“Aku enggak mampir, ya?” ujar Wisnu ketika ia menepikan mobil di pekarangan rumah Ralia. “Iya, ini sudah malam. Enggak apa-apa.” “Sampaikan salam buat ayah, ya?” Ralia melepaskan kaitan di sabuk pengaman lantas tersenyum dan tak lupa memberikan anggukan kecil. “Iya, Mas. Nanti, kalau kamu sudah sampai rumah, kabari, ya?” “Iya. Tadi, kamu senang jalan sama aku?” Ralia mengangguk. “Iya, Mas.” “Karena aku atau Adjie? Kamu sebenarnya setuju enggak kalau aku menjodohkan Amel dengan Adjie?” “Mas, aku tahu kamu cemburu. Aku enggak pernah salahkan perasaan itu, tapi Mas aku hanya enggak mau mencampuri urusan itu. Aku bukan masih ada perasaan sama Adjie, tapi aku hanya enggak mau berhubungan sama dia lebih dari sekadar urusan pekerjaan.” Wisnu menarik napas dalam-dalam. “Iya, aku percaya sa

