Bab 20

1208 Kata
Sesampai di rumah, Juleha menghempaskan belanjaannya ke atas meja. Ia duduk dengan wajah kesal dan marah. Ia tidak suka dengan berita ini. Maya, isntingnya tentang perempuan yang pernah ia lihat di kios Reno adalah benar. Wanita itu membahayakan posisinya untuk mendapatkan hati Reno. Juleha mendesah kasar, ia segera masuk ke kamar dan melihat ponselnya. Ia memesan gaun paling bagus dari sebuah butik dan akan memakainya di hadapan Reno. Malam pun sudah tiba, rumah Maya sudah ramai oleh keluarga dan juga tetangga. Semua berpakaian rapi dan sopan, sudah duduk rapi menunggu sang calon besan. Maya juga sudah siap dengan kebaya yang dikirimkan Reno, bewarna biru tosca. Sang Kakak, Mirna merias sang adik dengan begitu cantik dan memesona. “Nah, udah selesai, Maya.” Mirna mengakhiri gerakannya. Maya menatap dirinya di depan cermin dengan puas. Kali ini ia pun mengakui bahwa ternyata dirinya bisa cantik juga.”Terima kasih, Kak.” “Sama-sama. Yuk keluar.” Mirna pun menggendong anak perempuanya yang sedari tadi bermain di atas tempat tidur Maya. Mereka berdua segera keluar dari kamar. Sementara itu, Reno juga sudah bersiap menuju rumah Maya mengenakan kemeja batik bewarna senada dengan Maya. Rambutnya sudah ia potong rapi, membuatnya terlihat semakin muda. “Ren, udah siap?” Ibu Reno datang menghampiri sang anak yang tengah berkaca. “Udah, Bu.” “Iya, ayo...semuanya udah nunggu di depan.” Ibu berjalan sambil dipeluk pundaknya oleh Reno. Di luar sana, terdengar suara ricuh. Reno mempercepat langkahnya dan melihat ke arah luar.”Ada apa ini, Om?” tanyanya pada Om Pras, adik Ibunya. “Ini, Ren...ada perempuan marah-marah.” “Ya jelas saya marah-marah karena saya enggak diizinin masuk,”balas Juleha tak terima. Ia memakai gaun yang ia pesan tadi. Tampak cantik dan begitu menggoda semua mata yang menatapnya. “Ya kalau enggak kenal, enggak saya izinkan masuk,” balas Om Pras lagi. “Saya ini pacarnya Reno, Pak.” “Hah?” ibu menoleh ke arah Reno yang sedari tadi hanya bisa menonton perdebatan Om Pras dan Juleha. “Kamu...Maya?” tanya Om Pras memastikan. “Bukan, saya Juleha.” “Om, Om...udah enggak usah ditanggepin. Dia bukan pacar Reno, Om.” Reno mengamit tangan Omnya agar meninggalkan Juleha. “Reno, kenapa kamu begini sih, enggak mengakui saya. Kamu enggak ingat dengan semua hal yang kita lakukan?” kata Juleha tiba-tiba. Ibu memegang dadanya karena kaget.”Ren, kamu ada hubungan dengan perempuan ini? Terus...Maya gimana?” “Ibu, tenang ya. Ibu sama Om masuk aa ja dulu ke mobil. Reno bicara sebentar sama Juleha.” Reno mengantarkan Ibu ke dalam mobil, lalu ia kembali pada Juleha. “Ada apa?” tanya Reno kesal. “kamu mau lamar Maya?” “Iya!” “Kamu diguna-guna!” Reno terkekeh.”Enggak, saya memang cinta sama Maya. Udah ah...jangan buang-buang waktu. Saya sibuk.” “Jadi selama ini kebaikanku kamu anggap apa, Ren?” tatap Juleha dengan mata merah. Reno mengembuskan napas panjang.”Jupri!” Jupri yang menunggu di sebelah mobil pun datang tergopoh-gopoh.”Iya, Bos?” “Ambil semua yang saya kumpulkan semalam. Bawa ke sini,” perintah Reno. “Baik, Bos.” Jupri masuk ke dalam rumah dan mengambil satu buah kardus besar. Diletakkannya di depan Juleha. “Ini semua barang yang kamu kirimkan ke saya. Tidak pernah saya buka. Saya kembalikan.”             “Saya enggak mau. Saya maunya kamu, Reno! Sudah berapa kali kamu tlak cinta saya. Malah milih gadis kampung itu.” Juleha tampak kesal dan tidak terima. “Terserah.” Reno pergi meninggalkan Juleha sendirian. Ia memasuki mobil. Jupri, sebagai supirnya malam ini pun masuk ke bangku kemudi. Tetapi, Juleha tidak bisa tinggal diam. Ia berjalan cepat dan ikut masuk ke dalam mobil bagian tengah.             “Ih, apaan sih ini, tante!” omel Danin, keponakan Reno yang berusia enam belas tahun.             “Saya mau ikut,” kata Juleha.             “Ih enggak boleh, sempit. Sana cari mobil lain aja,” balas Danin tak suka. Juleha tidak membalas, wanita itu hanya diam dan duduk santai di tempatnya. Tidak peduli kalau semua menatap dengan begitu menyeramkan. “Duh, ganggu aja deh. Leha, keluar ya...kami mau pergi,” kata Reno dengan tegas. Juleha menggeleng.”Aku enggak mau, Ren, enggak akan kubiarkan kamu tunangan sama Maya.” Danin menatap Juleha dengan kesal, lalu ia membisiki sesuatu pada Ibu Reno, Neneknya. Kedua wanita itu pun mengangguk dan terkekeh pelan. “Om, tas Danin ketinggalan deh di dalam,” kata Danin sambil mengeringkan matanya. Reno mengerutkan keningnya bingung.”Tas yang mana? Itu tas kamu!” “Ada satu lagi, om, isinya hape Danin.” Gadis itu terus memainkan matanya. “Oh, iya deh, Om ambil sebentar ya.” Reno keluar saja dari dalam mobil meskipun ia tidak tahu maksudnya apa. “Nek, Danin pengen es krim deh,” kata Danin tiba-tiba. “Es krim apa, sih, Danin, ini kan udah malam. Lagian kita mau ke acaranya Om Reno nanti telat,” kata, Rina, Mama Danin yang merupakan Kakak Reno. Danin merengek.”Enggak mau, ah...sekarang aja. Yuk Mang Jupri kita beli es krim di depan jalan besar sana loh.” “Tapi, Bos Reno belum balik, Neng Danin,” kata Jupri. Danin melotot ke arah Jupri.”Jalan aja, mang.” “Siap, Neng.” “Iya, acara Om Reno kan enggak penting banget. Iya, kan, tante?” kata Danin pada Juleha. “Kita tunggu Reno aja,” kata Juleha panik karena Reno tidak ada di dalam mobil. “Kita pergi beli es krim Danin aja dulu, soalnya Danin ini kalau enggak keturutan kemauannya malah nanti kita semua repot. Habis itu kita balik lagi buat jemput Reno,”sahut Ibu Reno. Juleha mengangguk, kemudian hatinya menjadi tenang. Tidak akan mungkin lamaran berjalan karena Ibu Reno ada di dalam mobil bersamanya. Wanita itu tersenyum puas. Setelah lima belas menit, mobil tiba di sebuah supermarket. “Ayo turun, Danin,” kata Ibu Reno. Danin menggeleng.”Males, Nek, kaki Danin sakit.” “Ya udah, biar Mama aja yang turun sama Tante ya beliinnya.” Rina bergerak turun bersama Juleha memasuki supermarket besar itu. “Mau belanja apa, Mbak?” tanya Juleha dengan ramah. Rina menoleh ke sana kemari, lalu ia membuka dompetnya, mengambil sebuah catatan.”Ini lumayan banyak deh.” “Ya udah saya bantu ambilin ya.” Juleha tersenyum puas karena belanjaannya lumayan banyak. Itu artinya mereka akan semakin lama ada di sini. “Oke deh, tolong ya. Eh ini juga di rumah udah habis,” kata Rina sambil sibuk mengambil sebuah sabun mandi. Padahal ia tidak membutuhkan itu. Semua barang dalam catatan itu sudah ia beli semalam. Ia mengambil banyak barang lalu meletakkan ke troli. “Saya ambilkan s**u ya, Mbak, sama yang lainnya ini sekalian.” “Iya, bawa aja catatannya. Mbak mau pilih yang ini dulu ya.” “Iya.”Juleha tersenyum manis, lalu ia menghilang. Rina mengikuti Juleha perlahan, lalu mencari pintu keluar dan segera kabur dari sana. Ia masuk ke dalam mobil dengan lega. “Mang, ayo jalan...cepetan jalan,” teriak Danin gemas. Jupri segera melajukan mobil yang sedari tadi memang sudah ia putar arah. Danin dan semua yanga ada di dalam bertepuk tangan. “Hubungi Om Reno dulu, untuk standby.” Danin terkekeh, ia membayangkan ekpresi Juleha ketika menyadari ia sudah ditipu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN