*** Kapal sudah kembali berlayar, meninggalkan pulau terlarang yang hampir saja menjebak Namira di dalamnya. Kini, oramg-orang yang tadi masuk ke hutan sudah istirhat di tempatnya masing-masing. Sama halnya dengan Namira. Dia baru saja selesai mandi dan sedang mengistirahatkan diri di kamarnya. Tidak peduli pada rambutnya yang basah, Namira merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil membiarkan lamunannya terbang pada kejadian tadi. "Astaga!" pekiknya. Perempuan itu baru saja menyadari bahwa dirinya telah mengakui perasaannya pada Zafi. Untung saja lelaki itu tidak mendengarnya. Sudah pasti lelaki itu akan semakin membencinya jika sampai mendengarnya. Lagi pula jelas ia akan merasa canggung bila sampai Zafi tahu. Namira bergidik ngeri. Dia memejamkan matanya. Setiap orang butuh is

