“Pak Yos selalu bilang kalau kamu adalah sekretarisnya yang cekatan, fokus dan bisa diandalkan, tapi kenapa sekarang ucapannya bertolak belakang, ya?” tanya Adjie dengan matanya yang masih fokus menatap layar monitor.” “Maksud kamu apa, ya?” Adjie berhenti lantas menatap Ralia. “Dari tadi kamu cuma liatin aku terus.” “Dih, siapa yang kaya gitu. Enggak, kok!” Adjie tertawa pelan. “Oh, ya? Oke, mungkin aku yang salah, maaf.” Ralia diam, matanya sibuk melihat buku catatannya yang kosong. Ia malu sudah kedapatan mencuri pandang wajah Adjie sembari berpikir apa harus melakukan apa yang kemarin disimpulkan oleh Wisnu dan Amel. Ya, sejujur-jujurnya Ralia masih berat untuk menjadi perantara cinta antara Wisnu dengan Amel. Bagaimana tidak, hatinya masih saja selalu digelayuti perasaan rindu a

