda itu mengerlingkan matanya. Terlihat sangat seksi dan menggoda.
"Ayo aku antar, naik pick up." Reno menaikkan semua barang belanjaan Maya ke atas mobil. Maya segera naik ke dalam mobil, dan melaju ke arah rumah.
"Kok Reno sama Maya Deket banget," komentar salah satu pembeli di sana yang memerhatikan gerak-gerik Maya dan Reno tadi.
Jupri terkekeh sambil menimbang buah jeruk."Ya kan mereka punya hubungan spesial, Buk."
"Spesial gimana?" selidik Ibu yang ada di sebelahnya.
"Mereka mau tunangan besok, Bu, mau lamaran."
"Apa?" Kedua ibu itu berteriak bersamaan. Wajah mereka terlihat bingung dan merasa aneh, lalu keduanya malah berbisik-bisik.
**
Pagi ini, matahari bersinar dengan cerah. Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan bagi Reno dan Maya. Di rumah Maya, sudah ramai sekali tetangga datang membantu Emak menyiapkan segalanya dalam menyambut sang calon besan dan calon menantu. Beberapa saudara Maya juga turut hadir untuk menerima kabar bahagia ini.
"Maya!" teriak Emak di depan pintu kamar.
"Iya, Mak." Maya sedari tadi tidak boleh kemana-mana. Gadis itu diharuskan di dalam kamar saja. Ia membuka pintu kamar."Kenapa, Mak?"
"Ini kiriman dari Reno, kamu pakai buat ntar sore ya."
Maya menatap sebuah paper bag bewarna hitam dengan tulisan sebuah brand."Apa ini, Mak?"
"Melon."
"Hah? Melon?"
Emak terkekeh."Baju buat acara lamaran, anakku. Ya udah masuk lagi sana."
"Maya pengen bantuin, Mak...masa Maya di dalam terus. Lagi pula ini kan cuma acara lamaran,"kata Maya.
"Enggak boleh. Masuk aja sana."
"Iya, Mak." Maya mengalah dan kembali menjadi tahanan kamar. Sebenarnya ia hati Maya sedang tidak karuan, berkali-kali ia memejamkan mata dan meyakinkan dirinya bahwa ia memang sudah menerima lamaran Reno. Hatinya begitu cepat berubah. Mungkinkah karena Reno melamarnya dengan pakaian rapi dan mengendarai mobil? Maya menggelengkan kepalanya cepat. Ia harus menghilangkan segala kegundahan hatinya agar lamaran hari ini berjalan lancar. Semua sudah disiapkan, semua keluarga
Sementara itu di tempat lain, seorang wanita cantik bak model papan atas berlenggak-lenggok di tepi jalan menuju tilang sayur yang sedang dikerumuni ibu-ibu.
"Ini berapa, Mang?"
"Dua ribu!"
"Ah, mahal bener."
"Ya ampun, Bu, itu udah yang paling murah," balas Tukang sayur dengan wajah mengenaskan. Takut harganya ditawar lebih rendah lagi dan ia tidak mendapat keuntungan apa-apa. Jika menolak, tentulah ia akan kehilangan pelanggan.
"Ya ampun, Ibu, dua ribu aja pakai ditawar," kata Juleha dengan tatapan mengejek.
"Ya biarin, namanya juga kita kagak punya duit." Sang Ibu menatap Juleha dengan kesal. Ingin rasanya ia mengambil terong dan menyumpalkan ke mulut Juleha.
"Kasihan banget enggak punya duit, Bu..." Juleha tertawa sambil memilah-milah sayuran.
"Namanya juga kita orang miskin."
"Eh, Leha...kamu di rumah tetap aja ya dandan menor begitu,"komentar salah satu Ibu yang kemarin memergoki Maya dan Reno di pasar.
"Iya dong, Ibu...wanita itu harus tetap cantik dan modis agar...suami betah di rumah," balas Juleha dengan gaya bicara yang dibuat semanis mungkin seperti Syahrini.
"Lah, kan kamu udah enggak ada suami."
Juleha menatap wajah sang ibu satu persatu."Tapi, saya kan punya pacar, Bu...Ibu."
"Hah? Siapa?"
"Reno,duda ganteng itu."
"Masa sih?enggak salah tuh?" Si Ibu menertawakan Juleha.
Ekspresi Juleha langsung berubah, kesal pada sang Ibu."Ya enggak dong. Malahan sebentar lagi kita akan menikah. Reno kan cinta banget sama saya."
"eh, Leha...jangan halusinasi deh pacaran sama Reno." Si ibu menepuk lengan Juleha. Tetapi, janda cantik itu malah menghapus bekas sentuhan sang Ibu.
"Kenapa gitu?"
"Ya kamu ngayal ya pacaran sama Reno?"
Juleha pun memberikan tatapan sinis."Wah, ibu ini yang halusinasi. Atau jangan-jangan Ibu suka ya sama Reno? Makanya kayak enggak percaya begitu. Astaga, Ibu... Ingat, Bu...ibu kan sudah bersuami. Jangan ngelirik duda ganteng dan keren kayak Reno."
"Bukannya suka sama Reno, suka heran aja sama kamu yang suka menebar berita bohong. Katanya kamu pacaran sama Reno...terus kok Reno mau ngelamar Maya? Wah, kenapa tuh?" Ibu-ibu pun mulai berbisik-bisik.
Juleha langsung panik."Melamar Maya? Maya yang mana?"
"Maya yang anaknya Mak Ijah loh, yang jual Es buah."
Juleha tertawa sambil menutup mulutnya."Ya ampun Ibu berita begitu aja dipercaya. Mana mungkin Reno sama Maya yang masih ingusan begitu."
"Loh buktinya kemaren mereka jalan bareng loh, belanja di pasar bareng terus...habis itu Maya dianterin pulang sama Reno."
"Iya bener, mesra banget lagi kemaren kan,"tambah Si ibu yang satunya
Juleha menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya."Enggak,Bu...enggak mungkin. Reno enggak mungkin melamar wanita kayak gitu. Itu tuh bukan levelnya Reno."
"Kalau enggak percaya, ya udah." Si Ibu terkekeh.
"Iya biarin aja deh, paling nanti dia bakalan nangis darah."
Juleha mempercepat gerakannya, mengumpulkan sayur yang ia beli. "Dihitung, Mang."
"Semua, Mpok?"
"Iya dong, semua. Saya kan banyak duit,"kata Juleha dengan suara keras agar didengar Ibu-ibu dengan jelas, sekaligus pamer dan merendahkan.
Ibu-ibu yang lainnya hanya saling sikut dan tertawa geli. Juleha semakin kesal dan hatinya panas. Ia akan segera membuktikan pada semuanya bahwa ia memiliki hubungan dengan Reno. Tidak mungkin lelaki itu menolaknya karena selama ini sikap Reno padanya begitu baik.
"Lima puluh ribu, Mpok,"kata Penjual sayur.
Juleha menyerahkan selembar lima puluh ribuan."Nih, makasih, Mang." Ia pun segera membuang wajahnya dan pergi kembali ke rumah. Pikirannya berkecamuk, ia tidak rela Reno akan menikah dengan wanita lain. Sudah lama sekali ia menanti-nanti bisa sedekat ini dengan Reno. Dan saat ini mungkin adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan segala isi hatinya pada duda tampan tersebut.